Pengalaman Memompa ASI saat Sakit Demam Berdarah

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Januari akhir kemarin, saya harus dirawat di rumah sakit karena sakit demam berdarah. Selama tiga hari berturut-turut, panas tidak kunjung turun. Awalnya dokter kira karena mastitis, namun setelah dicek darah, trombosit dan leukosit menurun.
Jelas, perasaan saya waktu mendengar harus dirawat adalah takut. Pertama takut disuntik, infus, dan paling utama kepikiran anak saya yang bernama Clive. Rasanya tak tega meninggalkan dia untuk beberapa hari.
Sejak tiga hari sebelumnya produksi Air Susu Ibu (ASI) sudah berkurang. Sempat sedih karena pabrik susu ini tidak kencang lagi malah cenderung kosong. Selain itu, saya masih harus menahan kepala pusing dan lemas tapi tetap harus pompa.
Meskipun sedang sakit, tapi saya tetap berkomitmen memompa ASI untuk Clive. Nah, ini juga berlanjut saat di rumah sakit, saya memutuskan untuk tetap memompa ASI meskipun hasil pompa dibuang. Alasan dibuang bukan karena saya mengkonsumsi obat dan diinfus lalu ASI tidak boleh diberikan kepada Clive.
Sebenarnya aman kok, pasalnya obat yang saya minum adalah anjuran dari dokter. Beliau memberikan obat khusus ibu menyusui.
Lalu kenapa dibuang? Alasannya karena di rumah sakit tidak ada steril, habis pompa tentu tidak mungkin kan kalau cuma dicuci tanpa steril. Meskipun di rumah sakit hasil pompa semakin sedikit, saya tetap berkomitmen pompa supaya ASI tetap keluar karena khawatir kalau tidak dipompa malah mampet. Selain itu dengan keterbatasan tangan harus diinfus juga tidak mengurangi komitmen saya untuk memompa.
Sedih sekali pasti melihat hasil pompa yang turun drastis, namun dalam pikiran tetap berusaha berpikiran positif bahwa sekarang lagi sakit, nanti keluar dari rumah sakit perlahan harus mengembalikan hasil pompa seperti dulu.
Apa yang bisa saya pelajari dari kondisi seperti ini?
Menyimpan stok air susu ibu perah (ASIP) sangat penting. Kita tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi, seperti saat saya dirawat di rumah sakit tiba-tiba. Untung ada ASIP untuk persediaan minum Clive di rumah. Anak tetap bisa minum ASI.
Saat sakit, obat terbaik untuk mengembalikan produksi ASI tentu dengan banyak makan dan minum. Kalau tidak nafsu makan, gantilah dengan buah. Dalam kondisi terserang demam berdarah seperti saya, buah-buahan adalah penyelamat saya dari kelaparan. Soalnya, kalau makan nasi atau bubur pun akan terasa mual dan pahit sehingga tidak ada nafsu makan.
Selalu katakan pada dokter jika sedang menyusui, sehingga dokter memberikan obat yang sesuai.
Selalu berusaha dan memiliki komitmen untuk tetap memompa ASI. Berapapun yang kita dapat itu sangat berharga. Semakin sering kita pompa, semakin cepat jumlah produksi ASI bertambah.
Katakan apa yang kita butuhkan pada perawat. Setiap saya habis pompa saya selalu minta tolong untuk mencuci alat pompa dan membilasnya dengan air panas, perawat dengan senang hati membantu.
Puji syukur beberapa minggu setelah keluar rumah sakit, produksi ASI saya sudah kembali seperti semula. Hal ini karena saya menambah jadwal pompa dan semakin sering mengeluarkan ASI.
Ingat ya, prinsip ASI demand supply. Paling penting jangan pernah menyerah untuk memompa, dalam kondisi apa pun. Kalau seperti kasus saya, tidak ada steril maka hasil pompa dibuang. Tapi, kalau ada steril tidak masalah diminumkan kepada anak, selama dokter bilang boleh menyusui.
Sakit apa pun yang kita alami, terus menyusui ya. Yang jelas, ketika Moms terinfeksi suatu penyakit, ASI otomatis membangun antibodi terhadap penyakit itu, sehingga bayi kemungkinan besar akan terlindungi dari penyakit itu.
