Konten dari Pengguna

Penanganan Disentri pada Anak

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap balita pasti akan merasakan sakit diare pertamanya. Baik diare biasa, ataupun diare yang disertai darah dan lendir (disentri). Terlebih bagi anak usia 6 bulan ke atas, yang sudah masuk fase oral (memasukan benda asing ke dalam mulut). Walaupun begitu, disentri bisa juga disebabkan oleh makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri/virus penyebab disentri.

Pada Abyan misalnya, terkena disentri pertama pada usia 7 bulan. Gelaja awal disentri seperti:

  1. Anak lemas
  2. Demam
  3. Muntah
  4. BAB encer, disertai darah dan lendir

Saat anak menunjukan gelaja tersebut, sebaiknya segera di bawa ke dokter spesialis anak (DSA) untuk dilakukan pengecekan. Untuk disentri, DSA akan melakukan pengecekan laboratorium pada feses anak agar dapat mengetahui penyebab disentri, apakah terjadi akibat infeksi bakteri atau virus pada usus anak.

Biasanya, dokter akan memberikan obat antibiotik jika sudah diketahui kalau disentri akibat infeksi bakteri. Obat antibiotik yang dulu Abyan dapat dalam bentuk dry syrup, yang harus kita encerkan dengan air sebelum diberikan pada anak, juga bisa kita minta pihak farmasi untuk mengencerkannya.Proses penyembuhan penyakit disentri sekitar 3 sampai 7 hari. Dengan disertai pemberian obat deman dan mual pada anak. Tetapi pemberian obat demam dan mual, hanya diberikan jika anak masih menunjukkan gelaja muntah dan demam. Jika gelaja tersebut sudah tidak ada, pemberian obat mual dan demam bisa dihentikan. Hanya obat antibiotik saja yang harus dihabiskan.Memang tidak bisa kita benar-benar mencegah anak agar terhindar dari diare pertamanya. Bagi ibu-ibu yang anaknya mulai menunjukan gelaja disentri, usahakan untuk tetap tenang. Dan segera bawa anak ke dokter spesialis anak.

Semoga bermanfaat.

By: Aya choiriyah

Copyright by Babyologist