Konten dari Pengguna

Separation Anxiety Pada Bayi, Apa Ciri-Cirinya? Bagaimana Mengatasinya?

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Separation Anxiety Pada Bayi, Apa Ciri-Cirinya? Bagaimana Mengatasinya?

Apakah bayi bisa mengalami separation anxiety? Bisa ya Moms.

Saat ini, saya merasa bahwa Rubi sedang mengalami fase sulit berpisah. Di usianya yang hampir 6 bulan ini, Rubi sangat sulit ditinggal, bahkan saat dia sedang bersama Papah, Kakek Nenek, Mbah Buyut ataupun Om dan Tantenya. Matanya akan selalu mencari di mana posisi saya, dan begitu sudah terlihat, dia akan menangis. Akibatnya, saya pun harus mencari sela jika ingin beraktifitas saat dia dalam kondisi bangun.

Meskipun demikian, menurut beberapa literatur yang saya baca, separation anxiety pada bayi memang hal yang sangat wajar. Bayi di usia Rubi mengalami fase "object permanence". Bayi sudah tahu bahwa suatu obyek itu ada dan terlihat meskipun berada ditempat yang jauh, termasuk Ayah dan Ibu, namun belum bisa mengenal konsep waktu. Jadi bayi tidak tahu Ibunya kapan akan kembali dan akhirnya merasa gelisah kemudian menangis. Nah hal inilah yang terjadi pada Rubi, apalagi Rubi selalu berada di rumah bersama saya, sehingga saat berpisah dia akan merasa gelisah dan menangis.

Bayi yang mengalami Separation Anxiety memiliki beberapa ciri seperti yang terjadi pada Rubi, yaitu:

1. Menangis jika ditinggalkan bersama orang lain

Rubi memang kerap kali menangis jika bersama orang lain, karena terbiasa hanya melihat saya dan suami di rumah. Bahkan beberapa kali kejadian saat Rubi digendong Papahnya sementara saya akan mandi, dia langsung menangis kencang.

2. Sering terbangun saat tidur

Nah pola tidur Rubi jadi sedikit kacau nih Moms. Dia jadi tidak bisa tidur nyenyak. Waktu tidur siang dia hanya 30 menit tidurnya atau saat malam hari pun dia sering terbangun. Namun saat saya coba temani tidur, dia tidurnya jadi lebih lama. 

3. Tidak suka ditinggal sendirian

Rubi marah dan gelisah Moms kalau ditinggal sendiri di dalam kamar misalnya. Kakinya dihentakkan ke tempat tidur dan tangannya menggapai-gapai sambil menggeram dan berteriak. Huhuhu. Selain itu telapak kakinya jadi dingin. Setelah saya disampingnya, dia berubah 180° jadi girang dan banyak tersenyum. Saat sedang bermain pun dia harus ditemani Moms.

Sebenarnya dengan sulit berpisahnya Rubi dari saya, saya mengalami pergolakan batin Moms. Saya khawatir Rubi terlalu attached ke saya sehingga "melupakan dan mengabaikan" anggota keluarga lain, terutama Papahnya. 

Lalu, apa yang saya lakukan untuk melatih kemandirian Rubi?

1. Mengalihkan perhatiannya dengan berbagai macam mainan dan buku

2. Meninggalkan Rubi saat sudah asyik bermain atau saat sedang tidur

3. Membawa Rubi untuk berkenalan dengan orang lain, misalnya bermain dengan tetangga atau pergi ke tempat ramai

4. Sounding, saya meminta ijin Rubi saat akan meninggalkan dia, misalnya "Dek, Mimi ke kamar mandi sebentar ya, boleh? Sebentar saja ya Sayang"

5. Memberikan waktu kepada suami saya untuk bersama Rubi selama mungkin

6. Konsisten, saat akan meninggalkan Rubi saya konsisten meskipun dia menangis. Eventually, dia akan belajar tentang suatu konsep

Kalau Moms, apa yang Moms lakukan saat bayi mengalami Separation Anxiety?