Penyebab Hubungan Mertua dan Menantu Tidak Harmonis

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Moms, tentu kita sering menjumpai sinetron ataupun film yang menampilkan kisah ketidakharmonisan antara menantu dan mertuanya. Memang terdengar klise, namun faktanya di kehidupan nyata memang masih banyak terjadi kasus ketidakharmonisan antara mertua dan menantu. Walaupun memang ada hubungan mertua dan menantu yang harmonis, namun tak bisa dipungkiri bahwa kasus mertua dan menantu yang berkonflik jumlahnya lebih tinggi. Terlebih bila menantu dan mertua tinggal dalam satu rumah, maka risiko konflik yang mungkin terjadi akan semakin besar. Bukan rahasia umum juga bila menantu perempuan dengan mertua perempuanlah yang paling sering berkonflik. Hal ini dikarenakan jiwa kompetisi antar wanita lebih tinggi sehingga secara otomatis perselisihan dan konflik pun akan turut menyertai.
Beberapa pencetus konflik antara mertua dan menantu:
Perbedaan Umur yang Terlampau JauhPerbedaan umur yang jauh antara menantu dan mertua tentunya membuat visi, misi, perspektif dalam melihat dan menentukan suatu hal menjadi berbeda. Sering kali perbedaan pemikiran menyebabkan konflik rawan terjadi.
Perbedaan Sifat dan Latar Belakang KehidupanSetelah menikah, segala perbedaan yang ada berusaha untuk disatukan. Namun ada perbedaan yang bisa diterima dan ada perbedaan yang tidak bisa diterima. Hal-hal kontra yang terus menerus terjadi pastinya akan menimbulkan perselisihan terlebih bila masing-masing pihak merasa benar dan tidak bisa menurunkan egonya masing-masing.
Menantu Gagal Menyesuaikan Diri di Rumah MertuanyaSetelah menikah, menantu terutama yang tinggal bersama mertua otomatis harus menyesuaikan diri dengan anggota keluarga pasangan serta keadaan rumah sang mertua. Proses adaptasi ini terkadang tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan aturan dan disiplin dalam rumah pastinya tidak akan selalu sama dengan keadaan rumah keluarganya sendiri sebelum menikah. Sering kali sang mertua menilai menantunya tidak cukup baik beradaptasi dan menilainya sebagai menantu yang gagal.
Sejak Awal Sebelum Menikah, Sang Mertua Tidak Suka dengan si Calon MenantuKarena sang anak tetap bersikukuh menikahi pilihannya, maka dengan terpaksa mertua menerima sang menantu. Sikap antipati dan tidak suka akan terus membayangi. Sehingga semua hal yang dilakukan menantu menjadi salah di mata mertua.
Sikap Saling Membanding-bandingkanTidak ada orang yang suka bila dibanding-bandingkan. Sering kali mertua membandingkan menantunya dengan menantu orang lain ataupun sebaliknya.
Tuntutan Mertua Terlalu Tinggi Mertua menerapkan standar dan harapan yang tinggi terhadap menantunya. Banyaknya tuntutan terhadap menantu tanpa adanya komunikasi yang baik dari mertua berujung timbulnya konflik dan perselisihan.
Salah Satu Pihak Terlalu MendominasiSalah satu pihak entah mertua atau menantu terlalu mendominasi. Terlalu banyak mengatur dan mengendalikan banyak hal tanpa kompromi sehingga menimbulkan ketimpangan yang berakibat salah satu pihak merasa dirugikan.
Intervensi Mertua dalam PernikahanMertua yang terlalu banyak ikut campur dalam pernikahan sang anak bukanlah tindakan yang bijak dan etis. Tindakan tersebut justru akan memicu konflik dan perselisihan yang terus menerus. Terlebih bila suami tidak bisa bertindak tegas.
Rendahnya Tingkat Kematangan Emosi KeduanyaKematangan emosi memang tidak melulu ditentukan oleh faktor usia. Entah mertua atau menantu yang memiliki tingkat emosi rendah justru akan membuat suasana hubungan semakin memanas.
Adanya Jiwa KompetisiMasing-masing pihak berlomba menjadi sosok yang paling baik. Sang mertua ingin menjadi sosok yang terbaik untuk anaknya, sementara sang menantu ingin menjadi sosok yang terbaik untuk suaminya.
Adanya Perasaan CemburuSetelah menikah otomatis perhatian anak akan berubah tak melulu untuk sang ibu namun juga terbagi untuk istrinya. Terkadang sang ibu merasa sudah ada wanita baru yang akan mengubah sang anak sehingga muncul perasaan takut kehilangan anaknya. Sementara sang menantu merasa takut kehilangan sang suami bila melihat suaminya lebih lengket dengan ibunya.
Menantu Tidak Menghormati dan Tidak Bisa Menerima MertuanyaBagaimanapun mertua adalah sosok yang harus dihormati. Setelah menikah, otomatis menantu harus bisa menerima mertuanya layaknya orang tuanya sendiri.
Terlalu Banyak Perasaan KhawatirMertua sering kali merasa khawatir bahwa sang menantu tidak bisa mengurus anaknya dengan baik sebagaimana sang mertua mengurus sang anak sebelum menikah.
Perbedaan Nilai yang Dianggap PentingSebagai contoh, perbedaan gaya hidup antara mertua dan menantu. Sang menantu loyal sementara sang mertua sederhana ataupun sebaliknya. Sang mertua berpikiran tradisional sementara sang menantu berpikiran modern. Perbedaan nilai yang dianggap penting namun tidak bisa dikomunikasikan dengan baik lambat laun akan menjadi konflik.
Menelaos Apostolou seorang dosen Fakultas Humaniora, Ilmu Sosial dan Hukum University Of Nicosia memberikan saran untuk para menantu:
"Tunjukan dan yakinkan mertuamu kalau kamu adalah pasangan terbaik untuk anak mereka. Sebelum menikah, usahakan jalin hubungan dekat dengan calon mertua."
Sedangkan Ellen Breslau Pimpinan redaksi Grandparents.com memberikan saran untuk mertua:
"Jadilah temannya, bukan ibunya. Pahamilah kenyataan bahwa dialah istri anak laki-lakimu dan perlakukanlah dia sebagaimana kamu menginginkannya memperlakukanmu."
Semoga bermanfaat.
By: Kurniati Solekha
Copyright by Babyologist
