Konten dari Pengguna

Menghadapi Perbedaan Pola Asuh Zaman Dulu dan Sekarang

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi Moms yang memutuskan untuk tetap tinggal bersama orang tua setelah punya anak, baik itu orang tua sendiri maupun mertua, sering kali dapat memicu masalah kecil karena perbedaan pendapat tentang pola asuh anak. Ada beberapa hal yang harus dipahami dan dilakukan untuk meminimalisir terjadinya masalah.

Sadari Bahwa Tidak Ada Pola Asuh yang Sempurna

Tidak ada orang tua yang tidak sayang sama anak. Apalagi nenek dan kakek. Yang katanya kasih sayang nenek ke cucunya bisa melebihi kasih sayang Moms ke anak. Sesuatu yang dijalankan oleh manusia pasti akan terus berkembang, tidak akan pernah ada final selama kehidupan masih berlangsung. Begitu pun dengan pengasuhan yang dijalankan oleh manusia yang pasti bervariasi karena perubahan dan perbedaan zaman, tempat, lingkungan, kondisi dan situasi masing-masing individu yang terlibat di dalamnya.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

  • Libatkan dan Rangkul Orang Tua Sebagai PartnerJangan sampai menganggap orang tua sebagai rival. Bila itu terjadi, dari situlah biasanya masalah bermula. Justru sebaliknya, jadikan mereka partner kita dalam mendidik anak. Jika ada perbedaan cara, gak perlu sampai menjauhi orang tua atau menjauhkan anak dari kakek neneknya.Balik lagi ke yang tadi, bahwa pada dasarnya tidak ada pola asuh yang sempurna. Setiap cara ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tugas kita sebagai orang tua adalah melihat lebih dekat pada keadaan dan kebutuhan tiap anak dan menerapkan cara yang sesuai dengannya untuk mendapatkan manfaat dari cara tersebut sambil meminimalisir efek samping dari cara yang kita pilih.Juga jadikan kehadiran orang tua di tengah-tengah kita sebagai penyeimbang atas kekurangan cara kita. Misalkan cara kita mendidik anak mengikuti perkembangan zaman sekarang, tapi kurang pas untuk kondisi anak kita. Bisa saja kita mengikuti cara orang kita dahulu ketika mendidik kita. Karena biasanya orang tua paling senang kalau ucapannya didengar, nasihatnya dituruti dan sarannya diikuti. Tidak ada salahnya kok.Ada hal positif yang bisa jadi pembelajaran untuk anak juga. Karena perbedaan cara ini sebenarnya bisa menstimulasi aspek sosial anak. Anak akan memahami adanya perbedaan perilaku pada tiap individu dan bagaimana bersikap pada masing-masing individu tersebut. Anak juga belajar bagaimana cara bekerja sama dengan orang yang berbeda dengan kita.
  • Membangun Ikatan yang Kuat dengan AnakInilah yang paling penting. Karena mau menerapkan pola asuh seperti apa pun, yang terpenting adalah ikatan yang kuat antara kita dengan anak. Ini bisa terwujud jika anak merasakan cukup kasih sayang dan rasa aman dari kita. Dengan begitu, kita akan menjadi pihak yang dominan dalam hati anak. Sehingga anak cenderung akan memilih mengikuti ajaran kita dibandingkan orang lain jika ia menemukan perbedaan.
  • KonsistenYang terakhir dan tak kalah penting adalah konsisten. Ini adalah kuncinya. Sebagai orang tua, kita harus tetap konsisten menjalankan pola asuh yang kita yakini baik. Jika tidak, mungkin akan membuka celah bagi anak yang ingin lebih dekat pada kakek neneknya karena cenderung selalu mau menuruti apa yang cucunya inginkan, yang kadang ditolak oleh ayah ibunya.Karena yang namanya pola harus diterapkan secara terus-menerus untuk bisa mendapatkan hasil yang diinginkan. Jika orang tua sudah konsisten, kakek neneknya tidak akan bisa dengan mudah mengubah aturan yang sudah kita bangun untuk kebaikan anak. Jika nanti sudah terlihat hasil yang baik dari kekonsistenan kita sebagai orang tua dalam menerapkan pola asuh yang baik untuk anak, kakek neneknya pun pasti ikut bahagia.

 

Semoga bermanfaat.

By: Ratna Sari Nur Holik

Copyright by Babyologist