Tongue Tie: Perlukah Diinsisi?

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tongue tie adalah sebuah kondisi di mana terdapat selaput yang terletak di bawah lidah sehingga membatasi pergerakan lidah. Hal ini bisa mengganggu proses menyusui untuk ibu dan bayi. Bayi sulit mendapatkan ASI yang maksimal dan ibu merasa sakit saat menyusui.
Menyusui di awal memang terasa sakit, karena saya maupun bayi baru belajar untuk menyusui. Namun seiring berjalannya waktu, saya sadar lidah anak saya pendek. Saya hanya mengira, "oh lidahnya pendek saja, tidak apa-apa kok nanti kan tumbuh". Tetapi saya ingat kejadian teman saya di mana selaput lidahnya perlu digunting karena kesulitan menyusui. Saya memberanikan diri sebagai new Mom untuk browsing. Ternyata benar, anak saya terdeteksi Tongue Tie dan efeknya cukup membuat saya ketar-ketir. Saat besar nanti, anak berisiko berbicara cadel dan sulit makan, yang otomatis hal itu akan mengganggu perkembangannya.
Akhirnya saya pergi ke beberapa dokter dan klinik laktasi. Pertama saya pergi ke DSA RS dekat rumah saya, dokternya cukup terkenal dan banyak pasien. Beliau memang menyatakan anak saya tongue tie, karena jarak selaput dan ujung lidah hanya 0.5 cm. Tetapi dia tidak bisa memutuskan anak saya perlu diinsisi (tindakan memotong frenulum lidah agar bisa bergerak bebas) atau tidak, melihat perkembangan BB anak yang baik dan tidak menurun. Akhirnya beliau menyarankan saya untuk mendapatkan second opinion, dan memberikan nama seorang dokter yang ahli. Lalu saya mencoba ke DSA yang menangani anak saya saat melahirkan di RS yang berbeda. Beliau pun mengatakan hal yang sama. Akhirnya saya ke klinik laktasi di RS tersebut, beliau melihat cara posisi saya menyusui, pelekatan dan melihat deras atau tidaknya ASI saya. Selain itu, beliau melihat lidah anak saya. Ya, beliau bilang anak saya perlu diinsisi, tapi harus dijadwalkan dulu agar dia bisa menyiapkan alatnya.
Saya ragu, dan masih tidak rela kalau anak saya harus diinsisi walaupun itu untuk kebaikannya. Akhirnya suami saya browsing mencari dokter ahli tongue tie. Kami mendapatkan nama dr. Yohmi di RS St. Carolus Salemba. Akhirnya kami ke sana.
Kami lalu langsung konsultasi ke dokter Yohmi, beliau mengecek lidah dan isapan anak saya. Betapa senangnya saya saat dokter bilang, "oh ini bagus kok menyedotnya, tidak perlu diinsisi. BB-nya juga naik bagus". Setelahnya beliau menjelaskan, walau grade-nya memang I-II , tidak perlu diinsisi karena BB anak baik dan isapannya juga baik. ASI saya juga lancar, nipple tidak flat atau ke dalam. Jadi bukan Minor bertemu Minor. Tidak perlu diinsisi. Lalu dia menunjukkan beberapa video pasiennya yang terdeteksi tongue tie dari bayi dan sesudah balita, tidak cadel cara bicaranya dan pertumbuhannya baik.
Selain itu, dokter juga menginfokan bahwa belum tentu anak tongue tie setelah insisi akan langsung bisa menyusu tanpa kesulitan, dia pun pasti akan belajar lagi. Dikhawatirkan setelah insisi malah jadi rewel dan membuat ibu makin cemas. Hal itu bisa membuat produksi ASI pun menurun.
Jadi, insisi bukanlah jalan terakhir bagi bayi yang terdeteksi tongue tie. Banyak faktor yang bisa dilihat. Sayangnya, dokter anak tidak langsung mengecek kondisi lidah anak saat lahir. Biasanya dilakukan oleh dokter laktasi dan akan ketahuan jika terdapat masalah saat menyusu pertama.
Semoga bermanfaat.
By: Vony Erynda
Copyright by Babyologist
