Konten dari Pengguna

Manajemen Emosi saat Hadapi Anak Tantrum

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baby saya sudah memasuki usia 14 bulan, perkembangan dan pertumbuhannya juga sangat pesat baik emosional maupun fisiknya. Gigi sampingnya sudah mulai tumbuh 2, samping kanan atas dan 2 samping kiri atas lalu gusinya juga mulai bengkak lagi menandakan gigi berikutnya segera bermunculan.

Dia mulai pintar menunjuk dengan jari telunjuk secara jelas apa yang dia mau, juga menangis kencang saat apa yang di mau tidak dimengerti orang lain atau mamanya, saat keinginannya ditunda dan sebagainya. Kebiasaan ini disebut dengan tantrum. Ini juga termasuk perkembangan emosional anak. Dan wajar, setiap anak dan ibu pernah mengalami fase ini.

Menangis sangat kencang berteriak disertai gerakan badan yang agresif susah diatur di tempat ramai ataupun tidak, dalam waktu yang lumayan lama, pasti melelahkan dan menaikkan emosi Moms atau semua orang yang menenangkannya.

Kadang juga justru Moms akan ikut terbawa suasana emosi, ada yang ikut nangis saking bingung harus bagaimana atau malah balik membentak si Kecil. Lebih miris lagi memukul anaknya agar lekas diam dan menuruti Moms. Namun, seringkali yang didapati saat kita orangtua ikut terbawa emosi adalah anak tambah tidak terkontrol dan makin menjadi.

Di sini, saya pun merasakan hal yang sama kurang lebih. Dan merasa telah menemukan sedikit cara untuk meredam emosi kita saat menghadapi anak tantrum. Kita pasti akan merasa bersalah, kasihan telah memarahi anak apalagi saat melihat kepolosan wajahnya tertidur pulas.

Maka kembalilah kita introspeksi diri bahwa anak belum mengerti apa-apa kecuali hanya main, dan ditemani mamanya, melakukan hal-hal menyenangkan. Dia belum paham mana yang merugikan buat dia dan mana yang bagus untuknya. Anak di bawah 5 tahun pun sama , mereka masih selfish, ingin selalu di-iya-kan semua hal yang ia mau.

Memang tugas kitalah yang harus pandai menganalisa, memahami dan mengerti kondisi masing-masing anak kita. Kitalah yang harus sabar menahan emosi, mendidiknya perlahan tanpa menyakiti fisik dan psikisnya yang akan berdampak buruk kelak saat ia dewasa.

Di sini saya ingin berbagi sedikit saja kebiasaan atau kiat-kiat yang saya lakukan saat anak tantrum. Saya pun sama, masih saja harus terus belajar memahami anak, tapi semoga ini sedikit membantu. Yang saya lakukan saat anak tantrum adalah dengan memeluknya, menepuk nepuk bahu belakangnya memastikan dia merasa aman, terlindungi dan memastikan pada anak bahwa kita siap diandalkan. Sambil ucap "cup-cup sayang, mama minta maaf belum paham apa mau nya dedek"

Gendong dia, bawa ke tempat lain yang suasana nya lebih tenang, sambil ayun ayun, posisi gendongnya kepala anak menyandar di bahu kita menghadap ke belakang. Sambil ditenangkan dengan badan kita bergerak seperti mengayun-ayun perlahan dengan irama teratur.

Perlahan dia akan mulai tenang, lalu alihkan pada mainan atau pemandangan yang baru, tunjuk sesuatu yang baru lalu sedikit kita menceritakan sesuatu padanya maka perlahan dia akan menoleh dan memperhatikan, sambil cium lah dia kapanpun. Menurut saya, menciumnya adalah pelepas penat dan lelah yang sangat mujarab, mengingatkan lagi pada kita bahwa anak kita adalah makhluk lucu menggemaskan yang pantas mendapat ciuman sayang.

Saat mulai tantrum atau menangis biasa lakukanlah ini, menciumnya, cium lagi dan lagi, saya sering merasa lebih baik saat menciumnya, lebih tenang dan senang. Sehingga kita akan secara tidak sadar, telah mengontrol emosi kita sendiri untuk lebih sabar menenangkan anak tantrum. Menghirup aroma bayi, menciumnya, memeluknya, sangat ampuh bagi saya.

Demikian kiat-kiat dari saya semoga sedikit membantu dan menginspirasi. Setiap Moms adalah yang terbaik untuk anaknya.

Semoga bermanfaat.

By: Iput Pujianti

Copyright by Babyologist