Konten dari Pengguna

Melahirkan dengan Operasi Sesar ala Raisa, Begini Persiapannya

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Operasi sesar atau C-Section adalah operasi yang dilakukan untuk melahirkan bayi melalui sayatan di perut dan rahim. Operasi ini sering dikenal dengan seksio sesaria. Meski biasanya hanya dilakukan bagi Moms yang memiliki kendala saat proses persalinan, operasi sesar juga bisa dilakukan untuk ibu yang tidak memiliki kendala saat proses persalinannya. Banyak artis yang memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Salah satunya adalah penyayi Raisa yang baru-baru ini juga melakukan operasi sesar.

Namun, sebetulnya apa sajakah ciri-ciri ibu yang memerlukan operasi sesar? Persiapan apa saja yang harus ibu lakukan? Apakah ibu dengan kondisi normal boleh melakukan proses ini? Sebelum Moms memutuskan untuk melakukan operasi sesar ala Raisa, simak bincang-bincang Babyo dengan dr. Grace Valentine, Sp.OG tentang persiapan operasi sesar, yuk!

Apa ciri-ciri ibu harus dioperasi sesar?

Operasi sesar ini tidak dilakukan pada semua ibu hamil. Hanya beberapa kasus yang membutuhkan operasi sesar demi keselamatan ibu atau bayi. Operasi sesar ini dapat dilakukan secara terencana atau gawat darurat. Beberapa indikasi operasi cesar gawat darurat adalah:

  • Perjalanan persalinan yang lambat atau tidak maju.
  • Gawat janin, kondisi janin dalam stres sehingga denyut jantung semakin cepat atau melambat.
  • Gangguan pada plasenta atau tali pusat yang dapat membahayakan janin.
  • Ukuran bayi yang terlalu besar.

 Beberapa indikasi operasi cesar terencana adalah:

  • Kepala janin tidak masuk panggul
  • Kelainan jantung pada ibu
  • Gangguan plasenta
  • Kelainan letak janin: letak sungsang, letak lintang
  • Kehamilan multiple: kembar, triplet (kembar tiga)
  • Infeksi ibu seperti HIV, herpes genital
  • Kondisi medis ibu seperti tekanan darah tinggi atau diabetes

Persiapan apa saja yang harus dilakukan ibu yang akan melahirkan sesar?

  • Sebelum menjalani operasi sesar, ibu akan diminta untuk melakukan beberapa pemeriksaan tambahan (laboratorium, dan rekam jantung bila perlu) dan pemeriksaan oleh dokter anestesi (dokter bagian pembiusan) untuk memastikan ibu dalam kondisi baik untuk pembiusan dan menjalani operasi nanti.
  • Ibu juga akan diminta untuk berpuasa makan dan minum selama minimal 6 jam sebelum operasi pada operasi sesar elektif (terencana)
  • Perlengkapan dan pakaian ibu dan bayi selama perawatan

Bagaimana prosedur melakukan sesar?

Sebelum operasi dimulai, Anda akan dipasang infus, sebagai jalur memasukkan cairan dan obat selama operasi. Perawat atau dokter akan mencuci perut Anda. Anda juga akan diberikan antiobiotik untuk mencegah infeksi.

Setelah itu, Anda akan dibius (anestesi spinal atau epidural) sehingga tidak merasakan nyeri dari perut hingga kedua tungkai.  Pembiusan umum hanya dilakukan pada kasus tertentu dengan kegawatdaruratan. Kemudian kateter atau selang kecil akan dimasukkan ke saluran kencing Anda sehingga kandung kemih Anda kosong selama operasi. Hal ini dlakukan untuk menurunkan kejadian cedera kandung kemih selama operasi.

Setelah pembiusan dilakukan, dokter Anda akan melakukan sayatan perut bawah, di dekat tulang kemaluan, sepanjang 10-15 cm sesuai perkiraan ukuran bayi. Kemudian bayi Anda akan dilahirkan melalui insisi tersebut. Setelah bayi lahir, plasenta akan dilahirkan melalui sayatan yang sama. Selanjutnya, dokter akan melakukan penjahitan untuk menutup sayatan tadi.

Jika ibu dan bayi dalam kandungan dalam keadaan baik, apakah boleh melahirkan sesar?

Umumnya operasi sesar dilakukan berdasarkan atas adanya indikasi.

Jika tidak ditemukan adanya indikasi baik dari ibu ataupun dari bayi untuk operasi sesar, dan pasien yang meminta dilakukan operasi tanpa adanya indikasi, kondisi ini disebut cesarean section by maternal request. Sebelum hal ini dilakukan, idealnya ibu wajib diberitahukan mengenai risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada operasi sesar. Bila pasien sudah mengerti dan menerima risiko dan kemungkinan komplikasi tersebut, dan masih ingin menjalani operasi, tentunya operasi sesar dapat dilakukan.

Beberapa Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada operasi cesar:

  • Infeksi pada luka operasi
  • Perdarahan
  • Sumbatan pembuluh darah pada tungkai, organ kandungan atau paru-paru
  • Cedera pada ibu atau janin
  • Risiko pembiusan seperti mual, muntah atau nyeri kepala
  • Risiko pada kehamilan selanjutnya

Bila akan hamil kembali, wanita dengan bekas cesar memiliki risiko robekan pada luka operasi (rupture uterus). Jarak antar kehamilan minimal 2 tahun. Selain itu risiko gangguan pada plasenta seperti plasenta previa atau gangguan implantasi plasenta seperti plasenta akreta meningkat. Pada kasus plasenta akreta, umumnya berujung pada perdarahan hebat hingga kemungkinan operasi angkat rahim yang meningkat.

Lalu, bagaimana proses pemulihan setelah operasi sesar? Benarkah perawatan dan pemulihan setelah operasi sesar lebih lama dari pada melahirkan normal? Temukan jawabannya di artikel Babyo selanjutnya!

Semoga bermanfaat.

By: Babyologist

Narasumber: dr. Grace Valentine, Sp.OG.

Copyright by Babyologist