Konten dari Pengguna

Pengalamanku Melahirkan Normal Saat Usia Kandungan 42 Minggu

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi bayi.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi.

Melahirkan anak pertama memang hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap orang tua dan keluarga. Termasuk saya, pada kehamilan pertama tentunya banyak hal yang saya tidak tahu. Mulai dari mitos hingga fakta tidak boleh ini itu yang membuat saya sebagai ibu hamil mengalami banyak kecemasan.

Saya pun mengalami banyak drama pada kehamilan pertama saya. Mulai dari drama trimester pertama hingga ketiga, saya mual parah dan tidak bisa mencium bau apapun. Tetapi, karena rasa sayang pada anak yang kala itu masih dalam kandungan, saya harus tetap kuat melewati berbagai macam drama kehamilan yang terjadi meskipun itu pengalaman pertama.

Tak sampai di situ, akhirnya pada trimester ketiga yang seharusnya dokter dan bidan sudah menyertakan Hari Perkiraan Lahir (HPL) pada 28 Februari, paling telatnya. Pasalnya, tanggal tersebut sudah memasuki 40 weeks masa kehamilan. Namun, saat itu saya belum ada tanda-tanda melahirkan. Meskipun kaki, tangan, hingga area vagina sudah sakit sekali dibawa jalan.

Kekhawatiran keluarga pun menambah kecemasan yang terjadi, karena selalu bertanya "Kapan lahirannya? Kok belum lahir baby-nya?" Dan itu semakin membuat saya khawatir hingga ketakutan.

Akhirnya, saya konsultasi dengan dokter dan bidan yang biasa saya check-up. Ternyata dari bidan, saya sudah dirujuk untuk melahirkan ke rumah sakit mana yang saya mau. Pasalnya, bidan tidak bersedia membantu apabila tidak ada tanda-tanda melahirkan.

Akhirnya, setelah dari bidan, saya memutuskan ke dokter kandungan yang biasa saya check-up. Saat dicek, dokter memang bilang usia kandungan sudah memasuki 42 weeks, tapi beliau bilang "Ini masih aman kok." Meskipun memang saat USG ketuban berkurang sedikit dan placenta mengalami sedikit pengapuran.

Saya pun cukup panik mendengarnya. Lalu saya menanyakan apakah saya masih bisa normal? Dokter pun bilang bisa.

"Kamu tinggal tunggu aja tanda-tanda kelahiran nanti kalau sudah waktunya pun bayi akan keluar dengan sendirinya. Kamu masih bisa kok melahirkan dengan normal, saya kasih waktu sampai 14 Maret ya, kalau sampai tanggal itu kamu belum lahiran, kita tindakan," ujar dokter.

Mendengar statement dokter seperti itu saya lega dan kecemasan saya sedikit berkurang. Padahal saya sudah bersiap membawa peralatan persalinan saat itu, tapi dokter menyuruh saya pulang. Saya dibekali ilmu, dokter bilang saat di rumah saya harus sering jalan, menungging dan jangan banyak makan manis.

Akhirnya persalinan itu tiba, tepatnya tanggal 8 Maret 2017, saya pecah ketuban dan langsung telepon dokter. Tapi, kala itu dokter sudah cuti dan tidak bisa diganggu. Akhirnya saya memutuskan untuk cek pertolongan pertama ke bidan yang biasa saya temui (kebetulan dekat rumah). Alhamdulillah, bu Bidan bersedia melakukan tindakan persalinan di tempatnya. Doa saya terkabul, karena jujur saya takut dengan rumah sakit, hehe.

Pada jam 20.00, setelah pecah ketuban, cek periksa dalam (PD) masih bukaan 2 dan saya dipersilahkan untuk pulang ke rumah dan istirahat dulu di rumah. Saya pun pulang dengan perasaan yang campur aduk merasakan mulasnya perut. Setelah azan subuh rasanya mulas saya semakin sering. Saya pun memutuskan kembali ke sana dan dicek masih bukaan 6. Tapi saya tidak mau pulang kembali ke rumah dan tetap stay di bidan. Akhirnya jam 6 pagi, rasa mulas semakin tak tertahankan. Setelah dicek kembali, ternyata bukaan sudah lengkap.

Akhirnya, dengan penuh perjuangan panjang, Alhamdulillah saya pun dapat melahirkan anak laki-laki dengan berat 3,4 kilogram dan panjang 49 sentimeter secara normal. Betapa bahagianya saya saat itu.

Maka dari itu untuk Moms yang sedang menanti kelahiran buah hati, tetap positif thinking ya Moms. Komunikasi ibu dan janin sangat berperan penting. Dan jangan lupa selalu berdoa.