Perjalanan Melahirkanku: Sambut Buah Hati Tanpa Trauma

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perjalanan Melahirkanku: Sambut Buah Hati Tanpa Trauma

Moment Idul Fitri tahun 2018, Jumat 15 Juni 2018.
Pagi itu adzan subuh sudah terdengar, aku pun bangun, bersiap untuk salat Ied. Namun, ketika turun dari kasur rasanya ada yang keluar seperti awal mens, cek ke kamar mandi ternyata 'bloody show'. Alhamdulillah ternyata yang ditunggu2 akhirnya datang juga karena HPL tgl 17, sedangkan tetangga dan teman yang hampir sama HPLnya sudah lahiran. Setelah mandi, langsung deh ke bidan terdekat untuk cek. Di bidan saya di cek VT, Tau kan? Cek pembukaan pake jari tangan yang dimasukkan ke vagina. Ngilu rasanya, tapi setelah itu biasa aja kok. Awalnya aku takut sih, soalnya bayangin pasti sakit.
Tipsnya: ketika di VT relaks saja dan ambil nafas dalam-dalam. Jangan bayangin sakitnya tapi bayangin bakal ketemu dedek bayi.
Kata Bu Bidan, masih pembukaan 1. Beliau mengatakan bahwa biasanya kelahiran pertama itu jarak pembukaannya sangat lama bahkan bisa dua hari. Jadi, Bu Bidan meminta aku tetap beraktivitas seperti biasanya dan lakukan gerakan-gerakan yang mempercepat pembukaan. Pesan beliau jika sudah mules atau kontraksinya intens setiap 5 menit sekali segera VT lagi. Setelah itu aku pulang dan Bu Bidan tidak mau dibayar. Sungguh mulia, terima kasih Bu Bidan Arinta ❤
Pukul 06.30 WIB Masih sempat ikut ke lapangan tapi tidak ikut salat Ied, hanya berdiri nunggu di pinggir lapangan bersama perempuan2 lain yang sedang haid. Kenapa kok ikut ke lapangan? Karena rasanya ada yang kurang kalo cuma nunggu keluarga di rumah sendirian. Mungkin kalau ada orang yang melihat jadi pertanyaan. Itu orang hamil kenapa tidak ikut salat. Padahal sudah ngeflek, mau lahiran.?
Pukul 08.30 WIB Sepulang dari lapangan. Tradisi di tempat kami terdapat halal bi halal di masjid. Setelah itu, berkunjung ke tempat simbah, pakde, bude, om, bulik. Masih nyaman2 aja nyampe sore, bahkan aku masih bisa tidur siang nyenyak. Walaupun pikiran sudah gelisah dan antusias. Tidak hanya tidur, aku pun melakukan gerakan2 yang mempercepat pembukaan yang sudah aku dapatkan ketika ikut kelas Yoga. Pokoknya saat itu aku juga melakukan usaha, supaya persalinan nyaman, lancar, dan selamat.
Pukul 21.00 WIB Jam 9 malem ketika pulang ke rumah orang tuaku yang tidak jauh dari rumah. Aku merasa nyerinya semakin sering tapi aku masih merasa baik2 aja jadi aku ga panik karena kata Bu Bidan anak pertama biasanya lama pembukaannya. Rasanya seperti apa? Yang aku rasakan hanya cekit cekit aja di perut. Berhubung ini pengalaman pertamaku aku bingung apakah ini kontraksi? Malam itu aku berpikir tidak ada salahnya ngecek pembukaan siapa tau sudah nambah. Aku datang ke suatu klinik salah satu cabang dari rumah sakit yang ternama di kotaku. Eh, ternyata uda bukaan 4 tapi sudah tipis (mungkin karena sering praktik Yoga di rumah). Sampai sana Bidan bilang "Mbak kamu tahan sakit ya, udah bukaan segitu masih keliatan biasa aja". Tapi beneran deh aku ga ngerasa sakit yang gimana2 padahal aku sering baca dan denger beberapa cerita kalau sudah bukaan 4 itu mulai sakit. Rasanya cuma kayak kesemutan di daerah perut.
Pukul 21.20 WIB Setelah cek VT di klinik, aku ditanya sama Bidan mau melahirkan di mana? Aku jawab di rumah sakit yang biasa aku datangi untuk kontrol selama hamil. Aku pun bersama suami, ibu mertua, bude, dan pakde menuju ke rumah sakit. Padahal jalan menuju ke rumah sakit macet. Tradisi di daerahku ketika lebaran ada pasar malam yang pasti rame. Suami pun cari jalan pintas supaya segera nyampe sana, dia yang panik akunya tetap tenang saja duduk di mobil.
Setibanya di rumah sakit aku dicek VT lagi dong, aku suruh nunggu di IGD. Setelah mengurus administrasi aku dipersilakan menuju ruang bersalin. Ditanya tuh sama Bidan, "Mbak mau pake kursi roda atau jalan aja? Masih kuat jalan kan?" Aku jawab "Masih" "Ya udah mari mbak jalan aja malah nanti bisa mempercepat bukaan" Jalan masih biasa tuh, nyampe ruang bersalin aku diminta ganti baju. Terus aku suruh nunggu tiduran di bed luar.
Jam 10 malam masuk ruang bersalin. Bukaan mulai nambah satu, setelah masuk ruang bersalin kontraksinya makin terasa, namun aku masih bisa mengendalikan kontraksi. Yang aku lakukan hanya minum dan makan kurma. Sebetulnya aku belum makan malam tapi mau makan nasi tuh rasanya udah ga nafsu. Waktu itu yang nunggu gantian antara ibu, ibu mertua, dan suami. Nah, mulai bukaan 8-10 aduhaiiii rasanya nikmat sekali, yang dampingi aja nyampe ikut bantuin atur nafas (suamiku).
Pukul 01.00 WIB hari Sabtu Sabtu, kurang lebih jam 01.00 bukaan lengkap dan sudah diperbolehkan ngeden. Dimulailah drama 'ngeden'...kayaknya cuma 'ngeden' ya pasti semua juga bisa, tapi ternyata 'ngeden' yang ini aku kok merasa tidak segampang yang dibayangkan. Katanya ngedenku di tenggorokan. Sejam sendiri aku ngeden tapi ga keluar2. Hanya kepala aja yang kelihatan, cerita dari suamiku. Nyampe Bidan memintaku untuk lebih semangat. Berkat dua bidan yang super sabar nunggu selama satu jam buat aku bisa 'ngeden' yang bener, diakhiri dengan bimbingan 3* doa Hasballah oleh dua bidan dan dampingan suamiku.
Pukul 02.03 Lahirlah bayi laki-laki kami melalui persalinan pervagina dengan berat 3,45 panjang 50 cm.
Kalau ditanya sakit ga sih melahirkan? Enggak sakit bahkan aku lupa rasanya melahirkan seperti apa. Sakitnya itu ketika dijahit. Soalnya aku dijahit banyak karna susah ngedennya. Aku ga tahan deh ketika dijahit nyampe aku bilang "Aduh Buk pelan-pelan masih lamakah?" Tapi, kalo Mom lebih bisa pinter ngedennya pasti ga akan dirobek panjang kayak aku ?
Terima kasih ya Allah sudah membersamai kami, Engkau lancarkan hajat kami....Alhamdulillah ?? Terima kasih, juga buat kedua pasang orang tua yang setia menemani dan mendoakan di luar ruang bersalin hingga rela tidak tidur dan bermalam di rumah sakit.
