Konten dari Pengguna

Tips Atasi Anak Sering Muntah Setelah Makan atau Minum ASI

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tips Atasi Anak Sering Muntah Setelah Makan atau Minum ASI
zoom-in-whitePerbesar

Momen menyusui hingga masa MPASI tentu saja menjadi momen berharga bagi Moms dan buah hati. Saat bisa memberikan ASI sebagai nutrisi terbaik untuk anak, pastinya bangga sekali rasanya ya Moms. Kemudian saat tiba masa MPASI, menyenangkan sekali melakukan berbagai persiapan makan dan menu sehat untuk si Kecil. Namun, selain hal-hal menyenangkan yang kita rasakan, terkadang ada beberapa kendala yang membuat kita khawatir.

Kendala terberat bagi saya saat memberikan ASI dan MPASI adalah anak kami sangat mudah muntah. Awalnya saya pikir karena terlalu kenyang dan belum disendawakan saat ia masih ASI eksklusif. Namun hal itu berlanjut saat ia beranjak ke masa MPASI hingga sekarang hampir berumur 3 tahun.

Sedih sekali rasanya saat masa MPASI yang kadang ada waktu dia sulit makan karena GTM dan sudah susah payah memberinya asupan makanan, kemudian semua makanan tadi keluar lagi. Sering sekali seperti itu, saya coba mencari info dan info yang saya dapat mengapa anak saya seperti itu karena kemungkinan otot di sekitar kerongkongan sangat sensitif. Jadi saat menelan makanan yang agak 'eneg' menurut dia, langsung mual dan muntah.

Cara Menghadapi Anak Mudah Muntah

  • Saat menyusu, selalu diperhatikan asupan yang sudah diminum jangan sampai terlalu kenyang. Baiknya selalu dijeda dan sering disendawakan.

  • Setelah menyusu atau makan, jangan sampai dibiarkan dalam posisi tengkurap atau posisi yang menekan perutnya karena dapat memicu reflux. Juga pantau anak agar tidak langsung aktif berlarian atau melompat. Hal ini cukup sulit dilakukan bagi anak yang aktif, tapi kita bisa alihkan dia untuk melakukan kegiatan lain yang lebih tenang seperti membacakannya buku.

  • Tekstur makanan yang pernah membuatnya mudah mual dan muntah harus selalu diingat, lalu cari pengganti makanan yang membuatnya muntah itu atau diolah agar cocok untuk dimakan oleh anak. Contohnya, anak saya pernah beberapa kali muntah setelah menelan sayuran berdaun seperti kale, bayam, dan pok coy. Padahal usianya saat itu sudah hampir 2 tahun, di mana anak seusianya mungkin tidak bermasalah memakannya. Jadi saya akali dengan memberi opsi sayur lain atau dengan mencacah kecil lalu diolah lebih padat seperti dimasukkan ke campuran siomay atau omelet.

  • Saat bepergian, selain baju ganti dan diapers juga harus selalu ingat untuk membawa handuk dan sabun cair di botol kecil karena ada kemungkinan anak muntah cukup parah dan harus dimandikan. Apalagi jika naik pesawat atau transportasi umum lainnya, kantong plastik dan kain slabber harus selalu siap sedia. Kita harus sigap jika terlihat tanda-tanda anak mual agar tidak mengganggu penumpang lain.

  • Selain itu, kunci utama menghadapi setiap kendala bersama anak-anak adalah kita sebagai orangtua selalu berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik. Komunikasi dan kerjasama yang baik dengan si Ayah ataupun pengasuh anak juga sangat penting agar penanganan setiap permasalahan terkait si Kecil selalu cepat dan tepat.

Semoga bermanfaat.

By: Afra Meilianda

Copyright by Babyologist