Pengalamanku Menyusui Anak Pertama

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menyusui adalah kodrat wanita setelah hamil dan melahirkan. Satu dari tiga hal yang tak bisa digantikan perannya oleh laki-laki. Satu demi satu proses menjadi ibu telah kulalui bersama putri kecilku, Nada.
Banyak hal yang telah kami lewati. Bersyukur sejak dia lahir, Allah sudah memberi kemampuannya untuk menyusu padaku, meski sama sekali tidak ada yang pernah mengajarinya. Aku sampai tak mampu untuk berpikir bagaimana seorang bayi yang baru lahir mampu menyusu tanpa ada pelajaran menyusu sebelumnya.
Sejak menyusui Nada, banyak hal sederhana yang membuatku haru dan bahagia. Mulai dari saat menyusu matanya terpejam hingga akhirnya mata itu bisa menatapku dengan tatapan yang.., Ahhh, tak pernah terbayang sebelumnya.
Menyusui anak pertama pastinya akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi setiap ibu. Bagaimana tidak? Sebelumnya kami hanya bisa membayangkan dan kini bisa merasakan. Haru pasti. Banyak hal yang wajib aku syukuri dari proses menyusui Nada, putriku, tak butuh waktu lama untuk dia bisa menyusu dengan baik.
Bahagianya aku ketika hari pertama melahirkan langsung keluar ASI dan selanjutnya menjadi hari yang semakin membahagiakan karena Nada makin pandai menyusu.
Moms, tak perlu khawatir jika ASI tak langsung keluar, karena sejak lahir bayi masih bisa bertahan hidup meski tidak minum bahkan hingga 3 hari. Tak perlu khawatir juga jika si kecil tak langsung pandai menyusu, dia hanya butuh proses untuk belajar. Bersabar kunci sukses mengASIhi ya, Moms.
Di awal menyusui, aku harus berhadapan dengan cobaan puting lecet. Mungkin sebagian Moms juga mengalami. Setelah mencari tahu, sebabnya adalah kondisi puting kering atau tidak lembab, seharusnya dulu sejak hamil puting harus rutin dibersihkan dan diberi minyak zaitun atau baby oil agar tetap terjaga kelembapannya, sehingga tidak kering dan lecet jika sering disusui bayi. Drama puting lecet berangsur membaik setelah aku rutin menggunakan minyak zaitun setiap habis mandi.
Bicara soal ASIP, sebagai ibu yang masih kuliah, aku perlu sedia ASIP untuk Nada. Dulu hanya bisa kagum dengan ibu yang mempunyai stok ASI banyak. Betapa bahagianya aku kini bisa melihat stok ASIP-ku sendiri memenuhi freezer. Namun, tiba-tiba Nada tak mau lagi minum dengan dot. Dot memang tak baik untuk bayi, aku tahu. Tapi tak ada pilihan. Ternyata Nada yang memilih untuk tidak memakai dot sejak saat itu, saat usianya 2 bulan. Sejak dia tak mau dot tiap aku tinggal ke kampus dia minum ASIP dengan sendok, itupun harus penuh perjuangan. Ya, Nada memang lebih suka menyusu langsung dariku.
Sejak Nada tak mau dot, aku memutuskan untuk donor ASIP-ku yang terlanjur banyak di freezer. Alhamdulillah setelah mempertimbangkan banyak hal aku bertemu dengan bayi yang memang sedang membutuhkan ASIP karena ibunya sedang sakit dan tak bisa menyusui bayinya. Betapa bahagianya aku bisa mengajak Nada untuk berbagi dengan Fiona, bayi perempuan yang berusia 1 bulan yang tiap hari tantenya selalu mencari donor ASIP untuk Fiona. Hal itu membuatku tak henti bersyukur atas apa yang kumiliki.
Sejak itu, Nada lebih sering menyusu langsung denganku, kebetulan aku tinggal menyelesaikan tugas akhir kuliahku. Jadi setelah ini aku bisa fokus dengan Nada. Kalau mengingat perjuangan mengASIhi Nada, rasanya pahit manis sudah kami rasakan berdua.
Alhamdulillah sampai kami berhasil menjalani ASI eksklusif 6 bulan. Sekarang dia lebih sering jail kalau sedang menyusu. Entah menarik-narik rambutku, menepuk-nepuk badanku, menendang-nendang perutku, ada-ada saja tingkahnya yang membuatku tersenyum. Aku yakin semua ibu merasakan hal yang aku rasakan ini juga. Betapa bahagianya proses menyusui. Meski banyak kekhawatiran dan hal yang harus diperjuangkan.
Khawatir, kira-kira setelah melahirkan bisa keluar ASI tidak? Kekhawatiran apakah bisa memberi ASI eksklusif? Apakah bisa mengASIhi sampai 2 tahun? Berbagai usaha pun tetap harus dilakukan untuk menjadi ibu bahagia agar ASI tetap lancar. Begitu banyak lika-liku menyusui. Tidak perlu saling merasa kurang atau iri dengan yang kelihatannya memiliki ASI banyak. Karena sesungguhnya rezeki anak kita sudah dijamin oleh-Nya lewat ASI yang cukup. Karena "banyak" belum tentu "cukup", tapi "cukup" pasti "tidak kurang".
Semangat mengASIhi hingga 2 tahun, Moms. Semoga ASI kita menjadi investasi terbaik untuk anak kita nantinya.
