Sunat Ketika Fimosis

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sunat Ketika Fimosis
Kami memang berniat untuk melaksanakan sunat si adek pas usia 2 bulan. Alasan kami supaya tidak ada trauma pada anak, perawatannya mudah, pemulihannya cepat dan terhindah dari penyakit infeksi saluran kencing. Kemudian kami datang ke sebuah klinik sunat terkenal di Bandung untuk berkonsultasi.
Pada saat konsultasi ternyata anak kami divonis fimosis. Dokter menyuruh kami untuk mencari tahu lebih banyak tentang fimosis di internet. Dokter hanya menjelaskan garis besarnya bahwa lubang air kencingnya kecil sehingga kalau pipis itu penisnya menggelembung dulu, urin tertahan di kulit sehingga akan ada urin yang tersisa di kulit. Nah ini, yang akan menyebabkan penyakit infeksi.
Kemudian dokter memperlihatkan kepada kami foto-foto pasca sunat. Agak ngeri juga lihatnya. Pemulihannya lebih lama dibanding yang normal sekitar 2 minggu.
Setelah itu dokter menjelaskan bagaimana perawatan pasca sunat yaitu:
1. Tidak boleh pakai popok sekali pakai
2. 3 kali sehari ditetesi obat
3. Setiap pipis harus ditetesi obat
4. Tidak boleh kena air kencing/urin
Nah, dikarenakan tidak boleh terkena air kencing disarankan untuk mencatat jam-jam si adek pipis. Jadi diobservasi dulu untuk jadwal pipisnya. Bahkan, malam pun tetap harus dipantau. Tanpa pikir panjang kami langsung membuat jadwal sunat dengan dokternya.
Sesampainya dirumah kami googling mengenai fimosis dan metode sunat. Informasi yang saya dapat fimosis itu suatu kondisi dimana kepala penis tertutupi kulup atau kulit sehingga tidak dapat ditarik ke belakang. Hal ini dikarenakan adanya penyempitan di ujung kepala penis atau adanya perlengketan kulup. Fimosis umumnya karena kelainan bawaan lahir tetapi ada juga karena kebersihan yang kurang terjaga dengan baik. Orang tua harus mengenali tanda-tanda fimosis.
Berikut ini adalah tanda-tanda fimosis:
1. Perhatikan ketika mandi. Apabila kulup tidak bisa ditarik ke belakang dan kepala penis tidak terlihat. Kemungkinan anak mengalami fimosis
2. Perhatikan pada saat anak pipis. Jika penis nya menggelembung dulu pada saat akan pipis, kemungkinan anak mengalami fimosis.
Kemudian kami berdiskusi tentang metode sunat. Ternyata ada 3 metode sunat yaitu konvensional, laser dan klamp. Kami mencari tahu masing-masing kelebihan dan kekurangannya. Pilihan kami jatuh pada metode klamp. Alasannya karena perawatannya mudah, tidak dijahit, tidak ada pendarahan dan lebih aman dibandingkan dua metode lainnya.
Akhirnya kami pindah klinik yang memfasilitasi sunat dengan metode smart klamp. Harga nya pun tidak jauh berbeda dengan metode konvensional. Oh iya, klinik yang sebelumnya kami datangi itu khusus untuk metode konvensional saja.Tidak ada persiapan khusus sebelum disunat. Kami dijadwalkan pukul 06.15 WIB sudah harus disana.
Tiba di klinik, tidak lama menunggu langsung dipanggil untuk tindakan. Ternyata harus ada 2 orang yang mendampingi. Pada saat itu hanya saya, suami dan anak pertama saya. Saya dan suami masuk ke ruang tindakan. Anak saya memunggu di luar. Dokter menyuruh saya memegangi kedua tangan adek dan suami memegangi kedua kakinya. Kemudian dibius lokal diarea genital.
Selama tindakan pemasangan klamp saya tidak berani melihat, hanya suami yang melihat dari awal sampai akhir tindakan. Tindakannya kurang lebih selama 15 menit dan adek nangis dari awal sampai akhir tindakan. Baru sampai rumah berhenti nangisnya.
Tidak ada perawatan apapun selama masih dipasang klamp. Boleh mandi dan pakai popok sekali pakai. Tetapi saya tidak pakaikan popok sekali pakai karena setiap habis pipis pasti urin nya tertampung di tabungnya jadi harus segera dibuang. Kalau pakai popok sekali pakai kan tidak kelihatan pipisnya. Sehari sebelum kontrol 3 jam sekali (sesering mungkin) ditetesi baby oil yang banyak di bagian yang menghitam (yang dijepit klamp) dan berendam 10-15 menit pada saat mandi pagi, sore dan pagi ketika akan kontrol. Sore hari nya bagian klamp harus sudah dilepas dengan cara mengguntingnya dengan gunting kuku. Alhamdulillah selama dipasang klamp ini adek tidak rewel sama halnya seperti biasa.
Ketika kontrol untuk pelepasan tabungnya ternyata masih lengket. Si adek kesakitan pas mau dilepas. Ditetesi baby oil lagi dan ditunggu 1 jam. Setelah 1 jam sebagian tabung sudah terlepas. Akhirnya suster melepasnya dengan mudah dan Alhamdulillah adek tidak kesakitan.
Perawatan pasca dibukanya klamp dikompres dengan cairan infus/NaCl. Supaya cairan penyembuh luka nya yang berwarna putih tidak semakin banyak. Nanti bagian yang hitamnya akan lepas. Total pemulihannya kurang lebih 2 minggu sejak dipasang klamp. Alhamdulillah perawatannya mudah, no ribet-ribet club.
