Konten dari Pengguna

Menyapih Anak yang Sedang Tandem Nursing dengan Adiknya, Susah Ga Ya?

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyapih Anak yang Sedang Tandem Nursing dengan Adiknya, Susah Ga Ya?

22 November 2018 kemarin, usia Mora tepat 2 tahun. Bahagianya saya karena Mora berhasil lulus ASI sampai 2 tahun. Nah berikutnya adalah siap-siap untuk menyapihnya. Sedangkan saat ini Mora Tandem Nursing dengan adiknya yang masih usia jalan 9 bulan saat itu, wah bisa ga ya ini Mora disapih, sedangkan dia bakalan melihat adiknya masih menyusu.

Di bulan November, Desember dan Januari, saya masih membiarkan Mora tetap ASI. Karena kan sampai 2 tahun lebih toh masih dibolehin. Dan jujur pada saat itu saya ga ngoyo sama sekali buat rencana menyapihnya. Padahal Mama saya tiap menelpon selalu mengingatkan, apakah Mora sudah disapih?

Kemudian di bulan Februari 2019, kami mudik ke Medan karena adik ipar saya mau menikah. Seperti biasanya pada umumnya tiap bertemu saudara, semuanya menyuruh saya untuk menyapih Mora. Lalu mereka memberikan masukan beberapa cara. Untuk metode puting dipoles ini itu, entah kenapa saya kurang sreg, karena logika saya pada saat itu, saya masih menyusui adiknya, khawatir nanti adiknya ikut tersapih juga, kemudian menurut saya itu kurang ampuh, karena Mora akan melihat kenapa hanya dia saja yang diperlakukan begitu, kenapa adiknya engga. Kemungkinan dia tidak akan percaya dan metode tersebut tidak berhasil jadi saya juga tidak tertarik untuk mencobanya. Tapi kemudian adik ipar saya membantu mencarikan daun sambiloto. Tapi kami ragu itu beneran daun sambiloto atau bukan, karena ketika saya tes oles di salah satu puting dan saya susui Mora, tidak ngaruh, Mora tetap saja asik menyusu.

Tapi apakah juga mungkin karena saya ga benar-benar mengolesnya, daunnya hanya dibejek-bejek lalu dioles ke puting. Kemudian ada saudara yang menyarankan untuk didoakan. Saya sudah sering dengar metode ini dari beberapa orang tua, dan awal ya saya ga percaya sama metode tersebut, it's such kind of too good to be true bagi saya. Tapi karena saya menghargai saran dari para orang tua tsb, saya iyakan saja dan minta diagendakan ke tempat tersebut.

Sebelum sampai di hari H, jadwal saya pulang ke rumah Mama saya dari rumah Mertua, ketika lagi di rumah Mama, saya minta dipanggilkan saudara kami yang pintar memijat. Ketika saya lagi dipijat, Mora datang minta nyusu, lalu saudara saya bertanya usia Mora, lalu saya jawab iya nih mau disapih. Lalu mama saya berkata supaya disapih dengan saudara saya saja, ternyata saudara saya juga bisa menyapih dengan metode doa tersebut.

Lalu kami agenda kan besok pagi, saya menyiapkan nasi dan telur rebus. Keesokan paginya saudara saya datang lalu membacakan doa pada nasi tersebut, kemudian memegang kepala Mora dan mendoakannya juga. Setelah itu dia berkata nasi tsb hanya boleh dimakan oleh Mora. Setelah Mora diberi makan nasi tsb, beberapa jam kemudian dia minta untuk menyusu, dan saya jawab, Abang udah ga nen lagi, udah besar, yang nenen itu adik-adik. Ajaib, dia langsung pergi main lagi, padahal biasanya jika dia sudah minta untuk nenen, maka harus langsung dinenenin, kalau ga saya ditarik-tarik atau dia nangis meraung.

