Konten dari Pengguna

Pengalamanku Gagal Menyapih si Kecil

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengalamanku Gagal Menyapih si Kecil
zoom-in-whitePerbesar

Biasanya, kita para Moms mulai sibuk mengatur strategi untuk menyapih si Kecil saat umurnya menjelang 2 tahun ya Moms. Pada saat seperti ini, kita akan mencoba menyapih si Kecil bermodalkan pengalaman anak pertama, belajar dari pengalaman orang lain dan baca sana-sini.

Meskipun telah mengumpulkan modal pengalaman dan ilmu yang banyak, sering kali harapan tidak sesuai kenyataan. Ada beberapa kendala yang seolah-olah membuat kita tidak berdaya menyapih si Kecil dan gagal menyapih di tengah jalan. Saya sendiri mengalami kejadian 'gagal menyapih' loh Moms dan ini terjadi pada anak ke dua saya, Elora. Bagaimana ceritanya?

Pada waktu itu Elora sudah berumur 20 bulan. Sejak saat itu, saya sudah mulai sounding ke dia bahwa akan tiba saatnya ia harus berhenti menyusu. Tahapan sounding tersebut tetap saya lakukan hingga ia sendiri mampu berkata "adek udah kakak, adek udah enggak nen"!. Saya cukup terkejut ketika pada hari itu di sepanjang siang hari ia tidak minta menyusu dan ngomong bahwa dia malu.

Seperti biasa persoalan hanya terjadi ketika menjelang tidur malam. Saat itu, karena tidak tahan mendengar tangisan anaknya sang bapaklah yang meminta saya agar tetap menyusui si Kecil menjelang tidur malam.

Permintaan suami hanya saya penuhi selama 3 hari, setelah ada saling komunikasi dan kata sepakat maka dimulailah saat untuk tidak lagi menyusui si Kecil bahkan di malam hari sekalipun agar si Kecil berhasil disapih. Singkat cerita, setelah melalui malam-malam yang dramatis akhirnya Elora berhasil disapih. Ia tidak lagi minta 'nen' siang ataupun malam.

Tapi, sukses ini ternyata tidak berlangsung lama. Elora yang ceria berubah menjadi pemarah. Terkadang ia menangisi sesuatu yang tidak jelas sejadi-jadinya. Ketika ditanya mau apa, ia malah jawab dengan tangisan yang semakin kencang. Saya dan suami pun menjadi bingung, sampai pada akhirnya ia jatuh sakit demam. Saat itu, demamnya hampir mendekati 39.5.

Oleh dokter, Elora diberikan obat dan disarankan agar banyak minum. Akan tetapi, meskipun sudah diberi obat dan minum, demamnya hanya turun sedikit dan setelah reaksi obat berkurang, demamnya naik lagi. Elora juga murung dan tidak bergairah. Saya coba tawari nasi, biskuit, susu, semua ditolak. Sampai saya tawari 'Adek mau nen?' Elora langsung mengangguk dan dengan lahap menyusu di saya.

Betapa kagetnya saya waktu itu dan merenung sendiri. Apa jangan-jangan anak saya merasa sangat tertekan ketika ia disapih? Apakah ia belum begitu siap disapih akan tetapi karena saya paksakan maka mau tidak mau dia harus ikuti kemauan saya? Betapa saya merasa sangat berdosa ketika pernah bangga telah berhasil menyapih anak saya padahal ia tertekan.

Akhirnya, mulai saat itu Elora mulai menyusu lagi hingga kini usianya sudah mencapai 30 bulan. Saat itu produksi ASI saya tentu sudah semakin berkurang karena sempat beberapa minggu tidak di 'nen' si Kecil secara berkala. Tapi setelah kembali menyusui Elora kembali, produksi ASI saya berangsur-angsur membaik. Dan tahukah Moms, bahwa demamnya pun perlahan turun dan ia semakin segar. Mungkin karena bahagia ya Moms.

Lalu, sampai kapan saya akan membiarkan si Kecil menyusu? Mungkin sampai si Kecil mampu menyapih dirinya sendiri ya Moms. Dan lagi pula, mengASIhi lebih dari 2 tahun tidak memiliki efek samping tapi justru banyak baiknya, baik bagi ibu maupun anak.

Oleh karena itu, sepanjang Moms masih mampu dan si Kecil belum siap, yuk jangan buru-buru menyapih. Biarkan si Kecil menikmati masa-masa indahnya menyusu pada ibunya hingga ia sendiri mampu mengambil keputusan untuk berhenti.

Semoga bermanfaat.

By: Sarah Brahmana

Copyright by Babyologist