Pengalaman Melahirkan Normal Tanpa Jahitan

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengalaman Melahirkan Normal Tanpa Jahitan
Dalam mengupayakan persalinan yang normal, tenang dan minim intervensi medic banyak hal yang harus diusahakan semenjak masa kehamilan yang mendukung kesiapan fisik dan mental ibu. Semisal berjalan kaki, mengikuti yoga kehamilan, mengedukasi diri dan lainnya.
Namun disaat persalinan tiba, kesiapan ibu bukanlah satu-satunya faktor kelancaran persalinan, pendamping dan provider persalinan juga memiliki peran yang cukup besar.
Hingga saat ini aku masih takjub dengan bagaimana cara provider persalinan ku yaitu seorang bidan beserta timnya dalam mendampingiku saat aku melahirkan anak keduaku.
Tidak ada larangan mengejan, seperti yang pada umumnya aku dengar dari kebanyakan cerita teman-temanku yang mana belum boleh mengejan saat bukaan belum lengkap dan dokter belum ada di ruang bersalin. Ketika rasa mules datang hingga reflek rasanya ingin mengejan, bidan ku sama sekali tidak melarang. Mengikuti sinyal dan kebutuhan tubuh kita, rasanya melegakan sekali, melawannya justru sangat melelahkan dan tidak nyaman.
Tidak ada aba-aba mengejan, saat bukaan telah lengkap dan kelapa bayi sudah terlihat, pada umumnya kita akan diintruksikan untuk mengejan, tangan diletakkan di kedua paha, kemudian mengejan sekuat tenaga untuk membantu proses keluarnya bayi. Sejujurnya hal inipun melelahkan, bahkan lelahnya bisa hingga berhari-hari pasca persalinan.
Saat kepala bayi sudah terlihat, aku tidak diinstruksikan untuk mengejan, aku hanya dipandu bernafas biasa, menghirup udara dari hidung, keluar dari hidung diantara waktu jeda kontraksi. Kedua tangan sebisa mungkin tidak memegang apapun agar relaks. Selain itu tidak ada intruksi untuk aku segera mengejan. Saat itu Aku sempat berfikir apa iya bayi dapat lahir tanpa ibunya dipandu mengejan.
Ternyata dengan bernafas biasa dan tetap relaks bayi secara konsisten tetap dapat turun belahan, kemudian progress besar terjadi saat perut mules dan timbul reflek untuk mengejan secara alami (bukan dipaksakan) bayi makin terdorong keluar.
Menurut ku disini peran provider sangat penting, kalau saja saat itu aku diperintahkan mengejan dengan teknis seperti pada umumnya oleh provider ku, tentu saja akan aku lakukan, karena ibu dalam masa proses melahirkan memang semudah itu diintervensi. Mengejan dengan dipandu besar kemungkinan menyebabkan sobekan pada perineum walau mungkin ada yang tidak juga.
Dipersalinan pertama ku, aku dipandu mengejan, badan menjadi lelah dan tegang, begitupun dengan perineum yang harusnya dalam kondisi elastis. Alhasil persalinan menyebabkan sobekan yang besar dan menyisakan luka jahitan yang banyak, yang baru hilang sakitnya sekitar 4 minggu kemudian. Padahal kunci persalinan yang nyaman, baik saat prosesnya maupun setelahnya adalah kuasai nafas dan rileks.
Dipersalinan kedua ini tidak menyisakan sobekan pada perineum sehingga tidak perlu dijahit. Ada sedikit rasa perih karena lecet saat proses persalinan yang hilang hanya dalam waktu 3 hari.
