Waspadai ROP Terhadap Bayi Prematur

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!
Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Namanya Abi, keponakan saya yang lahirnya lebih cepat dari seharusnya. Dia harus dilahirkan ketika usia kehamilan ibunya masih memasuki 28 w karena sang ibu mengalami preeklamsi yang hebat. Sedih memang, tapi semua qadarullah.
Saat lahir, beratnya hanya 1,3kg. Itupun sudah dibantu dengan suntikan untuk penambahan berat badan saat masih didalam kandungan. Setelah hampir 10 hari dalam perawatan NICU, dan berat badannya udah naik, akhirnya abi diperbolehkan pulang. Sebelum itu dokter berpesan agar setelah umur sebulan nanti, Abi harus di bawa ke rumah sakit lagi untuk melihat organ2 vitalnya agar berfungsi dengan baik dan normal, seperti pendengaran dan penglihatannya.
Tetapi karena keterbatasan biaya, mereka tak membawa Abi untuk melakukan pemeriksaan yang dianjurkan oleh dokter. Lalu setelah usia Abi 2 bulan, Abi tak respon penglihatannya. Merasa curiga, orang tua Abi membawanya melakukan pemeriksaan terhadap matanya. Karena peralatan yang tidak memadai, akhirnya Abi dirujuk ke RSCM.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, akhirnya diketahui mata kirinya positif ROP (Retinopati Prematuritas) stadium 4 dan ini sudah tidak bisa disembuhkan lagi walaupun dengan cara operasi. Sedangkan untuk mata kanannya masih normal, tetapi tetap harus dilakukan skrining untuk memantau dan mencegah ROP.
Jadi, ROP itu adalah pertumbuhan pembuluh darah yang tidak sempurna karena Prematuritas. Pada beberapa bayi, ROP bisa sembuh dengan sendirinya. Tetapi pada sebagian lainnya tidak, dan dapat menyebabkan kebutaan seperti Abi. ROP bisa dicegah dengan melakukan skrining rutin terhadap bayi prematur.
Jadi, bagi yang mempunyai bayi prematur agar segera melakukan pemeriksaan untuk mencegah ROP. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua dan tidak akan ada lagi Abi2 lainnya.
