Konten dari Pengguna

Nada di Usia 6 Bulan, Harus Rawat Inap. Kenapa?

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nada di Usia 6 Bulan, Harus Rawat Inap. Kenapa?

Rabu, 7 Agustus 2019 aku sudah mengagendakan Nada untuk periksa, karena sudah 2 hari demam tak juga turun. Aku khawatir sama Nada. Ini pertama kali dia sakit, demam berhari-hari dan bukan karena imunisasi. Kita sudah mempersiapkan akan periksa pukul 15.00 WIB. Namun takdir berkata lain.

Pagi itu, Nada masih demam, suhunya sampai 38 derajat. Aku masih tak punya firasat apa-apa. Hanya saja hati ini memang tak pernah merasa tenang sejak Nada sakit. Pukul 07.30 suamiku antar Nenek Nada ke stasiun. Baru saja berangkat beberapa menit, tiba-tiba Nada yang masih ada di pangkuanku menggerakkan kaki tangan, kemudian dia menangis. Seolah tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Serentak aku langsung kaget. Ya Allah inikah yg namanya kejang demam?

Teriaklah aku sambil lari ke kamar mbak dan adikku. Mereka mengiyakan kalau memang Nada ini kejang. Nada langsung digendong mbak, akupun telfon suami. Gemetaran seluruh tubuhku, telfon sambil mencoba ganti baju untuk siap-siap ke RS. Selang beberapa menit Nada sudah kembali normal. Cuma sebentar, tapi hati sangat tak tenang. Buru buru ingin ke RS tapi suami tak juga mengangkat telfonku. Akhirnya tersambung!

Sampai di RS, masuk ruang dokter. Dokter bilang belum bisa mendiagnosa apa-apa karena ini kejang pertama kali dan untuk tahu penyebabnya, Nada harus opname. Sontak hati terasa teriris. Ya Allah kenapa seusia Nada yang baru 6 bulan harus merasakan tidur di rumah sakit? Aku merasa gagal jadi ibu. Merasa lalai menjaganya. Ya Allah Nada, maafkan Mamamu Nak.

Sebelum masuk kamar pasien, Nada harus diambil darah dulu. Saat-saat seperti ini begitu berat buatku, menyaksikan anak sendiri seusia ini menikmati jarum suntik. Ya Allah rasanya hati bukan lagi teriris tapi sudah tertumis.

Pukul 10.30 Nada masuk kamar pasien. Dalam hati duh Nad kenapa sepagi ini kita sudah di rumah sakit? seperti tak ada wahana bermain yang lebih asik dan layak kita kunjungi. Sedihnya hatiku. Tertumis. Tapi di depan Nada aku harus tampak jadi manusia paling kuat yang selalu siap sedia melindunginya. Papa Nada pun melanjutkan pekerjaan di kantor yang pagi itu telah ia tinggalkan karena harus mengantar kami.

Kini hanya aku dan Nada di ruang itu. Ya hanya Nada, anak bayi 6 bulan yang sedang kesakitan fisiknya dan aku, wanita 26 tahun yang kesakitan jiwanya karena sedih, khawatir, dan pikiran kemana-mana. Ya Allah lindungilah kami selalu.

Malam Kamis. Semalaman kami tak bisa tidur nyenyak. Nada rewel. Kami paham, sejak lahir baru kali ini Nada rewel. Dia memang bayi yang menyenangkan selama ini, tak banyak menyusahkan orang tua. Ngga rewel sekalipun demam gara-gara imunisasi. Mungkin ini saatnya kami yang mengalah sebagai orang tua. Harus sabar dan lebih kuat dari biasanya.

Suhu badan Nada naik turun. Dokter sudah memberi peringatan jika demam 37.5 Nada harus segera minum obat penurun panas. Otomatis kami harus siap siaga. Semalaman kami tak bisa tidur nyenyak. Sesekali Nada bangun nangis, demam tinggi, panggil perawat, Nada pun diminumi obat. Sontak hati ibu makin gelisah melihat anak bayinya dikerubung orang asing tiap beberapa jam untuk cek ini itu. Aku tau Nak ketidaknyamanan tubuhmu dan hatimu. Sabar ya sayang, kuat. Ini nggak akan lama. Begitulah yang selalu aku bisikkan padanya. Dia pun mencoba menjawab melalui tatapan matanya yang teduh dan seolah bilang, Mama aku lelah.

Di saat menunggu Nada, banyak orang yang menanyakan kabarnya. Sempat ragu untuk bilang Nada kejang. Tapi gimana memang begini keadaannya, hanya saja beberapa di antara mereka ada yang langsung terucap Nada "step"? Rasanya hati ini seperti dipatahkan. Memang sejatinya kita harus pandai-pandai menjaga ucapan apalagi di depan orang yang sedang terpuruk. Padahal Nada hanya kejang demam. Orang awam biasanya menyebut step mengarah ke penyakit, yang orang bilang semacam ayan atau epilepsi. Dan epilepsi itu kejangnya ngga selalu pakai demam, tapi tiba-tiba aja kejang. Kejangnya juga berulang-ulang selama 24 jam. Kalau kejang demam hanya terjadi saat demam bener-benar tinggi. Itupun cuma sekali, ngga berulang-ulang selama demam.

Alhamdulillah Nada juga bukan kejang yang kayak orang epilepsi, dia hanya tangan dan kaki semacam bayi kaget. Ya, respons tubuh orang beda-beda, ada yang kuat menahan demam, ada yang ngga kuat dan akhirnya kejang. Maka jangan sekali-kali membiarkan anak demam tinggi tanpa minum obat karena kita ngga tahu seberapa daya tahan tubuh si anak.

Kamis, 8 Agustus 2019 Nada mulai terbiasa. Meski masih menangis ketika banyak perawat datang. Tapi dia sudah lebih baik. Hari ini Nada kedatangan dokter yang baik hati. Dengan ramahnya menyapa Nada. Alhamdulillah kata dokter hasil darah baik-baik saja. Tapi karena semalam masih naik turun demamnya, Nada harus inap lagi. Ah sedihnyaaa Nak. Kupikir kamu sudah boleh pulang hari ini. Semalaman di rumah sakit rasanya waktu berjalan sangaaat lambat.

Hari ini Nada tes urin, semoga hasilnya baik ya Allah. Aamiin. Jumat, 9 Agustus 2019 Alhamdulillah kata dokter Nada sudah boleh pulang. Visit dokter kali ini banyak pesan yang disampaikan. Ternyata, hasil tes urin menunjukkan ada bakteri. Tandanya Nada terkena ISK (Infeksi Saluran Kemih). Ya Allah, Nad... hatiku seperti tersambar petir di siang bolong. Kenapa harus kamu Nad. Maafkan Mamamu ini Nad, lalai menjagamu.

Kata dokter Nada harus terapi obat antibiotik selama seminggu insyaAllah pasti sembuh. Dalam hati sedikit lega. Iya karena aku dulu waktu hamil Nada juga ISK dan sembuh dengan antibiotik. Hanya saja. Kenapa harus seusia Nada minum-minum obat kayak gini. Sedihnya Mama Nad. Tapi tetap bersyukur kamu sudah boleh pulang hari ini sayang. Selanjutnya kita berjuang menghabiskan PR dokter ini ya Nad. Semangat sembuh sayangku. Mama akan selalu di sampingmu, mendampingimu. Mama janji akan lebih baik dalam menjagamu, Nak.