Pentingnya Imunisasi MR Bagi Si Kecil

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Imunisasi MR – Rubella (campak jerman) adalah penyakit menular yang sangat berbahaya apabila sampai menular ke ibu hamil. Rubella dapat menyebabkan bayi lahir dengan kondisi cacat seperti buta, lumpuh, dan tuli. Karena dampaknya yang sangat membahayakan generasi penerus, pemerintah mewajibkan imunisasi MR. Moms wajib mendaftarkan si Kecil untuk mendapatkan imunisasi MR di Puskesmas, Posyandu, atau Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta.
Imunisasi MR (Measles dan Rubella) bertujuan untuk melindungi orang yang diimunisasi dari penyakit campak dan campak jerman. Pada dasarnya, vaksin MR adalah bagian dari vaksin MMR (Mumps, Measles, dan Rubella). Karena penyakit Mumps (gondongan) sudah jarang ditemui di Indonesia, maka vaksin MMR di Indonesia sengaja dipisahkan menjadi MMR dan MR. Sementara itu, kasus campak biasa dan campak jerman masih sering ditemui di Indonesia.
Tidak semua bayi dapat menerima vaksin MR. Syarat-syarat yang harus dipenuhi sbb. :
Minimal berusia 9 bulan hingga 15 tahun
Harus dalam kondisi sehat
Tidak sedang atau habis opname
Tidak menderita penyakit berat
Tidak sedang batuk, pilek, demam, dan penyakit serupa lainnya
Tidak ada riwayat alergi vaksin
Kondisi berikut juga membuat si Kecil dilarang menerima vaksin MR :
Sedang menjalani perawatan radiasi
Mengonsumsi obat-obatan tertentu misalnya corticosteroid dan immunosuppressant
Menderita leukemia, anemia berat, dan penyakit kelainan darah lainnya
Menerima transfusi darah
Seiring dengan kampanye vaksin yang dilakukan pemerintah, ada pihak-pihak tertentu yang menghembuskan isu-isu tidak bertanggungjawab seputar vaksin. Banyak mitos yang tidak jelas terkait vaksin MR bermunculan akhir-akhir ini. Menurut mitos yang beredar, vaksin MR akan menyebabkan kelumpuhan dan autisme. Pakar kesehatan dunia telah mematahkan mitos-mitos ini. Namun, mereka mengaku bahwa belum ada bukti akurat dan langsung yang menunjukkan keterikatan antara vaksin MR dengan kelumpuhan dan autisme. Dalam beberapa kasus, ternyata kelumpuhan dan autisme yang diduga terjadi setelah penderita divaksin hanyalah kebetulan semata. Melalui serangkaian tes laborat, pihak dokter berhasil menemukan sebab utama pemicu kondisi kesehatan tersebut.
