Konten dari Pengguna

Saya Pejuang ASI

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya Pejuang ASI

Menyusui adalah momen indah dan menyenangkan, tapi dalam prosesnya kita juga merasakan sakit perihnya. Puting lecet sampai berdarah, payudara bengkak sakit sampai demam dan digigit dan ditarik sama anak adalah yang pernah saya alami.

Ketika Nabilla lahir, th 2018, saya tidak belajar apa-apa tentang menyusui. Sekedar tahu, yakin dan bertekad bahwa saya akan menyusui anak saya secara eksklusif 6 bulan dan lanjut sampai 2 tahun.

Awalnya, saya pikir menyusui itu alamiah saja, ibu hanya tinggal sodorin PD dan bayi akan langsung pinter menyusu then enjoy the breastfeeding moment. Tetapi ternyata tidak begitu kenyataannya. Pertama kali, Nabilla menyusu ketika IMD. Prosesnya hanya beberapa menit dan bayi diarahkan ke PD. Dengan pengawasan tenaga medis/keluarga (soalnya ibunya kan biasanya masih ‘teler’), bayi dibiarkan mencari sendiri PD ibunya dan ketika sudah ‘dapat’, bayi akan langsung menyusu. Idealnya IMD ini berlangsung selama 1 jam.

Pertemuan selanjutnya dengan Nabilla adalah setelah beberapa jam pemulihan. Saya ingat sebelumnya saya ditanya oleh suster apakah anak saya akan ASI eksklusif atau tidak. Tentu saja saya jawab ASI. FYI (khususnya yang blm tau), bayi baru lahir bisa bertahan untuk tidak menyusu sampai 3×24 jam. Jadinya, meskipun baru beberapa jam kemudian saya bertemu lagi dengan Nabilla, saya yakin Nabilla baik-baik saja dan tidak memerlukan sufor sebagai pengganti ASI.

Di pertemuan pertama ini, suster membantu memposisikan Nabilla dan mengajarkan saya untuk menyusuinya. Sakit bekas melahirkan membuat saya tidak leluasa untuk bergerak. Tapi suster dan juga suami membantu saya untuk belajar menyusui. Namanya orangtua baru, ketika suster meninggalkan kami, barulah saya merasakan susahnya menyusui. Susah sekali membuat mulut Nabilla benar-benar lekat dengan PD saya. Susah sekali membuat Nabilla bisa menyusu dengan benar sehingga mulutnya tidak terlepas-lepas. Suami pun tidak bisa membantu saya seperti suster tadi.

Kesusahan menyusui masih saya rasakan ketika saya sudah pulang ke rumah sampai di minggu pertama kelahiran Nabilla. Setiap mau menyusui, saya butuh waktu mungkin sekitar 5-10 menit untuk membuat Nabilla sudah dalam posisi yang benar, tidak terlepas-lepas dan PD saya tidak menutup hidung Billa. Awal penuh keringat dan stress, mengingat ketika saya sedang mencari posisi yang tepat, Billa udah keburu nangis-nangis gak sabar mau menyusu.

Lewat minggu pertama, akhirnya saya mulai bisa langsung menyusui tanpa ‘pemanasan’ 5-10 menit itu. Namun, ujian berikutnya harus saya hadapi. Puting saya lecet, luka dan berdarah. Saya ingat waktu itu mulut Nabilla sampai seperti berlumuran darah karena ASI saya sudah bercampur darah. Meski sakit bangeeett ketika menyusui, apalagi ketika ‘sedotan’ pertama, saya tetap bertahan untuk menyusui. Ada kalanya, saya tidak kuat lagi menahan sakit, hingga PD yang lecet saya ‘istirahatkan’ (hanya dipompa supaya tidak bengkak) dan saya hanya menyusui dengan satu PD saja. Ya, untungnya puting lecet ini biasanya bergantian antara PD kanan dan kiri, gak pernah dua-duanya bersamaan luka parah.

Dan alhamdulillah saya bisa menyusui nabilla hingga 6 bulan. Dan akan saya lanjutkan hingga 2 tahun. Semangat MENGASIHI moms!