Kisahku yang Bisa Hamil Meski Jarang Haid

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Moms, kali ini aku mau berbagi pengalamanku yang bisa hamil, meski jarang haid. Sebelumnya, aku mau kasih tahu dulu bahwa aku pertama kali haid saat kelas 5 SD. Namun, sejak pertama kali haid itu hingga seterusnya, siklus haidku enggak rutin sebulan sekali.
Haidku enggak menentu, Moms. Terkadang dua bulan sekali, empat bulan sekali, bahkan bisa enam bulan sekali. Saat usiaku sekitar 20 tahun, bahkan aku sempat enggak haid selama 7 bulan.
Akhirnya, aku memeriksa ke dokter kandungan, takut kalau ada masalah dengan kesehatanku. Kala itu, dokter memintaku untuk di USG tapi enggak ada tindakan. Info dari dokter sih karena masalah hormonal, tapi belum bisa dilakukan tindakan apa-apa karena belum menikah dan belum adan rencanan punya anak.
Tepat sebelum menikah, aku enggak haid selama 2 tahun, Moms. Pasti takut ya, Moms. Ketakutanku dan suami cuma satu, enggak bisa punya anak.
Akhirnya, setelah menikah kami ke dokter kandungan. Kali ini, saat di-USG lewat vagina, ternyata ditemukan kalau sel telurku kecil-kecil dan enggak bisa matang, sehingga aku enggak pernah haid.
Dokter berspekulasi kalau aku ada peningkatan berat badan, dan memang dua tahun terakhir berat badanku selalu naik hingga 17 kilogram. Dari penjelasan dokter, siklus haidku memang tidak sebulan sekali dan itu normal. Ada beberapa orang yang seperti itu, memang dari tubuhnya begitu, enggak masalah.
Selama dua tahun terakhir, aku enggak haid karena sel telurku enggak bisa matang. Faktornya kelebihan berat badan. Saat itu, berat badanku 57 kilogram.
For your information, kelebihan berat badan mengakibatkan penumpukan hormon kesuburan di lemak yang terlalu banyak. Keadaan tersebut justru membuat aku enggak subur, sehingga sel telurku tidak bisa matang dan aku enggak haid.
Kurang lebihnya seperti itu ya, Moms, penjelasan dokter, kalau ada yang salah atau kurang tepat mohon maaf, kejadiannya sudah setahun setengah yang lalu, dan aku bukan dokter jadi kalau kurang paham agak dimaklumi ya, Moms.
Singkatnya, aku disuruh dokter diet, agar siklus haidku kembali seperti semula ke siklus haid awalku yang beberapa bulan sekali. Dalam pikirku, kala itu aku harus haid agar bisa hamil.
Kemudian, dokter meresepkan obat namanya Metformin untuk membantu menurunkan berat badan. Dengan komitmen aku diet ya, Moms. Namun, dietku ini disertai obat dokter.
Kurun waktu tiga bulan, berat badanku turun dari 57 kilogram ke 49 kilogram dan terus turun hingga 47 kilogram. Aku pun langsung haid pertama kali setelah dua tahun lebih tidak haid. Tidak lama aku pun langsung hamil, Moms.
Sekarang umur baby-ku sudah 5 bulan. Setelah melahirkan hingga sekarang aku belum haid lagi. Entah bagaimana ke depannya, karena sekarang aku masih menyusui, jadi berat badan masih 55 kilogram.
Nah, buat Moms dan teman-teman yang punya kondisi tubuh seperti aku, enggak usah takut tak bisa hamil atau sakit tertentu ya, Moms. Periksalah ke dokter agar dokter bisa memberikan solusi yang terbaik. Ingat Moms, haid tidak lancar belum tentu tak bisa hamil ya, Moms.
