Tentang Baby Blues : Pengalaman Saya dan Bagaimana Saya Menghadapinya

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tentang Baby Blues : Pengalaman Saya dan Bagaimana Saya Menghadapinya
Baby Blues atau Postpartum Blues atau perasaan emosional berlebihan pasca melahirkan seringkali terjadi pada Ibu yang baru pertama kali melahirkan. Dan seringnya, kita tidak menyadari bahwa kita sedang mengalami baby blues.
Ciri-ciri utama Ibu yang sedang mengalami baby blues adalah mudah tersinggung, merasa tertekan, cemas secara berlebihan, impatience, insomnia, menangis pada hal sepele, merasa diabaikan dan tidak diperdulikan, dan perasaan emosional lain yang cenderung bersifat negatif.
Penyebab pasti baby blues sebenarnya masih belum diketahui sampai sekarang. Banyak ahli yang berpendapat bahwa baby blues terjadi karena ada perubahan hormon pada tubuh Ibu dan perubahan rutinitas secara drastis. Saya mungkin adalah salah satu dari sekian puluh persen perempuan yang mengalami baby blues. Dalam 2 (dua) minggu awal pasca melahirkan secara caesar, saya merasa sangat tertekan. Bahkan, saya pernah pergi meninggalkan bayi saya (yang waktu itu berusia 1 minggu) sendirian di rumah saat malam hari selama 15 menit saat suami saya pergi bekerja.
Ada beberapa hal yang mungkin menjadi faktor penyebab baby blues yang saya alami, yaitu:
1. Perubahan rutinitas. Saya yang awalnya bisa beraktifitas sesuka hati saya tiba-tiba memiliki prioritas utama yang harus saya urus diatas semuanya. Who runs the world? BABY.
2. Payudara bengkak. Saya sempat mengalami bengkak pada payudara saya sampai saya demam dan menggigil. Ternyata penyebabnya adalah keadaan bayi saya yang tongue-tie sehingga menghambat pengosongan payudara saya T_T
3. Operasi Caesar. Saya melahirkan secara caesar sehingga saya terbatas untuk bergerak. Tidak bisa tidur miring sampai 4 minggu pasca operasi, sulit tidur telentang, bangun dari tidur pun sulit dan harus dibantu.
4. Tekanan dari keluarga suami, terutama mertua. Mertua setiap saat memberikan saran ini itu, harus begini begitu, tidak boleh begini begitu dan lain sebagainya. Padahal, disatu pihak, saya merasa sangat mampu untuk merawat bayi saya sendiri meskipun jahitan saya belum kering. Saya pun memiliki suami saya yang sangat sigap membantu segala kebutuhan dan menyiapkan keperluan saya. Diberi saran yang menurut saya berlebihan, membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Saya merasa seolah-olah saya dipojokkan dan dihakimi.
5. Sulit beristirahat karena fokus pada newborn. Jadwal tidur saya sangat kacau, sehingga membuat saya merasa sangat lelah (saya yakin sebagian besar Moms mengalami ini T_T)
Lalu apa yang saya lakukan supaya tidak mengalami baby blues yang dapat berujung pada "postpartum depression"?
- berbicara dengan suami dari hati ke hati
- tidak segan meminta bantuan
- afirmasi positif
- mengurangi intensitas bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang tertentu
- tidak membebani diri dengan memasak
- memberi waktu kepada tubuh dan pikiran untuk beradaptasi dengan perubahan rutinitas
- percaya bahwa bukan hanya saya seorang yang mengalami baby blues
