Konten dari Pengguna

Menunda Pemberian Obat Penurun Panas pada Anak Setelah Imunisasi

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hai Moms, saya ingin berbagi pengalaman mengenai efek demam atau naiknya suhu badan anak setelah imunisasi. Sebelum anak saya diimunisasi DPT, saya sempat diiming-imingi dengan pemberian imunisasi di rumah sakit dengan vaksin dengan harga yang jauh lebih mahal, dan diklaim tanpa menimbulkan reaksi demam setelahnya. Namun dengan pertimbangan tertentu, saya pun kembali memutuskan untuk melakukan imunisasi DPT di klinik tempat biasa anak saya melakukan imunisasi sebelumnya.

Sekadar informasi, beberapa bulan sebelumnya saya sempat mengikuti sebuah seminar tentang imunisasi dengan seorang dokter anak yang menjadi narasumbernya. Beliau menyatakan bahwa masih ada kesalahpahaman pada sebagian klinik atau puskesmas yang masih memberikan obat penurun panas pada anak setelah imunisasi DPT. Padahal, efek demam ini selama masih dalam tahap normal, merupakan suatu reaksi yang menandakan bahwa vaksin sedang bekerja membentuk sistem kekebalan tubuh.

Informasi yang disampaikan beliau mengenai vaksin dan efek demam ini adalah:

  • Menurunkan efek demam dengan memberikan obat penurun panas justru dapat menurunkan respons kekebalan tubuh yang diharapkan akan muncul setelah imunisasi. Dan ini sifatnya kontradiktif atau merugikan (berdasarkan penelitian ilmiah).
  • Demam akan turun dengan sendirinya dengan cara memberikan ASI yang banyak dan rutin kepada anak.
  • Sejauh ini, demam yang diakibatkan imunisasi ini masih dalam tahap wajar. Bahkan sebagian dilaporkan tidak terjadi demam pada anak atau kalaupun terjadi demam tidak menimbulkan gejala yang berarti dan akan turun ke suhu normal dengan sendirinya.

Berdasarkan ilmu tersebut, saya memutuskan untuk mencoba menunda pemberian obat penurun panas setelah anak saya diberikan imunisasi di klinik, meski diresepkan satu botol parasetamol untuk diminumkan saat anak demam.

Apakah terjadi efek demam pada anak saya setelah imunisasi DPT? Jawabannya iya Moms, anak saya rewel dan menangis kencang sebagai tanda ada yang tidak nyaman pada dirinya. Beberapa metode yang saya lakukan pada saat suhu anak mulai naik dan rewel yaitu:

  1. Sabar dan gendong. Pastikan Moms tidak ikut panik dan cari posisi menggendong yang paling nyaman untuk anak. Tidak masalah jika anak terus menangis, terus ajak komunikasi anak dengan tenang.
  2. Cek suhu anak secara berkala dengan termometer untuk memantau sejauh mana demam terjadi.
  3. Pantau kondisi anak selalu meskipun ia tidur ya Moms.
  4. Ketika suhu badannya hangat, anak akan sedikit lemas dan menyusu tidak sebanyak biasanya, namun pastikan Moms tetap memberi anak ASI agar ia tidak dehidrasi dan jadikan ASI sebagai "obat alami" penurun panas.
  5. Bangunkan anak jika waktunya menyusui, namun selebihnya biarkan ia istirahat.
  6. Tidak masalah jika anak melewatkan waktu mandi, saya pribadi lebih memilih untuk mengusap anak saya dengan handuk basah dan air hangat. Kompres hangat terbaik adalah di bagian lipatan ketiak dan paha.

Poin di atas adalah hal-hal yang saya lakukan saat anak demam ya Moms, sekaligus untuk menunda anak mengonsumsi parasetamol sebagai obat penurun panas. Saat badannya hangat, anak saya cenderung menghabiskan waktunya dengan tidur karena badannya lemas meskipun suhunya sudah turun. Namun keesokan harinya Alhamdulillah sudah kembali normal dan ceria kembali.

Efek demam setelah imunisasi tentu berbeda reaksinya pada masing-masing anak ya Moms. Menunda pemberian obat penurun panas tentu baik karena menghindarkan anak dari pemberian obat yang tidak perlu. Namun kembali lagi, sangat penting juga bagi ibu untuk mengikuti insting apabila merasa cemas atau khawatir pada anak, khususnya jika suhu badan anak melebihi 39 derajat Celcius, atau demam berlangsung lama dan diikuti gejala lainnya. Jika hal ini terjadi, pemberian obat penurun panas atau konsultasi ke dokter mungkin diperlukan.