Konten dari Pengguna

Si Kecil Mudah Marah? Simak 5 Cara Mengatasi Amarah Anak

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki usia balita, si Kecil sudah semakin pandai meluapkan emosinya. Namun, tak jarang emosi tersebut meluap-luap secara berlebihan dalam bentuk amarah, tangisan, bahkan teriakan. Cara meluapkan emosi seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena bisa membentuk kepribadian pemarah dalam diri si Kecil.

Berikut ini ada sedikit penjelasantentang cara mengatasi amarah si Kecilagar tidak menjadi kebiasaan buruk hingga dewasa nanti.

5 Trik Hadapi Amarah Anak

Cari tahu penyebab si Kecil marah

Cari tahu mengapa si Kecil marah. Dorong si Kecil mengungkapkan isi hatinya.

Tenangkan si Kecil dengan suara halus namun tegas

Jelaskan kepada si Kecil bahwa marah dan bertindak agresif itu tidak baik. Katakanlah pada si Kecil bahwa memiliki perasaan marah itu adalah hal normal namun jangan sampai memukul atau menyakiti orang lain. Jelaskan hal ini sambil menatap matanya dan dengan nada suara halus tetapi tegas.

Beri perhatian lebih

Si Kecil mungkin marah dan agresif karena ingin mendapatkan perhatian cukup. Sebagai orang tua, Moms & Dads harus sering meluangkan waktu bersama dan memberikan pelukan, mengelus kepala dan punggung, serta menyemangati usahanya.

Membangun komunikasi

Orang tua adalah tujuan utama anak berkeluh kesah dan berbagi cerita. Bangun komunikasi dengan cara mendengarkan apa yang ingin disampaikan si Kecil. Berikan nasihat-nasihat membangun untuk mengatasi masalahnya. Ini akan membuat si Kecil merasa aman dan selalu diperhatikan orang tua.

Berikan teladan yang baik

Orang tua adalah guru pertama bagi anak. Tunjukkan perilaku baik di depan si Kecil. Hindari berkata kasar, membentak, memukul, membandingkan si Kecil dengan orang lain, dan membiarkan si Kecil menonton adegan yang belum sesuai usianya.