Konten dari Pengguna

Zat Kimia Berbahaya Pada Baby Skincare

Babyologist

Babyologist

The trusted and resourceful media for pregnancy & maternity in Indonesia. Our vision is to make The Journey beautiful and enjoyable!

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Babyologist tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua produk bayi aman digunakan, terutama keluaran brand besar yang mengklaim semuanya natural atau organik. Selalu cek isi produk sebelum Anda membeli dan menggunakannya pada bayi Anda untuk mencegah iritasi kulit pada bayi Anda. Berikut 5 zat kimia berbahaya yang sering dijumpai pada baby skincare terkemuka.

Minyak mineral atau mineral oilCari pada label: minyak mineral atau mineral oil, petrolatum, paraffinum, parrafinum liquididum. Minyak mineral adalah produk sampingan minyak dengan harga lebih murah yang banyak digunakan pada krim, pelembab, produk utk rambut dan berbagai jenis skin oil. Pada produk bayi, Anda mungkin menemukan minyak mineral di nappy cream, tisu basah bayi, minyak dan lotion. Perusahaan kosmetik besar suka menggunakan minyak mineral sebagai basis produk mereka karena harga yang murah dan dikenal dengan fungsinya sebagai pelumas. Sayangnya, minyak mineral akan membentuk lapisan pada kulit Anda dan akan menghalangi pori-pori Anda untuk bernafas. Banyak merek terkenal membuat baby oil yang terdiri dari minyak mineral saja ditambah dengan wewangian sintetis. Tentu Anda tidak ingin menggunakannya pada bayi Anda, bukan?

Paraben Cari pada label: Ethylparaben, butylparaben, methylparaben, propylparaben, atau bahan lain yang diakhiri dengan parabenParaben menghambat pertumbuhan mikroba dan karena itu banyak digunakan sebagai bahan pengawet di industri makanan dan kosmetika. Paraben bisa mengiritasi kulit bayi Anda. Namun, kekhawatiran terbesar adalah zat tersebut diketahui dapat mengganggu fungsi hormon. Juga dapat meningkatkan resiko kanker payudara dan kemampuan reproduksi. Karena sistem hormon bayi belum matang, paraben dapat menyebabkan kerusakan pada sistem endokrin (hormonal) mereka yang sedang berkembang.

PhenoxyethanolCari pada label: phenoxyethanol Pengawet sering digunakan oleh produk yang mengklaim "all-natural" sebagai alternatif dari paraben. Phenoxyethanol tidak sepenuhnya aman karena berdampak pada sistem saraf, bahkan dibatasi pada kosmetik keluaran Jepang. Zat ini dapat mengakibatkan iritasi pada kulit dan dapat menyebabkan muntah atau diare jika terpapar pada konsentrasi cukup tinggi. Pada tahun 2008, FDA menerbitkan sebuah peringatan untuk ibu menyusui untuk tidak menggunakan krim puting yang mengandung phenoxyethanol dan chlorpenisin (zat pengawet lain yang diketahui mempengaruhi sistem saraf pusat).

Sodium lauryl (ether) sulfate Cari pada label: SLS, SLES, sodium dodecyl sulfate, sodium PEG lauryl sulfate Zat sintetis ini biasanya digunakan pada shampo atau produk pencuci lainnya yang mengandung sabun karena kemampuannya untuk menghasilkan deterjen dan busa. Sayangnya, juga sering digunakan pada produk bayi. Meski ini membuat produk terkesan bagus karena menghasilkan banyak busa, Anda sebaiknya menghindari zat ini. SLS/SLES dapat menyebabkan iritasi pada mata, ruam kulit, rambut rontok, terdapat serpihan kulit kepala yang serupa dengan ketombe, dan reaksi alergi. DIkenal sebagai iritasi kulit karena zat ini sangat mudah diserap oleh kulit, terutama kulit bayi.

Polyethylene glycol Cari pada label: PEG - diikuti oleh nomor. Semakin rendah jumlahnya, semakin mudah senyawa tersebut diserap oleh kulit. PEG termasuk pada kelas polimer etilena glikol yang miliki fungsi sebagai pelembab dan membuat produk tetap stabil, juga dapat meningkatkan penetrasi bahan lainnya. PEG dapat mengiritasi kulit bayi yang sensitif. Selain itu, zat ini juga dapat mengangkut segala jenis bahan kimia yang mungkin terkontaminasi ke seluruh lapisan epidermis Anda.

Semoga bermanfaat.

By: Ricka Puspita Atmadja