Konten dari Pengguna

Mengajarkan Anak Agar Tidak Menggigit Puting

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengajarkan Anak Agar Tidak Menggigit Puting

Hi moms, saya mau menceritakan pengalaman saya mengajarkan anak saya untuk tidak menggigit puting. Direct Breastfeeding (DBF) salah satu aktivitas favorite saya semenjak menjadi busui. Disini saya bisa membangun bonding dengan Naya, selain itu bisa membuat saya lebih rilex. Namun pada saat usia Naya anak saya 11 bulan, dengan gigi susu nya yang sudah tumbuh 6, drama DBF berdarah pun dimulai. Yap! Apalagi kalau bukan menggigit puting ibunya saat menyusu. Bukan lagi menggigit bahkan Naya sering banget menggigit sambil ditarik. Rasanya? Uh.. Jangan ditanya yaa mom, sakit pasti. Bukan lagi luka atau lecet, puting saya rasanya sudah hampir terbelah, darah netes bahkan sampai tembus ke bra. Sambil tetap di obati luka pada puting, saya tetap tidak kapok menyusui Naya. Sembuh sebentar, digigit lagi. Banyak sekali yang menyarankan, untuk pencet hidung ketika mulai mengigit.

Dipencet Hidungnya? Apakah berhasil? Kemudian cara tersebut saya coba. Dan hasilnya? Naya malah mengganggap itu sebagai candaan, dia malah ketawa-ketawa ketika dipencet hidungnya. Kemudian drama gigit menggigit berdarah pun terulang lagi.

Akhirnya saya coba cara saya sendiri, lebih kepada afirmasi, mengajarkan sebab akibat, dan komitmen. Berat ya mom kayaknya? Bayi 11 bulan apakah ngerti? Saya pun awalnya ragu, tapi ternyata anak kita lebih pintar dari apa yang kita lihat selama ini. Afirmasi saya lakukan ketika sedang menyusui dan ketika Naya akan tidur. Dengan kata kata positif.

"Naya pintar, Naya Baik.. Naya sayang sama ibu.. Naya sayang sama nenen, nenennya disayang yaa..."

"Kalo digigit, nanti ibu sakit. Nanti Naya nenen sama siapa?"

Ketika Naya sudah mulai menunjukkan gelagat untuk menggigit, ingatkan "No gigit yaa sayang, nenen nya disayang. Naya lupa ya?"

Biasanya dengan afirmasi saja masih belum berhasil mom, buat sedikit efek jera dengan mengajarkan sebab akibat dan komitmen. Ingat, jangan pake marah ya mom. Ketika anak menggigit lagi, biasanya saya mencoba menahan sakit dengan sebisa mungkin tidak berteriak atau marah. Kemudian saya bilang "Ibu ga suka, ibu sakit kalo digigit, sakit". Lalu saya pergi, turun dari kasur dan keluar kamar, sembunyi dibalik pintu.

Reaksi naya? Dia awalnya menangis mencari saya, kemudian saya peluk dan dia menarik narik baju saya untuk minta dilanjutkan sesi menyusuinya. Kemudian saya membuat janji atau komitmen dengannya. Yap, dengan bayi 11 bulan.

"Naya mau nenen lagi? Ibu kasih nenennya tapi ga gigit ya? Gak gigit oke?" (sambil saya menggeleng-gelengkan kepala), dan dia ikut menggeleng2 kan kepalanya, saya anggap ini suatu persetujuan.

Sesi menyusui pun dilanjutkan, masih menggigit? Ya! Terkadang. Apabila anak masih menggigit saya lakukan lagi drama keluar kamar. Disini saya mengajarkan bahwa saya tidak suka dia menggigit puting saya, jika dia menggigit saya akan pergi dan tidak memberinya susu.

Terkadang dia menangis tapi seringkali juga dia tidak menangis, dia turun dari kasur mencari saya sambil tertawa dan memeluk saya. Ketika dia sudah mulai menarik narik baju untuk meminta nenen, saya tawarkan komitmen lagi.

"Naya lupa ya tadi gigit nenen?, Naya mau nenen lagi? Ibu kasih tapi ga gigit ya? kan sakit. Jangan lupa ya, ga gigit. Ibu ga suka, kalo naya gigit ibu sakit. Naya kan pintar, baik, nenennya disayang ya"

Kemudian sesi menyusui dilanjutkan lagi, sambil terus afirmasi sepanjang menyusui dan biasanya Naya tidak menggigit puting.

Cara tersebut ternyata berhasil saya terapkan kepada naya. Hanya beberapa minggu saja drama DBF berdarah bisa saya lewati, dan di usia Naya menginjak 13 bulan dia sudah tidak pernah lagi menggigit puting. Kalaupun gemas saat menyusu dia sebisa mungkin menahan untuk tidak menggigit atau menggigit dengan bibirnya bukan dengan giginya. Kemudian dia bilang "Pa... Upa...(Lupa)" sambil geleng-geleng kepala.

Benar kan mom bayi kita walaupun kelihatannya belum mengerti tetapi mereka pintar dan bisa loh mom diajarkan, walaupun memang butuh kesabaran dan harus berkali-kali.