Pentingnya Mengajak Bayi Ngobrol Sejak Dalam Kandungan

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berdasarkan beberapa literatur yang saya baca, banyak sekali manfaat mengajak bayi ngobrol sejak dalam kandungan. Salah satunya dapat memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak. Namun, tidak sedikit Moms yang merasa canggung dengan aktivitas tersebut. Takut jika dikatakan aneh dan lain sebagainya. Apalagi jika tinggal di daerah terpencil seperti saya. Pasti akan dianggap aneh atau parahnya saya dianggap depresi.
Sejak Sae dalam kandungan, saya sudah membiasakan diri mengajak Sae ngobrol. Menceritakan kegiatan saya seharian seperti apa. Selain itu saya juga selalu mengajak Sae dalam setiap kegiatan saya. Yah awalnya memang canggung, tapi lama kelamaan saya jadi makin terbiasa dan suka mengajak Sae ngobrol. Pasalnya ketika saya berbicara, dia sering merespon dengan tendangan kecil.
Berikut ini salah satu obrolan saya. "Nak, Simbok mohon kerjasamanya. Karena hari ini kita mau ngecek proyek, jaraknya lumayan jauh. Setelah itu kita mau belanja bahan baku untuk proyek Mr. A, selesai belanja ngecek ke kerjaan anak-anak di bagian produksi, baru deh kita istirahat. Simbok minta maaf kalau hari ini Sae kurang nyaman. Sae yang kuat ya Nak."
Malamnya menjelang tidur, saya membiasakan untuk mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan selama sehari.
"Hai cantik.. Kegiatan kita hari ini cukup padat ya Nak. Simbok minta maaf tadi kurang hati-hati waktu di proyek. Kita jadi jatuh. Simbok sangat bersyukur Sae baik-baik saja dan bisa bertahan hingga sejauh ini. Terimakasih ya seharian ini Sae bisa diajak kerjasama dengan baik. Sehat terus ya nak. Sampai ketemu di bulan September"
Mungkin bagi sebagian orang hal yang saya lakukan terlalu lebay, namun saya yakin komunikasi yang dibangun sejak dalam kandungan dapat membentuk anak menjadi lebih terbuka kepada orangtua. Karena pergaulan pada masa sekarang ini makin hari makin mengkhawatirkan. Jadi penting bagi kita untuk mengajarkan sikap terbuka kepada anak-anak kita dan hal tersebut bisa kita lakukan sejak anak dalam kandungan.
Nah, jika kita rutin mengajak sharing bayi sejak dalam kandungan, kita akan lihat hasilnya sejak bayi lahir. Contohnya seperti yang terjadi pada putri saya, Sae. Di usia 48 hari, saya terpaksa membawa Sae ke lokasi tes CPNS yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Satu minggu sebelumnya, secara rutin setiap malam saya bilang kepada putri saya seperti ini
"Nak, hari Senin minggu depan kita mau ke Cirebon. Simbok mau tes CPNS, selama kurang lebih 2 jam simbok tinggal tes Sae pasti lapar. Simbok minta maaf kalau sampai hari H, ASI belum bisa dipompa. Jadi sementara Sae minum sufor. Sae nanti boleh nangis. Tapi nangisnya sewajarnya saja ya Nak". (Nangis sewajarnya saya gunakan sebagai kata kalimat pengganti jangan nangis).
Dan selesai tes saya langsung menuju ruang kesehatan, Alhamdulillah putri saya tidak rewel. Dia justru tertawa ketika melihat saya. Sae nangis sejadi-jadinya ketika kami sudah sampai rumah. Hingga saat ini, usia Sae sudah 6 bulan, Sae termasuk bayi yang jarang nangis ketika saya tinggal untuk waktu lebih dari 2 jam. Padahal Sae tidak mau minum sufor dan ASI saya tidak keluar jika dipompa, hanya keluar jika langsung diberikan kepada Sae.
Semoga bermanfaat.
By: Dewi Umyati
Copyright by Babyologist
