Pengalaman Hamil dengan Preeklamsia Berujung Caesar
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengalaman Hamil dengan Preeklamsia Berujung Caesar
Teringat kembali pengalaman saya saat hamil pertama kali dan terkena preeklamsia sehingga saya harus melahirkan secara caesar. Pupus sudah harapan saya untuk dapat merasakan kontraksi, mengejan, dan IMD.
Pada awalnya saya dan dokter kandungan saya belum menyadari bahwa saya terkena preeklamsia. Dokter mengira bahwa tensi tinggi yang saya miliki adalah akibat dari naik tangga saat akan memeriksakan kandungan, sehingga saya kecapaian dan akhirnya berdampak pada naiknya tekanan darah. Bisa juga karena saya sering makan makanan asin. Namun, pada bulan ke-4 kehamilan, saya pun curiga kalau saya terkena preeklamsia setelah melihat urin saya yang berbusa dan cenderung keruh meskipun saya sudah banyak sekali minum.
Sayangnya, saya tidak segera cek lab sehingga saat usia kandungan 35 minggu tekanan darah saya tinggi sekali hingga mencapai 150/140. Meskipun selama hamil dengan tekanan darah tinggi pun saya sama sekali tidak merasakan pusing, mual, atau gejala lain. Akhirnya sebelum kontrol bulanan, saya memutuskan untuk cek urin lengkap dan benar memang, hasilnya positif 1. Saya terkena preeklamsia. Dokter pun memberikan saya obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah dan juga mengobati infeksi vagina (saya mengalami keputihan yang cukup berat sehingga terasa gatal dan sangat tidak nyaman). Saya pun selalu diwanti-wanti oleh dokter kandungan saya untuk selalu menghitung gerak janin, jika gerak janin melambat, saya harus segera ke Rumah Sakit.
Setelah hampir 2 minggu rutin minum obat-obatan, infeksi saya hilang namun preeklamsia masih ada. Dan menjelang minggu ke 38, selang satu hari setelah kontrol terakhir, saya merasakan hal yang berbeda. Gerak janin saya melambat bahkan hampir tidak ada pergerakan, kepala saya pusing, badan saya terasa lemas. Saya segera menelepon suami yang sedang dinas untuk pulang dan segera ke Rumah Sakit terdekat. Saya diperiksa oleh dokter kandungan di Rumah Sakit tersebut dan malam itu juga saya diminta untuk operasi caesar. Hasil pemeriksaan dokter adalah bayi saya terlilit tali pusat melintang 2 kali, air ketuban sebelah kiri bayi sudah habis, tekanan darah saya 161/154, dan riwayat preeklamsia saya.
Alhamdulillah, malam hari pukul 21.13 lahirlah putri pertama saya dan suami yang kami beri nama Rubina Dzakirah Marwa. Jika kami menunggu keesokan harinya untuk tindakan, ada risiko bayi saya menelan air ketuban karena ternyata dia sudah berak didalam. Untung saja, dia tidak menelan air ketubannya.

