Metode Menyapih Tanpa Merusak Bonding

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika anak sudah memasuki usia 2 tahun, pada umumnya para ibu sibuk mencari cara untuk menyapih. Meng-ASI-hi adalah ungkapan cinta terindah dari ibu untuk anak. Karena dengan Meng-ASI-hi, bonding antara ibu dan anak akan terbentuk kuat. Namun di kala momen terindah itu, sudah terjalin dan berjalan setiap harinya, suatu ketika harus terhenti karena semua ada waktunya.
Ketika waktu menyapih datang, banyak anak yang belum bisa menerima keputusan itu, karena semua butuh proses pembiasaan. Seperti biasanya anak akan tertidur dengan mudah saat menyusu langsung dengan ibunya (direct breastfeeding), maka ketika disapih tentunya akan membuatnya merasa kehilangan sehingga membuat dirinya sulit untuk tertidur.
Banyak juga anak yang menjadi gelisah dan akhirnya menjadi rewel sehingga mambuat proses menyapih pun akan penuh drama. Menyapih juga banyak menguras emosi para ibu, pasti muncul perasaan sedih saat menyapih sehingga banyak juga para ibu yang ingin menyelesaikan proses menyapih dengan cepat akhirnya mengikuti metode orang tua kita jaman dulu, yaitu dengan menempelkan sesuatu yang pait atau pedas pada payudara sehingga anak menolak untuk menyusu. Sebenarnya cara metode seperti itu sangat tidak dianjurkan karena sama saja seperti membohongi anak dan merusak momen terindah yang selama ini sudah terjalin antara ibu dan anak.
Untuk itu, saya mau share sedikit tentang bagaimana menyapih dengan cinta. Dan ini berdasarkan dari pengalaman pribadi saya sendiri, dan telah berhasil saya lakukan tanpa harus penuh drama.
Apa yang perlu dilakukan agar proses menyapih berjalan lancar dan berakhir dengan indah?
Ketika proses menyapih akan dilakukan, sebaiknya Moms harus mempersiapkan diri dengan cara:
1. Kondisi Moms dan anak harus dalam keadaan sehat
Tidak disarankan menyapih dalam keadaan sakit karena akan memperburuk keadaan pastinya, so harus dilakukan ketika Moms dan anak Moms sehat.
2. Keadaan anak sudah siap disapih
Tanda anak siap disapih biasanya mulai terlihat dari anak hanya main-main saat disusui, yang artinya hanya ingin nempel/ngempeng dan sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin nyusu. Hal ini menandakan sudah cukup umur untuk disapih.
3. Kesiapan mental Moms dan konsistensi
Ketika menyapih kondisi, mental Moms harus disiapkan, karena kita dituntut untuk konsisten. Jika tidak, maka proses menyapih tidak akan berhasil. Misalnya hari pertama berhasil menyapih, tetapi hari ke-2 anak rewel lalu Moms memberikannya ASI lagi, sebaiknya hal sepertinya ini dihindari dan Moms harus konsisten.
4. Ciptakan Bonding time dengan cara lain
Bonding time dengan anak harus tetap terjalin jadi anak merasa tidak ditinggalkan atau diabaikan oleh ibunya. Bonding time untuk mengganti proses menyusu bisa dilakukan dengan kegiatan lain seperti membacakan buku cerita, menyanyikan lagu sebelum si Kecil tidur atau memijat badan si Kecil dengan minyak telon. Hal ini dilakukan agar kelekatan antara Moms dan si Kecil tetap terjalin, jadi Moms tidak perlu takut hubungan dengan si Kecil menjadi jauh dan rusak.
5. Lakukan sounding secara berkala
Sounding ini efektif untuk memberikan sugesti terhadap anak, bisa dilakukan 5 menit sebelum anak tidur. Contoh real beberapa bulan sebelum menyapih, saya terus sounding si Kecil dengan mengucapkan: " Na kamu sudah mau umur 2 tahun, susunya gak dari mami lagi yah nanti kamu bisa minum air putih atau susu dari gelas ya.." atau bisa diganti dengan kata-kata lain yang sesuai dengan Moms.
Sounding setiap anak berbeda ya Moms, jadi jika belum berhasil lakukan terus ya sampai bisa dan jangan menyerah. Metode ini efektif dan ampuh untuk saya dan alhasil menyapih si Kecil pun no drama serta berjalan lancar.
Semoga bermanfaat.
By: Anastasia Fransiska
Copyright by Babyologist