Lalu 1 jam kemudian, Mora datang lagi meminta untuk nenen, saya jawab kembali seperti di atas, dan dia pergi main lagi. Begitu terus berulang sampai malam jam 10-11 an, dan bagi saya itu hal yang mustahil sebelumnya. Di malam hari dia semakin gelisah, dan kesalahan saya waktu itu saya tidak ada persiapan apa-apa, tidak ada bawa botol susu, kompeng dan selimut kesayangannya. Waktu itu coba dibuatkan susu digelas dan dia tidak mau. Saya coba tenangkan Mora dengan mengatakan kalimat yang tadi. Mora yang sudah semakin gelisah, mencari selimut kesayangannya yang biasanya dia pakai diisap-isap diujung selimutnya. Nah, selimutnya itu tidak saya bawa, saya tinggal di rumah Opungnya, mertua saya. Sedangkan kami sedang menginap di rumah mama saya. Lalu saya tetap keukeuh tidak mau ngasih nenen. Mora mulai nangis-nangis dan saya kuatkan hati untuk tega. Dia nangis marah sampai meraung-raung dan lompat ke saya dan papanya. Kemudian ga lama dia tertidur karena ngantuk dan capek nangis. Lalu di jam 3 an dia terbangun dan minta nenen lagi, kembali menangis lagi, saya mulai ga tega, lalu saya ijin ke suami untuk nenenin Mora. Jadinyalah saat itu saya nenen in sampai dia tidur kembali.

Keesokan paginya ketika dia minta nenen lagi, saya coba ga kasih lagi, saya jawab dengan kalimat yang sama. Dan Ajaib, dia masih ga maksa, dia main lagi. Lalu kami kembali ke rumah Mertua saya, dan proses menyapih masih berjalan. Tiap dia minta nenen ga saya kasih. Lalu sore harinya, tidak sengaja, tangan Mora terjepit pintu dibuat saudaranya, otomatis jiwa keibuan saya saat itu hanya memikirkan Mora yang sedang menahan rasa sakit, lalu saya susuin dia untuk menenangkannya, akhirnya buyarlah proses menyapih tersebut sampai kami kembali ke Jakarta jadinya Mora kembali menyusu seperti biasa. Lalu saya kembali tidak terlalu memikirkan untuk menyapih Mora. Saya waktu itu berpikir, ya sudahlah Mora disapihnya nanti barengan sama adiknya saja. Dan itu nanti, akhir Februari 2020.

Tapi sekitar bulan Mei-Juni kemarin, kedua kalinya puting saya luka karena tidak sengaja digigit oleh Mora & Clarissa. Dan saya harus pumping dulu sementara untuk payudara yang putingnya terluka agar segera sembuh, karena jika tetap disusuin, lukanya akan tetap menganga lebar.

Nah entah bagaimana kemudian saya yakin sendiri dan siap untuk menyapih Mora. Sebelumnya setelah balik dari Medan, sesekali saya sering berkomunikasi dengan Mora, mengatakan kepadanya bahwa dia sudah besar, besok berhenti nenen ya, kalau sudah besar minumnya susu yang di botol. Lalu malam harinya ketika lagi menyusui untuk menidurkan Mora, saya ucapkan lagi bahwa Mora sudah besar, engga nenen lagi, tapi minum susu di botol, mulai besok ga nenen lagi ya. Mora geleng kepala pada saat itu.

Besok paginya, saya mulai tegas tidak memberi ASI pada Mora dan meminta bantuan suami, jika Mora tantrum, tolong bantu gendong dan tenangkan, prosesnya mungkin sekitar seminggu deh kayanya. Begitu saya ucapkan pada suami. Lalu kami bekerja sama, hari pertama yang penuh drama dengan tangisan dan jeritan Mora berhasil dilewati. Setiap Mora nangis dan ngamuk minta nenen, saya keukeuh ga ngasih, dan papanya bantu tenangin dia dengan menggendongnya, mengalihkan perhatiannya dengan mengajak main ke bawah dan jajan makanan. Pokoknya dihindarkan dulu dari saya beberapa menit sampai dia tenang.

Lalu di hari ke-2 juga berhasil kami lewati. Hari pertama dan kedua tsb kebetulan di weekend, sehingga papanya ada di rumah dan bisa membantu kami. Kemudian di hari ke-3, sudah tidak ada drama apa pun, saya heran dan takjub. Mora ga ada minta nenen lagi, sikapnya juga biasa saja seperti tidak ada apa-apa, dia makan dan minum biasa saja. Sungguh saya takjub. Dan ini adalah proses menyapih tercepat menurut saya, hanya 2 hari saja. Sampai sekarang sudah 3 bulan lebih Mora disapih. Pernah sesekali dia lagi bad mood dan minta nenen karena melihat adiknya nenen, dan saya langsung jawab, Abang sudah besar, sudah sekolah, ga nenen lagi, minum susu botol seperti teman yang lain ya. Dan dia pun diam tidak memaksa.

Sejak Mora disapih, Clarissa bahagia sekali tiap nenen karena tidak perlu rebutan lagi sama Abangnya.