Konten dari Pengguna

Toilet Training Kakak (Berbeda Cara dengan Adik)

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mumpung masih anget-anget di rumah, saya mau menuliskan sederet kisah dan pengalaman toilet training kakak dan adik nih. Semoga bermanfaat dan Moms bisa mengambil apa yang bisa diambil ya.

Kenapa menuliskan ini? Karena menurut saya ini suatu pekerjaan yang sama, tapi dilakukan oleh dua anak dengan tipe yang berbeda dan tipe karakter otak orang tua yang juga sudah sedikit mengalami pergeseran. Bukan geser menjadi miring ya, tapi bergeser dari full expectation ke yang woles-woles ayam. Maksudnya woles-woles ayam yaitu menghadapi dengan sedikit nyantai, tapi tetap memiliki batas-batas untuk target berikutnya. Jangan sampai bablas juga. Pokonya jangan over dan jangan under juga. Kalau kata orang, ekspektasinya diturunkan sedikit, demi menjaga kewarasan. Kunci pertamanya dengan mengenali dulu bagaimana karakter anaknya. Ketika kita sudah memahami banget karakter anak kita. Pasti untuk pendekatan apa yang akan kita lakukan jadi lebih enak ke depannya.

Toilet Training Kakak

Sebelum kita mulai toilet training, yang perlu ditanyakan dulu kepada diri sendiri adalah, sudah siapkah kita menjalani rentetan prosesnya? Kalau belum, lebih baik mundur dulu. Kalau sudah, baru tanyakan atau kita lihat lagi apakah anak sudah siap apa belum?

Kita bisa melihat anak sudah punya kesiapan dari tidak merasa terpaksa, tidak terlihat stres. Sudah bisa diajak komunikasi. Kenapa komunikasi ini penting? Karena kalau belum bisa mengkomunikasikan pada kita ibunya, pasti yang akan capek kita juga karena selalu menjadi alarm buat pipis anak. Makanya menurut saya pribadi, toilet training ini bisa dimulai di usia lebih kurang 2 tahun. Kalau bisa lebih awal oke, kalau telat pun gapapa. Asal kalau bisa jangan melebihi usia 3 tahun.

  • Kakak mulai sounding toilet training usia 15 bulan.
  • 18 bulan free pospak siang. Malam dan bepergian masih pakai.
  • 20 bulan mengalami kemunduran. Efek mau punya adik entah apa. Pipis di celana lagi dan gak mau diajak ke toilet.Deg-degan parah karena target adik lahir pengennya Gisha sudah gak pospakan lagi. Niat demi mengurangi pembelian pospak dan ekspektasi sudah jadi kakak, jadi kudu pinter.
  • 22 bulan pelan-pelan bisa lagi, meski saya sudah tidak banyak berharap. Dan membiarkan kakak bisa dengan sendirinya. Tapi tetap diajarkan dan disampaikan seperti apa pee dan pup di mana dan sebagainya. Sudah mulai belajar ke toilet saat keluar. Malam hari sudah dibiasakan pipis sebelum dan sesudah bangun tidur.Toilet training pas keluar rumah dan malamnya masih trial dan error. Sudah bisa minta ke toilet. Meski masih banyak bocornya jadi masih siap sedia diaper ke mana-mana. Begitu juga malam. PR yang memang ingin diakhirkan pengerjaannya, karena saya belum siap. Mau lahiran.
  • 25 bulanAdik lahir. Di rumah sudah gak ada masalah soal pee n pup, pasti ke kamar mandi. Untuk bepergian sama malam masih lanjut trial error.
  • 30 hingga 36 bulan (3 tahun)Sudah free pospak keluar. Bahkan menjelang usia 3 tahun sudah tidak mau dipakaikan pospak saat bepergian. Malah harus lari-lari keliling-keliling untuk mendapatkan toilet, di saat anaknya kebelet pipis. Herannya anaknya malah makin bisa tahan. Bahkan lagi macet di mobil akhirnya bisa tahan hingga dapat toilet. Awalnya kalau di mobil kebelet, kita selalu sediakan diaper buat dia pipis. Atau kalau perjalanan jauh, kita membawa potty portable dan Aqua segalon buat cebok. Tapi terakhir gak mau lagi. Dia makin bisa menunggu untuk sampai ke toilet.

Nah, PR malam bermula dari usia 3 tahun hingga 3 tahun 2 bulan.

Sebelumnya sudah mencoba ceremony sebelum tidur seperti pipis dulu. Tapi tetap masih kecolongan terkadang dan mesti tetap ortunya yang bangun buat bawa ke toilet. Kadang kelelahan membuat kita kelupaan bangun buat memberi sesi pipis satu kali saat tidur. Anaknya yang hobi banget minum air putih setelah disapih membuat sesi tidur malam pasti selalu bangun untuk minum. Kebiasaan botol minum selalu siap sedia di samping kasur membuat dia gak mungkin gak ada sesi kebelet pipis malamnya. Kadang karena takut kebablasan, kita tetap pakaikan diaper pas malam. Kalau merasa gak sanggup buat bangun dan bawa ke toilet.

Hingga akhirnya benar-benar kita biarkan dia merasa tidak nyaman dengan ngompol.

  1. Bikin kesepakatan, jika ngompol berarti tidak ada jatah menonton dan main HP. Karena anaknya benefit, yang maunya untung. Dia akan melakukan apa saja agar bisa tetap mendapatkan keduanya. Cara ini berhasil hingga sebulan tidak pernah lagi ngompol. Awalnya kita merasa sudah aman dan terbebas. Pas di usia 3 tahunan sesuai target, anaknya bebas pospak. Hingga suatu hari dia ngompol lagi. Beberapa kali dalam seminggu hingga kita membuat kesepakatan tambahan. Isinya:
  2. Jika pipis di kasur, selain no watching dan no HP, ia harus membereskan semua hasil ompol sendiri. Mulai dari membersihkan seprei yang basah dan pesing hingga mencuci baju sendiri (meski cuma seremonial saja, but it's work). Beberapa kesepakatan di atas membuat dia akhirnya hingga sekarang usia 4 tahun 4 bulan tidak pernah lagi mengompol sejak usia 3 tahunan itu.

 

Semoga bermanfaat.

By: Mesa lindari

Copyright by Babyologist