Konten dari Pengguna

Takut Pasang IUD? Ternyata Tak Seseram yang Dibayangkan

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Takut Pasang IUD? Ternyata Tak Seseram yang Dibayangkan

“Wah, anaknya sudah besar nih, kapan mau kasih adik?”

“Tambah lagi dong, mumpung masih muda”“Itu anaknya udah minta adik tuh”Moms sering menerima ucapan diatas? Atau Moms yang sering melontarkan perkataan tersebut?Bicara soal menambah momongan, tentunya akan menjadi topik yang tidak ada habisnya. Entah itu sekedar berbasa basi, ataupun memang saran tulus yang diucapkan sanak saudara maupun teman. Namun satu hal yang kita perlu tahu bahwa, tiap keluarga memiliki valuenya sendiri. Ada yang menginginkan banyak keturunan, ada yang menginginkan anak dengan jumlah tertentu, bahkan ada yang tidak menempatkan anak dalam bucket list kehidupan mereka. 

Lalu bagaimana denganku? Jujur saja, jika ini ditanyakan kepada saya, saya pribadi setelah memiliki dua orang anak, belum berencana akan menambah momongan dalam waktu dekat. Bukan menolak rejeki, bukan. Hal ini justru muncul setelah pengalaman saya mengandung, melahirkan serta mengurus dua orang anak. Karena saya dan suami sadar, menambah momongan tak sekedar menambah jumlah tabungan akhirat, namun juga menambah tanggung jawab kami sebagai orang tua.

Lalu bagaimana dengan ungkapan, “banyak anak banyak rejeki”?Tentu saja memiliki anak merupakan suatu anugerah yang indah, namun keputusan untuk memiliki anak ataupun menambah momongan, tak sekedar urusan materi semata. Bukan tak meyakini dengan kehebatan ungkapan diatas, namun bicara soal anak, maka kesiapan orang tua dalam mengurus dan mendidik anak juga menjadi aspek penting yang perlu dipertimbangkan.

Setelah melahirkan anak kedua, saya dan suami memutuskan untuk mengatur kelahiran berikutnya dengan KB. Karena  kami belum pernah menggunakan alat kontrasepsi, maka dalam memilih jenis KB yang akan kami pakai memerlukan riset yang cukup panjang. Setelah menimbang dan berkonsultasi dengan beberapa ahli, akhirnya kami memutuskan agar saya memakai IUD. 

IUD (intrauterine device) adalah alat kontrasepsi dalam rahim yang berfungsi untuk mencegah kehamilan  dengan cara menghambat gerakan sperma menuju saluran rahim,  sehingga tidak terjadi pembuahan. IUD terdiri dari 2 jenis, yaitu IUD berlapis tembaga (nonhormonal) dan IUD hormonal. Kami memilih IUD non hormonal, yaitu Nova-T.  Mengapa memilih IUD Nova-T sebagai alat kontrasepsi?

Banyak pertimbangan mengapa kami memilih IUD Nova-T sebagai alat kontrasepsi, antara lain:

• Merupakan alat kontrasepsi non hormonal. Karena saya masih menyusui, kami mengeliminasi alat kontrasepsi hormonal. IUD berlapis tembaga merupakan salah satu opsi terbaik karena produksi asi tidak terganggu. Selain itu tidak memberikan efek samping lain seperti kenaikan berat badan atau munculnya flek di wajah. Menstruasi juga tetap datang setiap bulan, jadi tidak  menimbulkan keraguan atau kekhawatiran.

• Masa pakai IUD lama. Kami memilih memakai IUD yang bertahan 5 tahun. Hal ini dikarenakan kami memang tidak berencana menambah momongan dalam waktu dekat.

• Angka keberhasilan tinggi. Dengan IUD ini, kehamilan dapat dicegah 99,4%. Artinya dari 100 wanita yang memakai, hanya sekitar 1 orang yang berkemungkinan tetap hamil. Hal ini dapat dipastikan dengan memakai IUD dengan tepat.

