Konten dari Pengguna

Pengalaman Saya saat Mengalami Baby Blues dan Cara Mengatasinya

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ibu dan bayi Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu dan bayi Foto: Pixabay

Beberapa waktu lalu, saya membaca beberapa unggahn di sosial media tentang istri yang mengalami baby blues. Singkatnya, sang suami menceritakan kalau istrinya benar-benar tidak mau menyentuh si baby. Puncaknya si istri membanting baby-nya di atas kasur sambil berteriak dan menangis. Tentu saja ini memancing amarah sang suami, karena kurangnya edukasi dan pengetahuan selama masa kehamilan si istri. Begini ya Bu, Pak, saat istri hamil, bukan hanya istri yang harus belajar, tapi suami juga harus belajar.

Dua bulan setelah saya melahirkan Vano, saya mengalami apa yang disebut baby blues. Ya, cukup parah karena banyak faktor terutama faktor eksternal. Misalnya pertanyaan-pertanyaan orang lain seperti "Kenapa caesar? Kenapa ASI-nya pakai dot? Di mana ayahnya?" dan sebagainya. Juga karena beberapa pakar ibu (hehe aku menyebutnya begini) yang artinya, ibu yang merasa 'lebih' dari ibu lainnya. Mereka mulai mengajarkan beberapa cara mengasuh bayi, tapi harus sama dengan cara dia. Seperti cara menggendong, cara menyusui, sampai cara baby saya tidur pun dikomentari.

Ilustrasi bayi tidur bersama ibu Foto: Shutterstock

Akhirnya saya mengalami baby blues. Tapi tidak seperti kebanyakan yang menolak bayinya, saya tetap menjadi ibu untuk bayi saya. Saya sama sekali tidak menunjukkan emosi berlebihan pada bayi saya. Namun, setelah ia tidur, depresi itu mulai datang. Saya menangis, bahkan tingkat terparah adalah membenturkan kepala saya ke tembok. 

Semua itu berlangsung kurang lebih 3 minggu. Sampai akhirnya saya sadar sendiri, bahwa saya adalah seorang ibu sekaligus ayah. Kalau saya terus menerus menelan omongan orang-orang, maka efeknya akan buruk bagi saya maupun bayi saya.

Saran untuk ibu-ibu di luar sana, jika kita melihat seseorang yang baru menjadi ibu, sebaiknya jangan ditegur. Pujilah, karena seorang ibu pantas mendapat pujian. Untuk kesalahan kecil si ibu dalam merawat bayinya, biarkan aja, kecuali dia yang bertanya. Pada dasarnya feeling seorang ibulah yang paling kuat untuk anaknya.

Kalaupun ada salah kecil, jaman sekarang sudah canggih. Ada sosial media sebagai tempat referensi. Bahkan banyak dokter yg membuat sosial media untuk keperluan sharing online. Sebagai seorang ibu, kita pun pasti kurang suka jika ditegur ibu lain masalah merawat anak sendiri kan? Kita cuma boleh menegur ibu lain, jika si ibu melakukan sebuah penyiksaan atau kekerasan. Jika hanya kesalahan kecil, percayalah seorang ibu lebih kuat batinnya terhadap anaknya. Dan apabila ia juga seorang ibu baru, wajar jika salah kan?