Nempel Terus dengan Ibunya? Ini yang Perlu Dilakukan agar si Kecil Bisa Mandiri

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hai Moms, pernah ngga sih menghadapi si Kecil yang terus-menerus nempel kayak perangko sama Anda? Ditinggal ke toilet menangis, tak bisa semenit pun lepas dari ibu. Seperti pada pengalaman saya Moms, si Kecil termasuk anak tipe "sulit" untuk beradaptasi dan bersosialisasi dengan sekitarnya. Jangankan untuk digendong dengan orang lain, Mommy mau jemur handuk ke depan pekarangan saja sudah merengek takut ditinggal.
Mungkin ada beberapa Mommy yang merasakan dan mengalami seperti pengalaman saya ini. Sejenak saya berpikir apakah saya salah asuh atau bagaimana hingga saya berkonsultasi dengan psikologi anak. Berikut pemaparan beliau, anak yang menempel terus-menerus biasanya terjadi pada balita karena adanya rasa ketidaknyamanan.
Apa sajakah pemicunya?
- Orang tua yang terlalu protektif, dan ya Moms, sebagai new Mom, saya memang agak protektif terhadap si Kecil, dan jarang sekali saya ajak keluar rumah terkecuali hari Sabtu dan Minggu bersama dengan papanya. Nah alasan saya karena kondisi saya yang hanya sendiri merawat si Kecil tanpa bantuan nanny atau orang tua saya. Selain itu, saya dalam keadaan hamil anak kedua dan juga terlalu mengkhawatirkan keselamatan si Kecil.
- Faktor si anak sendiri, ternyata temperamen si kecil sangat berpengaruh apakah ia cenderung lengket terus sama si ibu atau easy going, di mana si Kecil mudah melepaskan diri. Ada juga tipe slow to warm up, yaitu si Kecil memerlukan beberapa saat untuk beradaptasi, dan juga tipe difficult atau sulit dan sangat lama untuk beradaptasi.
- Faktor lingkungan, misalnya dekat dengan terminal, stasiun, dan rawan akan tindakan kriminalitas.
Setelah mengetahui beberapa penyebabnya, apa saja yang Moms lakukan agar si Kecil jadi lebih mandiri?
- Doronglah rasa ingin tahu si Kecil, ini akan melatih kepercayaan dirinya, misalnya si Kecil melakukan sesuatu yang baru, dan melakukan kesalahan, janganlah terus-menerus mengkoreksinya.
- Jika ibu bersikap overprotektif terhadap keselamatan si Kecil, cukup berikan ia tindakan pengamanan, misalnya saat si Kecil berjalan-jalan sendiri, hindari dia dari jalan yang berlubang atau berbatu untuk menghindari ia dari cedera.
- Janganlah terburu-buru untuk memaksa si Kecil berubah, jika bertemu dengan orang baru dan si Kecil ketakutan, jangan kita buru-buru menyuruhnya bermain bersama. Tapi kenalkan ia terlebih dahulu dan berikan arahan positif agar ia bisa bersosialisasi.
- Bawalah barang atau mainan kesukaannya saat keluar rumah.
- Sering-sering bersilaturahmi dengan si Kecil, misalnya ke rumah saudara, nenek, atau teman kerja ayahnya, atau ke tetangga yang memiliki anak seumuran dengannya. Dengan begitu, ia perlahan akan terlatih untuk bersosialisasi dengan orang baru.
Kemampuan si Kecil untuk mengatasi rasa takut ialah dengan membayangkan sisi positif dari hal yang ditakutinya akan membuat si Kecil lebih berani. Kunci dari itu semua tidak lepas dari peranan orang tua. Membiarkan si Kecil bermain dan bertemu dengan orang baru sambil tetap menjaganya akan melatih si Kecil untuk lebih berani dan percaya diri, dan juga tidak setiap saat menempel terus pada ibu.
Sekian sharing pengalaman saya.
Semoga bermanfaat.
By: Arlina Yunita
Copyright by Babyologist
