Konten dari Pengguna

MPASI Pertama Penuh Drama

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

MPASI Pertama Penuh Drama

Menjelang usia 6 bulan, bayiku akan belajar hal baru yaitu makan. Tetapi bukan hanya bayi, akupun juga belajar untuk menyiapkan makanan, bersabar saat menyuapi, dan berkreasi menu agar anakku mau makan.

Sebelum mulai MPASI, yang kupikirkan adalah anakku pasti bakal suka makan. Aku berkali kali melihat dia antusias ketika kutunjukkan berbagai makanan, hendak meraih dan memakannya. Juga tampak ikut mengecapkan lidah jika melihat aku makan. Segala persiapan: piring, sendok, talenan, panci, pisau khusus, alat masak, saringan, sendok takar, dan juga makanan bayi instan terfortifikasi sudah kupersiapkan.

Hari H pun tiba.

Sesuai saran Dokter Spesialis Anak yang menangani anakku, baby B disarankan menu buah di 2 minggu pertama nya lalu dilanjutkan bertahap menjadi menu 4 bintang.

Jadwal makan pun sudah aku atur dan persiapkan. Aku tulis dan tempel di tembok sehingga suamikupun bisa membaca dan tau jadwal baby B.

Pertama kali makan buah langsung menunjukkan ekspresi tidak suka. Menangis nangis dan berteriak ketika aku mau menyodorkan sendok.

Esoknya tetap seperti itu. Berbagai macam buah kuberikan pisang, apel, jeruk, anggur, kiwi, dll. Hanya saja buah dengan rasa asam yang ia mau. Itupun tidak banyak yang ia makan. Hingga aku mengambil kesimpulan. Oh mungkin anakku lagi tumbuh gigi, jadi tidak nyaman makannya. Kulihat memang gusi bawahnya bengkak dan ada sedikit titik putih.

Akhirnya aku mencoba menyuapinya dengan tanganku. Kali ini aku membuat bubur beras merah. Hap. Lahap jika dia makan tanpa sendok. Tapi aku harus rela tanganku beberapa kali digigitnya.

Seminggu pertama makan dengan sendok penuh tangisan. Seminggu kedua makan dengan tangan penuh gigitan. Akhirnya aku mulai menyiapkan menu 4 bintang untuknya.

Tapi kusuapi dengan tanganku pun juga tidak mau. Apalagi dengan sendok. Tangisnya makin kencang ditambah teriakannya. Stress. Itulah yang kurasakan. Sampai akhirnya aku memutus idealisku. Baiklah, anakku boleh makan bubur instan terfortifikasi. Dan dia makan dengan lahap. Menggunakan sendok pun mau.

Beberapa hari kemudian aku mulai berkreasi menu. Memang terkadang ada beberapa menu yang ditolaknya, ada yang dimakan sedikit, ada yang habis. Ternyata baby B tidak doyan jika menunya ada nasi. Hanya mau kentang. Juga lebih suka hati ayam daripada daging ayam. Makanan asam juga jadi favoritnya.

Akhirnya dari pengalamanku memberi MPASI ini aku bisa menarik kesimpulan:

1. Jangan stress saat anak tidak mau makan. This too will pass. Ada masanya anakku enggak nafsu makan, mood jelek. Dan ada masanya dia jadi sangat lahap makan maupun minum susunya. Dan waktu makan setiap sesi hanya 30 menit. Ingat, hanya 30 menit dan beresi makanan si kecil. Selesai atau tidak selesai.

2. Jangan terpaku harus makanan home made. Awalnya idealis inilah yang membuatku stress juga. Ternyata makanan instan terfortifikasi tidak buruk juga. Malah sudah diberikan tambahan zat besi. Karena bisa jadi menu home made kita minim zat besi.

3. Jangan paksa anak jika tidak mau makan. Go with the flow. Dia mau pakai sendok oke, minta disuapi pakai tangan kita oke. Buat suasana makan nyaman. Belakangan baby B sangat suka sesi makan sambil bernyanyi. Moodnya akan cepat membaik.

4. Pelajari dan ikuti menu makanan kesukaannya. Berkreasilah. Dan menurutku, jika bisa kita cicipi makanannya. Biasanya jika kita sebagai dewasa merasa makanan itu enak, baby B juga suka. Dulu aku berpikir membuat makanan bayi itu mudah. Apa aja yang ada di campur dan di haluskan. Pernah aku membuat campuran sayur yang gak enak. Benar saja baby B gak mau memakannya.