• Praktis. Karena cukup memasang 1 kali, bisa mencegah kehamilan hingga 5 tahun mendatang. Kita hanya perlu kontrol 6 bulan sekali untuk memastikan letak IUD masih tepat dan tidak ada indikasi lain pada rahim.

Bagaimana sih rasanya pasang IUD? Apakah sakit?

Sebelum memasang IUD, saya juga merasakan ketakutan seperti Moms loh. Sering kali saya membatalkan rencana untuk memasang IUD karena rasa takut tersebut. Karena pada saat itu saya belum datang bulan pasca melahirkan, saya masih merasa ada satu pertahanan untuk tidak hamil. Namun ketika memasuki 18 bulan pasca bersalin, saya menstruasi. Saat itu baru terasa paniknya. Kenapa panik? Ya karena saya sadar bahwa kemungkinan saya untuk bisa hamil lagi setelah ini menjadi semakin besar. Karena ketakutan akan hamil lagi lebih besar dari ketakutan saya memasang IUD, maka sayapun nekat ke rumah sakit untuk pasang IUD.

Saat itu, hari ke empat siklus menstruasi kedua saya. Saya ke rumah sakit diantar oleh suami dan anak-anak. Namun karena khawatir anak-anak akan terpapar penyakit lain di rumah sakit, suami dan anak-anak menunggu di mobil. Dengan perasaan waswas, saya mendaftar dan menunggu antrian untuk berjumpa dengan Obgyn wanita pilihan saya. Saat di meja registrasi perasaan saya sudah tidak karuan, saya panik, tensi sampai melonjak ke angka 190. Perawat sampai bertanya, memastikan saya apakah ada riwayat hipertensi, padahal tidak ada, dan itu murni karena saya panik seorang diri. Kemudian saya mencoba rileks, saya berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu, minum, dan menyibukkan diri agar tidak tegang.

Hingga akhirnya nomor antrian saya dipanggil, dan sayapun masuk ke dalam ruang periksa. Disana dokter obgyn yang memeriksa saya menjelaskan setiap detail dengan sangat baik dan menenangkan. Setelah menjelaskan dan memeriksa kondisi rahim dengan alat USG, dokter akhirnya memulai proses pemasangan yang diawali dengan membersihkan area vulva dan sekitarnya agar steril dan tidak terkontaminasi oleh bakteri dan kuman. Selanjutnya dipasangkan alat spekulum cocor bebek yang berfungsi untuk membuka vulva dan memudahkan pemasangan IUD. Pada saat pemasangan cocor bebek ini, hanya terasa ngilu sedikit. Sedikiiiiiit sekali, diluar dugaan saya yang mengira akan sakit yang bagaimana. Selanjutnya dimasukkanlah Nova-T ke dalam rahim dan setelahnya dalam proses yang sangat singkat, proses pemasangan IUD telah selesai. Ya, sangat singkat, mungkin hanya sekitar 5 menit dan tidak ada rasa sakit seperti yang kita pikirkan, Moms.

Lalu bagaimana rasanya setelah IUD terpasang? Nyaman. Sangat nyaman. Saya hampir tidak mengalami keluhan apapun, seperti pendarahan atau yang lainnya. Hanya saja oleh obgyn diingatkan untuk tidak berhubungan badan dulu sampai 5 hari setelah pasang, dan jangan berolahraga berat dulu sebulan kedepan. Selebihnya, lakukan aktivitas seperti biasa, tidak ada pantangan apa-apa. Menarik bukan? So, bagi Moms yang masih ragu untuk berKB, semoga bisa memberikan gambaran tentang memakai IUD ya Moms, karena tidak seseram yang dibayangkan.

Memiliki anak adalah suatu amanah dari Yang Kuasa, oleh sebab itu perlu direncanakan dengan matang ya Moms agar dapat menjaga amanah tersebut dengan baik dan bahagia.