Konten dari Pengguna

Cara Mengatasi Ketergantungan Gadget pada Anak Usia Dini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cara Mengatasi Ketergantungan Gadget pada Anak Usia Dini
zoom-in-whitePerbesar

Pada era orang tua millenial, atau yang biasa disebut parenial, sebagian besar anak sudah dikenalkan dengan gadget, terutama telepon genggam (handphone). Hal tersebut tidak bisa dimungkiri, di setiap kegiatan, terselip pemberian gadget dengan berbagai macam aplikasi, salah satunya YouTube.

Tujuannya tidak lain agar anak menjadi tenang dan penurut. Namun, ketika pemberian gadget diberikan secara terus-menerus, justru akan memberikan dampak buruk pada aspek fisik, kognisi, dan sosial anak.

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman. Si Kecil mengenal gadget (dalam bentuk televisi dan handphone) sejak usia 5 bulan. Di usia 5 bulan, ia menikmati lagu melalui YouTube di televisi. Hal utama yang terlihat adalah dampak positif pada aspek fisik dan kognisi. Ia menjadi responsif dengan lagu-lagu yang didengar dan gambar yang ditonton.

Tiba di usia 8 bulan, si Kecil sudah bisa mengerti dan mengikuti gerakan satu lagu ‘If You Happy & You Know It’. Hal penting ketika memutuskan untuk memberikan gadget adalah si Kecil harus selalu dalam pengawasan dan terlibat komunikasi dengan orang sekitar. Tak hanya itu, batasan waktu dan konten yang ditonton juga menjadi poin yang penting.

Problematika muncul ketika si Kecil memasuki usia 20 bulan. Mata menjadi tidak fokus dengan kata lain sedikit juling. Saya dan suami seketika langsung memberi ketegasan untuk setop pada gadget terutama handphone.

Berdasarkan pengamatan sehari-hari, ketika sudah berhadapan dengan handphone, si Kecil tidak responsif dengan sekitar. Tidak menjawab ketika diajak berbicara, bahkan untuk menoleh pun tidak.

Selain itu, si Kecil enggan mengeluarkan sepatah kata karena dia menganggap tanpa ia berbicara pun orang sekitarnya akan paham. Tiga bulan berjalan ‘No Handphone’, si Kecil mulai menunjukkan perkembangannya. Ia mulai memiliki kemauan untuk berbicara dan menjadi sangat aktif dalam komunikasi. Selain itu, secara fisik, mata sudah kembali normal hingga saat ini. 

Anak main gadget. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Anak main gadget. (Foto: Thinkstock)

Bagaimana mengatasi ketergantungan gadget pada anak?

  • Orangtua harus tegas dan berpendirian teguh dengan keputusan.

  • Jika anak diasuh dengan orang tua, mertua, atau pengasuh, komunikasikan secara jelas dampak gadget dan tunjukkan contoh konkret, sehingga aturan yang kita berikan tidak sekadar menjadi larangan secara lisan.

  • Temani anak melakukan aktivitas lain yang menyenangkan.

  • Ekspresif dalam berkomunikasi dengan anak, sehingga anak tidak merasa bosan.

  • Rencanakan aktivitas bermain anak dengan olah sensorik dan motorik yang berbeda setiap harinya.

  • Jika anak suka dengan musik, berikan dalam bentuk ‘no screen’ hanya audio.

  • Menumbuhkan rasa ingin tahu dan ketertarikan pada kegiatan bermain dengan anak. Ketertarikan orang tua terhadap permainan anak-anak akan membuat si Kecil menjadi ingin tahu.

Beberapa poin di atas saya tulis berdasarkan pengalaman. Kegiatan harian untuk anak bisa dimodifikasi sekreatif mungkin oleh orang tua. Namun, hal yang utama adalah kehadiran orang tua untuk anak saat bermain dan ketertarikan orang tua terhadap kegiatan si Kecil.

Contoh, jika anak bermain sendiri komunikasi yang terbentuk hanya satu arah, sedangkan saat bermain dengan orangtua ia akan melakukan komunikasi dua arah. Hal tersebut tentunya mampu mengembangkan aspek sosial, kognisi ,dan bahasa pada anak.

--------------

Semoga bermanfaat.

By: Indria Putri Damayanti

Copyright by Babyologist