Konten dari Pengguna

Terapi Azoospermia

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terapi Azoospermia
zoom-in-whitePerbesar

Penatalaksanaan terapi azoospermia akan disesuaikan dengan penyebabnya. Penatalaksanaan azoospermia ini merupakan bentuk untuk mengembalikan fertilitas hingga bisa menjalani kehamilan normal.

Testicular

Pasien yang teridentifikasi testicular atau azoospermia non obstruktif, 50-60% di antaranya masih bisa ditemukan sel spermatozoa pada letak tertentu di testis. Testicular sperm extraction (TESE) digunakan untuk menemukan dan mengambil sperma dari testis yang kemudian akan digunakan dalam program bayi tabung.

Selain TESE, juga bisa menggunakan testicular fine needle aspiration (TEFNA) untuk melakukan prosedur ini, hanya saja menggunakan TEFNA angka keberhasilannya lebih kecil dan tidak dapat digunakan untuk pemeriksaan dalam mendeteksi keganasan testis.

Komplikasi yang mungkin ditimbulkan dari TEFNA berupa kerusakan pembuluh darah dan tubulus yang lebih buruk dibandingkan dengan TESE.

Azoospermia Obstruktif

Jika azoospermia disebabkan karena adanya sumbatan atau yang disebut dengan azoospermia obstruktif, maka penggunaan metode MESA, TESE ataupun TEFNA biasanya akan mampu mengembalikan sperma hampir pada semua pasien.

Selain dengan mengambil sperma, tindakan lain yang dilakukan adalah rekonstruksi dan rekanalisasi (pembukaan kembali pembuluh darah yang tersumbat) pada pasien dengan obstruksi setinggi epididimis. Walaupun selanjutnya akan dilakukan tindakan rekonstruksi, namun sebaiknya sperma tetap diambil dan dikriopreservasi untuk mengantisipasi jika saja terjadi kegagalan.

Menurut hasil ICSi, pasien yang menderita azoospermia obstruktif lebih baik dibandingkan dengan pasien yang menderita azoospermia non obstruktif jika dilihat dari tingginya angka fertilisasi.

Varikokel

Sebanyak 31,9% pasien bisa meningkatkan spermatozoa dengan tindakan perbaikan varikokel (pembengkakan pada pembuluh vena di dalam kantong zakar atau skrotum). Varikokelektomi (operasi varikokel) ini akan mampu memperbaiki parameter analisis spermatozoa, khususnya pada volum air mani, densitas, motilitas dan vitalitas sperma.

Namun pengaruhnya terhadap kehamilan spontan dari varikokelektomi ini belum jelas dan kondisi azoospermia yang dapat dikembalikan juga belum jelas. Oleh karena itu, tindakan TESE tetap harus dilakukan untuk dapat meningkatkan jumlah sperma dan kualitas sperma, serta akan mampu meningkatkan kemungkinan untuk hamil dan lahir hidup.

Metode varikokel di antaranya adalah skleroterapi retrogade, embolisasi retrogade, operasi skrotum, pendekatan inguinal, ligasi tinggi, bedah mikro dan laparoskopi.

Dan yang paling efektif dilakukan adalah dengan bedah mikro.

Semoga bermanfaat.

By: Babyologist Editor