Proses Melahirkan Normal dengan Induksi

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Proses Melahirkan Normal dengan Induksi
Dari awal aku dinyatakan positif hamil, aku sudah bertekad untuk melahirkan dengan cara normal. Sebenarnya dengan cara apapun nantinya, aku akan menerima, tapi jika di awal aku bisa mengusahakan normal, aku akan coba sebisaku. Sejak usia kandungan memasuki 32 minggu, aku sudah mulai rajin ikut senam hamil yang diadakan di rumah sakit seminggu sekali. Menjelang memasuki usia 38 minggu, aku mulai memperbanyak jalan kaki dan aktivitas-aktivitas yang dapat memancing datangnya kontraksi. Segala cara sudah ku coba, mulai dari jalan kaki sebanyak mungkin dengan berkeliling mall to mall (sampai aku sudah bingung mau ke mall mana lagi karena hampir semua mall di Jakarta sudah ku datangi untuk memancing baby keluar), cuci baju jongkok, ngepel jongkok, senam hamil di rumah dipandu oleh youtube, minum jus nanas, sampai induksi alami. Tapi hasilnya masih nihil, kontraksi itu belum muncul juga. Hanya ada sesekali kontraksi palsu, tapi itu juga minim sekali dan hanya sebentar.
Saat kontrol dokter di usia kandungan 39 minggu dan melakukan CTG untuk yang kedua kalinya selama masa kehamilan ini, hasilnya masih belum ada tanda-tanda kontraksi. Dokter masih memberikan kami (aku dan suami) waktu untuk melakukan berbagai cara supaya kontraksi itu bisa muncul tanpa induksi. Aku pun juga masih optimis kalau aku pasti bisa melahirkan dengan cara normal, jadi aku coba lagi segala cara untuk memancing kontraksi. Sampai-sampai aku menyetir dan bermain basket + main balap mobil di timezone untuk memancing kontraksi. Tentu saja semua itu lakukan dengan pengawasan dari suami ya.
Sampai akhirnya tiba pada kontrol dokter saat usia kandungan 40 minggu. Kepala baby belum juga terlalu turun ke panggul, tapi sudah terarah. Plasenta sudah mulai mengalami penuaan tapi air ketuban masih bagus. Dokter kembali memberi opsi. Kondisi masih memungkinkan untuk menunggu sampai 41 minggu, tapi berat baby ditakutkan akan semakin membesar dan membuat sulit untuk melahirkan normal. Akhirnya setelah pertimbangan dengan suami, aku dan suami memutuskan untuk induksi.
Aku sudah pasrah dengan apapun yang terjadi karena induksi pun bisa jadi belum tentu melahirkan dengan normal, tergantung dengan respon dari baby dan perutku. Setidaknya aku sudah berusaha semampuku. Selebihnya biar baby yang menentukan jalan lahirnya nanti, aku sebagai mama akan berusaha sebisa mungkin.
Induksi pun dimulai!
00.00
Setelah di CTG, obat dengan ukuran 1/8 tablet, dimasukkan ke dalam vaginaku. Jadi induksi yang aku lakukan ini via obat dulu, bukan via infus. Rasanya? Belum ada efek apa-apa, aku masih bisa tidur.
03.00
Rasa mules mulai muncul tapi ini masih bisa aku tahan dan belum terlalu mengganggu walaupun sudah cukup membuat aku tidak bisa tidur.
06.00
Rasa mules makin meningkat kurang lebih 10 menit sekali. Suster datang untuk CTG kembali dan hasilnya kontraksi sudah mulai muncul rutin. Suster melakukan cek pembukaan dan ternyata baru pembukaan 1. Waw oke, perjalanan masih panjang berarti. Karena masih pembukaan 1, suster akhirnya menambahkan obat lagi ke dalam vaginaku. Dan sejak obat itu masuk, kontraksi yang datang semakin cepat dan semakin mules, sekitar 3 sampai 5 menit sekali.
Kontraksi datang bertubi-tubi dan benar-benar tidak ada jeda untuk istirahat. Yang bisa ku lakukan hanya mengatur nafas dan mencoba menikmati gelombang cinta yang datang. Sempat terpikir untuk menyerah dan memilih caesar aja karena aku rasa tidak sanggup menahan mules kontraksi ini. Tapi di saat itu suamiku selalu memberikan semangat, kalau aku sudah sampai berpikir ingin menyerah berarti tandanya tinggal sedikit lagi baby akan lahir. Perjalanan waktu dari jam 6 pagi sampai 12 siang terasa sangat lama sekali. Aku sama sekali tidak bisa tidur dan makan. Setiap gelombang cinta itu datang lagi, aku hanya bisa menggenggam tangan suami dan memintanya mengelus-elus bagian yang terasa sangat mules dan sakit.
12.00
Suster akhirnya datang dan melakukan cek pembukaan. Ternyata sudah pembukaan 5, pantas terasa sangat menekan di area bawahku dan kontraksi makin rutin. Aku akhirnya dipindahkan ke ruang tindakan. Selama proses pemindahan, rasa ingin mengedanku semakin tinggi dan katanya itu tanda kalau pembukaan sudah semakin dekat dengan persalinan. Ini masa yang menurutku paling sulit karena harus menahan mengedan dengan kondisi sangat ingin mengedan. Di saat aku harus berusaha pindah ranjang ke ranjang persalinan, di saat itulah ketubanku pecah. Hasrat ingin mengedan semakin menjadi-jadi tapi untungnya ada suster yang membantu menahan pantatku supaya tidak mengedan dulu sampai pembukaan lengkap.
13.35
Akhirnya dengan segala perjuangan sampai di pembukaan 10 dan mengedan beberapa kali (karena jujur aja saat pembukaan lengkap dan aku sudah boleh mengedan, justru aku merasa nafas dan tenagaku sudah habis), lahirlah putri pertamaku Gianella Valerie Marius ke dunia. Rasanya mendengar tangisan baby Gia dan akhirnya ia keluar dari rahimku itu sangat luar biasa. Setelah baby Gia dibersihkan dan di cek oleh dokter, barulah ia ditaruh di dadaku untuk IMD sambil dokter melakukan penjahitan pada vaginaku.
Setelah melewati perjalanan dan perjuangan panjang, akhirnya baby Gia lahir dengan selamat dan sehat tanpa kekurangan apapun pada hari Rabu, 15 Mei 2019. Sempat khawatir karena sampai kontrol dokter terakhir, baby Gia ada terlilit tali pusat tapi ternyata semua masih aman dan persalinan berjalan dengan lancar.
