Konten dari Pengguna

My Kid, My Rules

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

My Kid, My Rules

Berbicara tentang pola asuh seringkali menjadi permasalahan antara Ibu dan orang tua/mertua,dan kondisi inipun saya juga mengalami. Namun, bagaimana saya bisa survive dan berpegang pada pendirian saya ditengah segala intervensi dari orangtua/mertua? Ada beberapa hal yang saya lakukan, yaitu:

1. Meminta dukungan dan kerjasama suami 

Suami adalah support system pertama dan menjadi garda terdepan apabila intervensi mulai berdatangan, terutama dari keluarga. Suami harus mampu bekerja sama untuk bisa satu visi dan misi tentang pola pengasuhan anak. Bicarakan dengan suami, pola asuh seperti apa yang ingin kita terapkan. Jangan sampai suami mencari sumber referensi lain yang kurang up-to-date misalnya Ibu. Apalagi banyak Nenek yang tidak mau mengikuti perkembangan ilmu parenting, karena pola asuh jaman dulu tidak cocok lagi untuk diterapkan pada anak yang lahir di era ini. 

Kalau saya, suami sepenuhnya mendukung tentang pola asuh yang saya pilih, namun harus diberi pengertian dan informasi agar visi dan misi dalam mengasuh anak tetap sejalan. 

2. Memperbanyak ilmu parenting 

Dewasa ini banyak sekali ilmu parenting yang bisa kita dapatkan baik melalui media sosial, buku, maupun dari rekan kerja, teman, dokter anak dan lain-lain. Apalagi sekarang ilmu parenting sudah jauh lebih berkembang dan lebih cocok diterapkan untuk anak zaman now yang juga telah mengalami perkembangan baik secara psikologis, sosial, maupun psikisnya. 

3. Berani menyampaikan pendapat 

Berani menyampaikan pendapat akan membuat kita lebih dihargai tentu saja dengan tetap menjaga kesopanan. Dan hal ini dapat dilakukan terhadap orangtua/mertua yang kerap kali bermasalah dengan anak/menantunya terkait dengan pola asuh, perawatan, dan pendidikan anak. Banyak orangtua/mertua yang tidak open-minded sehingga pada akhirnya terkesan merendahkan dan menganggap remeh new moms (ps: ini sudah saya alami sendiri sehingga membuat saya tidak nyaman dengan sikap mertua saya T_T)

4. Mensugesti diri bahwa sumber kebahagiaan tidak selalu berasal dari orang lain

Ini salah satu hal yang penting. Seringkali kita terlalu memikirkan ucapan dan perbuatan orang lain sehingga membuat kita tidak percaya diri dan kemudian menjadi lupa bahwa kita pun berhak bahagia dengan cara kita sendiri. Jika kita bermasalah dengan orang lain, ada saatnya kita harus let go and free ourselves. Selalu ingat bahwa we don't live to please everyone. Alangkah lebih baik jika kita fokus kepada keluarga kecil kita. 

5. Beri tahu orang tua/mertua tentang pola asuh yang akan diterapkan 

Nah, ini sangat penting, apalagi jika kita adalah new moms. Kita harus memberi tahu tentang pola asuh yang akan kita terapkan sejak awal untuk menghindari konflik yang maha dahsyat hehe...just joking! Selain itu, memberi tahu lebih awal juga akan meningkatkan keberhasilan pola asuh karena baik orangtua/mertua (catatan: yang open-minded) akan lebih bisa menghargai dan kemudian sama-sama menerapkan pola asuh yang kita pilih. I know it's not gonna be easy, but i'm sure it's gonna be. Kuncinya, sabar dan tegas! 

Saya sudah menerapkan hal ini dan diterima oleh orangtua saya, sedangkan mertua ya begitulah hehe the truth is, I really don't care (please ini jangan ditiru) 

7. Memberikan batasan yang jelas sampai dimana orang tua/mertua boleh ikut campur

Hal ini seharusnya sudah sangat bisa dipahami ya tanpa kita memberikan batasan begini begitu karena bagaimanapun orang tua/mertua sudah pernah berada diposisi kita. Namun, realita memang tidak seindah angan-angan. Jadi demi kewarasan bersama, kita harus bersikap tegas dalam menerapkan pola asuh anak. 

Lalu, mengapa kita harus menerapkan prinsip "my kid, my rules"?

- orangtua (Ayah dan Ibu) adalah pengasuh terbaik anak

- Jika anak diasuh dengan pola yang berbeda, anak akan merasa bingung akan siapa yang harus anak ikuti dan berdampak pada psikologis anak

- seringkali Kakek Nenek seperti melakukan "penebusan dosa" kepada kita melalui cucu, sehingga terkesan memanjakan dan tentu saja hal ini kurang baik untuk kita dan anak kita

- mencegah anak bersikap tidak menghargai dan menghormati orangtuanya karena dimanjakan Kakek Nenek

- Kemampuan sensorik dan motorik anak akan sulit terasah karena Kakek Nenek cenderung protektif dan pasif sementara pola asuh zaman sekarang cenderung lebih aktif melalui berbagai aktifitas misalnya bermain flashcard, baby gym, dan lain-lain

Menurut Moms bagaimana? Apakah ada yang menerapkan prinsip My Kids My Rules