Pengalaman Saat Menyapih Anak

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat anak berusia 1 tahun 8 bulan, saya sudah sounding bahwa sebentar lagi ia akan menyusu di gelas. Orang tua saya mendesak agar saya segera menyapih si Kecil karena masih mempercayai mitos-mitos tentang ASI yang sudah tidak ada gizinya setelah 2 tahun.
Berbagai cara "orang dulu" masuk ke telinga saya dan suami. Saya mulai tanya kepada teman-teman saya yang sudah lulus. Ada yang pakai cara oles-obat, lipstik, ada juga yang pakai cara mistis. Ini benar dan saya juga kaget ternyata ada juga cara seperti itu, dengan cara si anak di berikan air jampian, dan diberikan mantra. Saya tidak tega menggunakan cara di kasih obat merah dan obat-obat yang di olesi di payudara. Hingga akhirnya anak saya berulang tahun yang ke-2, saya mulai mengurangi frekuensi minum susu langsung ke payudara. Dari jadwal awal yaitu 6 kali lebih atau setiap kali jika dia minta, menjadi 3 kali. Siang, malam sebelum tidur dan tengah malam saat terbangun.
Sambil terus di sounding kepada anak, saya mulai mencari pengganti ASI, dari UHT bergambar lucu, sampai susu bubuk berbagai merek. Saya gagal. Sang anak tidak suka, selalu menolak, atau minum sedikit. Dua bulan kemudian saya putuskan harus diniatkan dengan serius. Saat pagi saya berikan aktivitas fisik, bersepeda keliling kompleks hingga siang hari saya berikan makan yang agak banyak dan camilan di sela-sela sebelum tidur siang, walaupun hasilnya kadang berhasil dan kadang tidak.
Saya masih ingat betul keputusan yang saya ambil tentang menyapih si Kecil ini, malam hari saya sudah bersiap pergi ke rumah orang tua dengan menggunakan ojek online karena rumah orang tua jaraknya cukup dekat. Saat saya ingin pesan, tiba-tiba anak saya keluar kamar dan mencari sambil memanggil saya. Ditemani ayahnya, sang anak masuk lagi ke kamar. Tapi ia keluar lagi dan mencari saya yang sedang bersembunyi.
Saya berpikir ini tidak benar, harus dihadapi bersama. Jika saya pakai cara dioleskan warna-warna, nantinya akan menangis juga. Akhirnya saya mengajaknya tidur, dan ketika dia minta ASI, saya katakan dengan lembut sambil memeluk bahwa sudah waktunya untuk tidak menyusu lagi. Anak saya tidak terima, menangis dan berontak sambil mencoba membuka baju saya. Saya harus kuat, karena jika 1 kali diberikan, maka usaha akan sia-sia. Saya terus katakan dengan lembut bahwa sudah waktunya tidak menyusu lagi, ia sudah besar dan minum susu di gelas. Kurang dari seminggu, sudah lepas dari ASI.
Perjuangan belum berhenti, mencari susu formula yang cocok untuk si Kecil sulit karena dia hanya mau yang rasa coklat. Karena sudah mengenal es krim, saya selalu bilang bahwa rasa susunya seperti es krim, enak. Lambat laun anak saya sekarang berusia 2 tahun 9 bulan sudah suka berbagai jenis susu dari UHT sampai susu bubuk.
Semoga bermanfaat.
By: Riana Cahya.
