The Power of Touch (Pengalaman Bayi Dirawat Di NICU)

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
The Power of Touch (Pengalaman Bayi Dirawat Di NICU)
Hai moms, sudahkah kalian menyentuh bayi kalian hari ini?
Apapun keadaannya, pastikan selalu ada sentuhan fisik antara moms dan anak yaa karena ada kekuatan yang moms dan anak dapatkan melalui hal kecil yang dapat kita lakukan ini.
Saya mau share tentang pengalaman saya menghadapi masa-masa ketika Sean berada di NICU. Setelah berjuang hampir 24 jam melalui proses persalinan, tubuh saya lelah malam itu, namun hati tidak sabar untuk bertemu langsung dan memeluk Sean.
Saat pagi hari tiba, perasaan saya sudah menggebu-gebu menanti kedatangan Sean ke kamar saya. Namun, bukan anak saya yang datang pagi itu melainkan telepon dari suster yang memberikan kabar yang kurang baik yaitu Sean mengalami masalah di area pernafasannya sehingga tidak memungkinkan untuk dibawa ke kamar rawat inap ibu. Kondisi itu membuat Sean harus dipasangkan tabung oksigen agar dapat bertahan hidup.
Saat itu hati saya hancur karena harus menghadapi hal buruk seperti ini. Saya yang saat itu masih dalam masa pemulihan pasca operasi caesar, memaksa suster dan obgyn untuk mengijinkan saya lepas kateter dan infus agar bisa menengok Sean di ruang bayi. Setelah berdebat banyak, suster dan obgyn mengijinkan saya lepas kateter dan infus pada sore hari, jadi saya harus bersabar menunggu hingga sore hari tiba.
Sore itu, saya memberanikan diri untuk turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar bayi. Saat melihat malaikat kecil saya dalam kondisi lemah dan tampak sulit bernafas (tarikan nafasnya dalam dan sangat cepat) dalam tabung oksigen, rasa sakit pasca operasi saya tidak terasa sama sekali.. yang terasa hanya rasa ngilu dalam hati.
Berulang kali saya bertanya dalam diri "WHY ME? WHY SEAN?" Tapi pertanyaan itu hanya berputar dalam pikiran, tanpa ada satupun yang dapat menjawab. Setelah menengok Sean di ruang bayi, saya kembali ke ruang rawat inap ibu, berusaha menenangkan diri saya. Namun sekitar pukul 21.00 telepon kamar saya berbunyi dan firasat buruk sudah menghantui saya sedari tadi sore. Benar saja. Suster meminta ijin saya untuk memindahkan Sean ke ruang NICU karena kondisi Sean tidak membaik. Umumnya tarikan nafas bayi itu 50-60 x per menit, namun Sean tarikan nafasnnya sudah hampir 90 x per menit. Saat itu saya benar-benar merasa bodoh dan tidak berdaya. Saya tidak tahu harus seperti apa dan hanya bisa pasrah mengandalkan dokter setempat. Sungguh kondisi yang tidak membuat saya nyaman!
Akhirnya, jadilah malam itu anak saya harus dipindah ke NICU. Jadilah anak saya harus ditusuk infus. Jadilah anak saya harus dipasangkan ventilator pernafasan di hidung. Jadilah anak saya harus dimasukkan selang pengalir makanan dari mulut ke lambungnya.
Malam itu, saya hanya bisa menangis di kamar dan tidak punya keberanian untuk mendampingi anak saya menghadapi itu semua. 3 hari telah berlalu dan kondisi Sean tak kunjung membaik. Saya masih belum berani melihat kondisi anak saya secara langsung karena hanya melihat foto kondisi anak saya dari suami saja sudah berhasil membuat saya tertekan.
Saat itu, salah satu rekan psikolog menjenguk dan memberi support kepada saya. Ia mengingatkan pentingnya physical touch antara ibu dan anak. Ia juga mengingatkan bahwa selama 37 minggu Sean ada di dalam perut saya, ia mendengar aliran darah, detak jantung, bahkan suara saya. Keberadaan saya sudah menjadi tempat ternyaman bagi Sean. Namun saat ini, Sean yang masih dalam kondisi adaptasi dengan dunia baru, malah harus berjuang sendiri tanpa keberadaan ibunya. Saat itu juga saya tersadar bahwa saya sangat egois. Ketakutan saya menghadapi masalah menghambat pemulihan kondisi anak saya.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk menengok Sean di hari ke 4 ia dirawat di NICU. Saya mulai memanggil namanya dan menyentuh tubuhnya setiap 3 jam sekali sambil membawakan ASIP. Benar saja, ternyata interaksi sederhana ini langsung mengubah kondisi Sean. Di hari ke 5, Sean sudah dapat bernafas dengan baik meski masih dibantu alat pernafasan. Memasuki hari ke 6, dokter sudah mengijinkan Sean lepas dari alat bantu pernafasan, jika kondisinya stabil maka esok hari Sean diijinkan pulang. Kondisi Sean stabil dan kami pulang di hari ke 7. Ternyata begitu besar ya kekuatannya.
