Tantangan Menjadi Ibu yang Memiliki Anak Kembar

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya adalah seorang ibu yang mempunyai anak kembar, dan saya juga bekerja. Mempunyai anak kembar bukanlah hal yang mudah, banyak sekali perasaan dilema yang saya rasakan, mulai dari susah menemukan pengasuh yang cocok, adanya sibling rivalry, dan lain-lain.
Banyak beredarnya pemberitaan tentang kejahatan menguatkan pendirian saya untuk selektif dalam mencari pengasuh untuk anak kembar saya. Ya, di situ saya dilema. Sudah lama mencari pengasuh, tidak ada yang cocok dengan feel saya. Terlebih anak kembar saya sudah mau menginjak umur 2 tahun di mana mereka sedang aktif-aktifnya.
Dalam mengasuh anak kembar, sibling rivalry memang challenge-nya yang mungkin harus membutuhkan tenaga ekstra. Bila mereka sedang sibling rivalry, biasanya saya memberitahu bahwa mereka sudah berteman dari dalam perut. Kalau lagi rebutan suatu barang, biasanya siapa yang salah harus meminta maaf lebih dulu, lalu salaman dan peluk atau cium kembarannya.
Selain itu, menidurkan bayi kembar sendirian juga jadi tantangan. Tidak jarang harus gendong 2 bayi sendirian loh, Moms. Kalau keduanya tidak bisa diafirmasi maka harus dilakukan, yang tidur lebih dulu di gendongan akan lebih dulu diletakkan di tempat tidur, kemudian menidurkan yang lain.
Selain itu, menyusui bayi kembar juga penuh tantangan. Di usia mereka yang 21 bulan ini, saya masih direct breastfeeding dengan 6 bulan terakhir dicampur susu formula.
Walaupun saya bekerja, bersyukur saya bisa mengatur waktu antara pekerjaan di kantor dan di rumah dibantu dengan Ibu saya. Kebetulan saya mencari rumahnya dekat dari kantor, hanya berjarak 4 km.
Sebisa mungkin memberi makan pagi, memandikan pagi dan meluangkan waktu untuk bermain setiap pagi. Di jam makan siang, saya pulang ke rumah untuk menyusui. Malamnya langsung handle anak-anak lagi. Karena mereka punya hak untuk mendapatkan perhatian dari ibunya. Ketika ada meeting ke luar kota, sebisa mungkin pulang di hari yang sama, kalaupun bermalam saya melakukan video call ke anak atau mengajak anak keluar kota bila memungkinkan.
Semoga cerita singkat saya ini dapat menginspirasi Mom yang membaca.
Semoga bermanfaat.
By: Afira Genubhy.
