4 Tips Menghadapi Kesiapan Anak saat Ditinggal Kembali Bekerja

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memutuskan untuk kembali bekerja setelah sekian lama di rumah mengurus anak bukanlah hal yang mudah. Terbiasa 24 jam setiap hari bersama anak, pasti akan membuat perubahan yang besar bagi si Kecil saat ditinggal nanti.
Banyak pertimbangan dan persiapan yang harus diperhatikan menjelang masa tersebut tiba. Tidak hanya persiapan secara pribadi, namun kesiapan anak juga perlu diperhatikan, terlebih pada anak yang sudah memasuki masa 'Toddler' yang mengerti dan sadar akan kehadiran ibunya.
Beberapa Tips Menghadapi Kesiapan Anak saat Ditinggal Kembali Bekerja
1. Baiknya anak sudah lepas ASI

Mengapa? Karena untuk meminimalisir anak rewel mencari sumber ASI yang (tiba tiba) hilang, terlebih anak yang tidak doyan ASIP (ASI Perah). Daripada nanti panik malah bikin anak makin rewel saat ditinggal, lebih baik tuntaskan dulu ya masa ASI-nya.
2. Anak sudah menunjukkan gelagat “Mandiri” dalam beberapa hal

Contohnya toilet training, ataupun anak tidak takut sendirian dan bisa tanpa harus ditemani. Buatku poin ini cukup berpengaruh, karena anak jadi tidak rewel saat ditinggal, dan ia sudah tahu harus mencari orang pergi ke mana saat ia menyadari dirinya ‘sendiri’.
Lalu apa hubungannya sama toilet training? karena ketika anak sudah bisa toilet training tandanya dia sudah mampu ‘mengontrol’ dirinya sendiri, di mana dia tahu apa yang dia mau dan tahu harus bagaimana.
3. Anak sudah mau bersosialisasi dengan orang baru termasuk pengasuh barunya nanti

Terbiasa dengan kita (ibunya) yang selalu ada di samping biasanya membuat anak enggan untuk kenalan dengan orang baru. Terlebih anak adalah tipikal yang agak butuh waktu buat adaptasi dengan orang baru.
Baiknya persiapkan dari jauh hari sebelum memutuskan kembali bekerja untuk mulai mengasah kemampuan sosialisasi anak dengan membiasakannya bertemu dengan orang baru, mengikuti trial class, dan membiarkannya bermain dengan teman sebayanya. Hal ini bertujuan agar anak lebih mudah beradaptasi saat bertemu orang baru.
4. Rajin sounding dan komunikasi pada anak

Rajin sounding dan sering komunikasi dengan anak sangat diperlukan karena butuh perlakuan ekstra untuk anak ‘menerima’ keadaan harus ditinggal ibunya seharian. Jadi kita harus benar-benar sering sounding ke anak tentang kebiasaan baru yang akan ia hadapi.
Baiknya tips tersebut juga didukung oleh peran suami dan keluarga agar anak bisa melewati masa 'transisi' saat Moms kembali bekerja. Agar anak juga tidak terlalu kaget dengan perubahan yang ia alami.
Semoga bermanfaat.
By: Tita Ardhana
