Konten dari Pengguna

Pengalaman Naik Pesawat Dengan Bayi 2 Bulanan

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengalaman Naik Pesawat Dengan Bayi 2 Bulanan

Halo Moms, saya ingin berbagi pengalaman ketika saya mudik ke kampung halaman menjelang libur hari raya. Sebenarnya saya dan suami sempat bingung karena anak pertama kami masih berusia 2,5 bulan ketika akan diajak naik pesawat. Meski perjalanan ke kota bengkulu dari jakarta dengan pesawat hanya 1 jam dan secara usia sudah diizinkan oleh maskapai, namun membawa bayi tentu menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Selain khawatir akan kesehatan si bayi sendiri, kami juga khawatir akan mengganggu penumpang lain jika si bayi tidak bisa tenang selama di dalam pesawat. Seperti yang kita tahu, suasana dan tekanan dalam pesawat sering kali membuat tidak nyaman untuk bayi atau orang dewasa sekalipun.

Berbekal sharing pengalaman dari teman-teman, membaca tips di internet dan konsultasi ke dokter, kami mulai mempersiapkan berbagai macam peralatan yang akan digunakan jika si bayi tidak nyaman, seperti earmuff, pacifier atau empeng, kupluk dan kapas untuk menutup kuping, gendongan kain, hingga apron/cover menyusui. Saran terbaik adalah menyusui bayi pada saat take off dan landing untuk mengurangi sakit di telinga akibat tekanan di dalam pesawat. Namun sebelumnya pastikan bayi kita dalam keadaan sehat saat akan bepergian dengan pesawat ya Mom!

Saat tiba di bandara 2 jam sebelum berangkat, setelah check in saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan ruang ibu dan bayi atau nursery room untuk jaga-jaga jika si bayi harus bolak-balik menyusui atau ganti popok. Saya juga membatasi menyusui bayi terlalu banyak agar nanti dia tidak menolak menyusu di pesawat akibat kekenyangan. Si bayi juga kami ajak bermain dengan harapan ia akan kelelahan dan tidur saat di pesawat.

Setelah disusui secukupnya dan ganti popok, kami pergi ke ruang tunggu karena waktu boarding sudah dekat. Saat mulai masuk pesawat, bayi saya gendong erat dengan gendongan kain dalam posisi tidur menyamping. Saya tutup telinganya dengan kapas lembut dan ditutup dengan topi kupluk. Mungkin gerakan pesawat yang membuat si bayi seakan-akan sedang diayun, sehingga bayi saya mulai tidur semenjak di atas pesawat. Saat pesawat mulai taxi dan akan take off saya sudah bersiap-siap akan menyusui si bayi atau memberikan ia pacifier/empeng agar tetap ada gerakan menelan supaya telinganya tidak sakit. Namun, si bayi menolak dan tidur sangat nyenyak, sehingga saya membiarkan ia tidur sambil terus memantau jika telinganya terasa sakit. Alhamdulillah Moms, si bayi tidur nyenyak sampai kami sudah turun di ruang pengambilan bagasi.

Memilih menjadi tim menyusui saat take off dan landing atau tim yang membiarkan anak tetap tidur jika sudah pulas, tentu cukup membuat bingung ya Moms. Karena wajar sekali jika kita khawatir apabila mungkin anak akan kesakitan jika dibiarkan tidur atau justru lebih kasihan jika harus dibangunkan jika sudah tidur pulas. Sehingga pilihan ini menurut saya dapat disesuaikan dengan kondisi bayi pada momen tersebut. Namun yg terpenting adalah ibu sudah mempersiapkan diri secara mental untuk tetap tenang, tidak panik dan tentunya siap membawa berbagai peralatan jikalau kemungkinan si anak tiba-tiba rewel di atas pesawat.