Sebaiknya Vaksin di Posyandu, BKIA atau Rumah Sakit?

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjadi ibu baru membuat saya belajar tentang hal baru dan mencari tahunya. Salah satunya tentang vaksin anak. Masih ingat betul saat Clive berumur seminggu setelah lahir, ada saudara bilang kalau mau vaksin di posyandu saja enak gratis daripada di dokter spesialis anak. Sepengetahuan saya vaksin itu lumayan mahal ya, seperti Clive awal lahir sudah vaksin hepatitis itu bayar ratusan ribu lho. Nah begitu ada saudara bilang gratis saya juga kaget kok bisa? Iya bisa dong, karena vaksin yang ada di posyandu adalah vaksin wajib pemerintah dan semuanya berasal dari pemerintah dan gratis. Selain itu saudara juga menginformasikan kalau di BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) juga harga untuk vaksin jauh lebih murah daripada di DSA.
Lalu timbullah perdebatan antara kami (suami dan saya) dengan mertua. Kata mertua jangan vaksin di posyandu kasihan Clive nanti dikasih obat yang kualitasnya jelek, namanya gratisan takutnya ga sebagus kayak di dokter. Kalau saya dan suami sebenarnya tidak masalah kalau vaksin di posyandu, tapi karena malas berdebat dengan orang tua dan takut menimbulkan masalah kami sepakat cari aman saja coba vaksin di BKIA.
Pertama kali ke BKIA harus daftar dulu dan bayar di kasir, kagetnya bukan main masih ingat jelas untuk vaksin DTP kami cuma bayar 99 ribu saja, padahal sebelumnya vaksin untuk BCG dan hepatitis itu harus bayar 200 ribu-300 ribu sekali vaksin. Dan begitu kaget lagi melihat daftar rincian pembayaran untuk obat vaksinnya itu 0 rupiah lho Moms, jadi bayar 99 ribu itu untuk biaya pendaftaran, alat suntiknya, dll. Oh ya kami waktu itu ke BKIA juga masih punya rumah sakit swasta RKZ di Surabaya, jadi kalau di BKIA ini cuman ada bidan tidak ada dokternya.
Apa bedanya vaksin di posyandu, BKIA/bidan dan Rumah sakit?
1. Gratis dan berbayar Kalau di posyandu itu saya pernah tanya memang biaya vaksin gratis ya, saya cuma ke posyandu untuk nimbang Clive aja. Kenapa biaya vaksin di fasilitas tersebut bisa murah, bahkan gratis? Karena vaksin-vaksin ini disubsidi oleh pemerintah agar bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kalau kita vaksin dengan jasa DSA di rumah sakit atau tempat praktiknya sendiri, kita bayar mahalnya karena jasa DSA dan rumah sakit tentu memiliki biaya operasional yang lebih besar juga.
2. Kelengkapan jenis vaksin Di posyandu, bidan hanya menyediakan vaksin untuk imunisasi dasar wajib yaitu BCG, DPT, Polio, Hepatitis B, Hib, dan campak, serta yang terbaru tahun lalu adalah MR. Artinya, tidak semua vaksin tersedia selain vaksin dasar wajib itu.
Di DSA, jenis vaksin yang disediakan lebih lengkap dibandingkan dengan yang ada di posyandu atau bidan. Selain itu tersedia juga vaksin tambahan yang dianjurkan oleh IDAI. Dan ada pilihannya juga lho mau pakai vaksin yang mana, misalnya untuk DPT bisa menggunakan vaksin lokal (merek Pentabio yang efek sampingnya bisa menimbulkan demam) atau vaksin impor (merek Pediacel yang relatif tidak menyebabkan demam).
3. Waktu pemberian imunisasi Biasanya di posyandu atau bidan ada jadwal vaksinasi tersendiri, misal seminggu sekali di hari tertentu. Kayak dulu Clive di BKIA untuk vaksin DPT cuma ada di hari Sabtu saja, dan waktu itu saya datang di hari lain ya jelas tetap tidak dilayani. Hal ini disebabkan vaksin yang disediakan satu kemasannya digunakan untuk banyak anak. Misalnya nih untuk vaksin DPT satu kemasan yang berisi 20 cc bisa digunakan untuk 10 anak. Oleh karena itu, puskesmas hanya melayani jadwal imunisasi di hari tertentu (biasanya seminggu sekali). Dan kalau di BKIA seperti Clive dulu malah kadang harus daftar dulu untuk imunisasi supaya jumlah anak sesuai pada hari yang ditentukan. Kalau di DSA kita bisa saja setiap saat datang untuk meminta vaksin asalkan stoknya tersedia. Biasanya DSA menggunakan vaksin dan satu kemasan vaksin hanya dipakai untuk satu anak. Hal ini memang lebih praktis ya, tapi dampaknya ada harga mahal yang harus kita keluarkan.
Jadi sebaiknya imunisasi di mana?
Nah kalau ini tergantung dari keputusan Moms sendiri ya. Kalau saya lebih memilih BKIA alias bidan, kenapa? Dilihat dari KUALITAS vaksin yang SAMA saja, bedanya di jasa dokternya saja ya secara garis besar. Kalau ada yang lebih murah, ngapain cari yang lebih mahal? Bayangkan sekali vaksin di bidan cuma 100 ribu sementara di dokter 200 ribu lebih bahkan ada yang 900 ribu seperti DPT. Oh ya karena di BKIA cuma ada vaksin wajib aja, Clive vaksin tambahan juga dilakukan di RKZ juga ya cuma di pondok sehatnya, jadi yang suntik dokter umum dan harga lebih murah juga daripada DSA.
Nah untuk Moms yang vaksin di posyandu juga ga perlu khawatir karena prosedur dalam menyimpan, mengangkut, dan pendistribusian vaksin di posyandu diawasi oleh negara. Jadi, tidak ada salahnya kalau kita ikut mendukung program pemerintah ini.
