Menyekolahkan Anak di Usia 2 Tahun, Perlukah?

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menyekolahkan Anak di Usia 2 Tahun, Perlukah?
Di Era modern seperti sekarang, sudah banyak sekali sekolah yang menawarkan program “Pre-school” atau sekolah dini. Aktivitas dan fasilitasnya pun beragam. Mulai dari colouring, painting, dance, music, gym bahkan cooking class pun mereka sediakan demi menunjang motorik anak.
Saya termasuk salah satu dari sekian banyak Moms yang menyekolahkan anak di usia 2 tahun. Hingga kini sudah berjalan 8 bulan. Perkembangan anak saya pun begitu pesat. Dari pertama kali masuk dia belum bisa berbicara banyak, hanya sepatah-dua patah kata saja yang dia paham. Seiring berjalannya waktu, dia semakin komunikatif, kosa kata yang dia pahami mulai beragam, bahkan sudah bisa merangkai kata hanya dalam waktu 2-3 bulan bersekolah. Belum lagi perkembangan motoriknya, dia sudah mampu berjalan seimbang tanpa bantuan siapapun di atas balance beam.
Beberapa hal positif lain yang saya dapatkan akan kita bahas disini :
1. Membantu Anak Bersosialisasi
Tidak bisa di pungkiri bahwa dunia digital yang kini sudah berkembang sangat pesat akan memiliki dampak tersendiri pula untuk anak kita. Saya sangat aware akan hal ini, maka dari itu agar anak tidak terlalu banyak terpaku pada gadget, TV dan media elektronik lainnya, saya sekolahkan dia sehingga lebih banyak bersosialisasi dengan anak sebaya dan memahami bahwa dunianya bukan hanya sebatas gadget, tapi banyak sekali teman-teman yang bisa diajak bermain dan belajar bersama, tentu saja dalam pengawasan orang dewasa.
2. Membantu Memperlancar Anak Berbicara
Sudah saya bahas sedikit di atas bahwa anak saya mulai lancar berbicara ketika dia bersekolah. Para guru di sekolahnya sangat aware akan hal ini, mereka sangat persuasif untuk membantu anak mau mengikuti apa yang mereka ucapkan. Saat tiba disekolah, anak saya disapa dengan penuh semangat, diajarkan untuk dapat menjawab apa yang gurunya tanya, sehingga anak saya terbiasa dan nyaman akan hal ini. Lama-kelamaan dia akan dengan sendirinya berbicara 2 arah. Bukan berarti saya tidak ajarkan berbicara dirumah ya Moms, tapi metode yang sekolah ajarkan kepada anak sungguh sangat berbeda dengan apa yang saya praktekan. Dari merekalah saya belajar banyak juga untuk bisa mengajak anak saya bercerita ketika dia pulang sekolah, bermain dirumah dan membaca buku cerita sebelum tidur. Big thanks to para Miss!
3. Mengajarkan Anak agar Terbiasa Bangun Pagi
Apakah disini masi banyak Moms yang membiarkan anaknya bangun siang? Hati-hati bisa jadi kebiasaan loh, Moms. Dari sebelum sekolah, sekitar usia 18 bulan, saya sudah membiasakan anak saya untuk bangun pagi. Saya bangunkan dia di jam yang sama setiap harinya. Awalnya memang terasa sulit, belum lagi dia selalu marah jika dibangunkan. Tapi saya selalu beri pengertian, bahwa bangun pagi itu sehat, dan dia bisa beraktivitas lebih banyak dengan Papa-nya sebelum berangkat kerja. Semakin hari dia semakin terbiasa dengan hal ini, dan sekarang dia bisa bangun dengan sendirinya. Mendisiplinkan anak sedini mungkin itu jauh lebih mudah karena jam tidurnya masi bisa diatur. Hal ini sangat mempermudah kita bersiap-siap sebelum anak pergi sekolah pada umumnya (TK, SD SMP, SMA).
4. Menambah Aktivitas Anak
Sering kali sebagai Ibu kita kebingungan mencari ide memberikan aktivitas untuk mengisi waktu bermain anak agar lebih berkualitas. Apalagi untuk anak yang tidak bisa diam seperti anak saya. Menyiapkan segara peralatan dan bahan yang kadang sangat menyita waktu kita, belum lagi pekerjaan rumah yang menumpuk. Jika Moms merasa demikian, menyekolahkan anak adalah pilihan yang tepat. Karena di sekolah dini, para guru sudah mempersiapkan segudang aktivitas beserta alat dan bahannya sedemikian rupa, agar anak merasa enjoy dan senang beraktivitas bersama. Seperti contoh, sensory play dari jelly, beras, dan beans atau membuat origami pesawat terbang dan painting hasil karya mereka. Atau bahkan membuat donat untuk melatih motorik mereka dengan rolling adonan dan membentuk adonan donat. It was so fun, right?
5. Memberikan “Me-time” untuk Moms
Pernah kah Momsmerasa sangat lelah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah?Hal ini pun saya rasakan, sebagai Ibu Rumah Tangga yang mengurus anak sendiri tanpa bantuan siapapun dari Senin hingga Minggu, saya sangat butuh “Me-time” demi kewarasan saya dalam mengurus anak. 4-6 jam dalam seminggu benar-benar membantu saya untuk me-refresh diri. Moms bisa pergi ke salon, refleksi, belanja ke pasar atau sekedar ngopi-ngopi cantik di kedai kopi favorite. Seketika Moms akan merasa lebih happy untuk betemu kembali dengan si kecil dan melakukan mekerjaan rumah.
Nah, gimana Moms? Sudah siap belum untuk menyekolahkan anak? Jika belum jangan di paksa ya Moms. Ini hanya sharing berdasarkan apa yang menjadi pengalaman saya, dan nilai-nilai positif yang saya petik dari 8 bulan perjalanan Sekolah Dini anak saya. Kembali lagi kepada kemampuan Moms masing-masing baik dari segi waktu, tenaga, diskusi dengan orang terdekat serta keuangan keluarga. Banyak sekali pilihan yang dapat Moms ambil untuk mengisi waktu bermain anak.
