Konten dari Pengguna

Doa I'tidal: Arab, Latin, dan Terjemahannya

Bacaan Doa

Bacaan Doa

Akun yang khusus membahas tentang doa-doa Islami

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bacaan Doa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dolanan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dolanan

Dalam menjalankan ibadah salat, terdapat beberapa gerakan yang memiliki bacaan doa tertentu. Salah satunya adalah gerakan i'tidal, yakni ketika bangkit dari posisi rukuk dan berdiri tegak. Doa i'tidal ini memiliki keutamaan yang besar dan menjadi salah satu rukun salaat yang harus dilakukan dengan benar.

Bacaan i'tidal ini sebenarnya cukup singkat, namun memiliki makna yang sangat dalam. Dengan melafalkan doa ini, seorang muslim seakan-akan sedang memuji kebesaran Allah Swt. Selain itu, doa ini juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Daftar isi

Pengertian I’tidal dalam Gerakan Salat

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dolanan

Dikutip dari artikel ilmiah, “Konsep Terapi Salat Menurut Perspektif Moh. Ali Aziz”, Sopyan Hadi Budiman dkk, (2022:659), saat melaksanakan salat, terdaoat gerakan berdiri dari rukuk. Gerakan inilah yang disebut dengan I’tidal.

Gerakan ini dilakukan dengan cara berdiri setelah rukuk dan mengucapkan kata “sami’allahu liman hamidah” yang artinya adalah “Allah mendengar orang-orang yang memujinya”. Inti dari doa ini adalah keyakinan pada Allah untuk memberikan dan mencegah sesuatu hal yang terjadi dengan kehendaknya.

Jika Allah Swt tidak ingin memberikan sesuatu, maka tidak ada satu makhluk pun yang dapat memberikan hal itu.

Doa I’tidal

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dolanan

Doa I’tidal adalah keharusan yang tidak boleh ditinggalkan dalam salat sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw., dalam Hadis Riwayat Bukhari No.796 dan Muslim No.409:

إِذَا قَالَ الإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ . فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ . فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Idza qolal imamu sami’allahu liman hamidah, faqulul lahummu robbana lakalhamdu, fainnahu man wafaqo qouluhu qoulal malaikatihi gufiro lahu ma taqoddama min’ dzanbih.

Artinya: “Jika imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka hendaklah kalian mengucapkan ‘robbana wa lakal hamdu’. Karena siapa saja yang ucapannya tadi berbarengan dengan ucapan malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan dihapus.” (HR. Bukhari no. 796 dan Muslim no. 409)

Hadis lain juga menyebutkan bahwa malaikat akan berlomba-lomba untuk mencatat amalan seseorang yang membaca doa ini:

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا ، أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

Ro aitu bidh’atan wa salasina malakan yabtadiru wanaha, ayyuhum yaktubuha awwal.

Artinya: “Aku melihat ada 30-an malaikat, berlomba-lomba siapakah di antara mereka yang lebih duluan mencatat amalannya.” (HR. Bukhari no. 799)

Bacaan I’tidal terbagi menjadi dua yaitu bacaan versi Nahdatul Ulama (NU) dan versi Muhammadiyah.

Bacaan I’tidal versi Nahdatul Ulama (NU)

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dolanan

Saat bangun dari rukuk berdirilah tegak sambil mengangkat tangan seperti takbiratul ihram kemudian melafalkan bacaan:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

Sami'allahu liman hamidah.

Artinya: “Aku mendengar orang yang memuji-Nya.”

Kemudian saat berdiri dilanjutkan dengan membaca:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

Rabbanaaa lakal hamdu mil-ussamaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du.

Artinya: “Ya Allah Tuhan Kami, Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu.”

Bacaan I'tidal Versi Muhammadiyah

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Jeremy Yap

Tidak jauh berbeda dengan Nahdatul Ulama, setelah membaca Sami'allahu liman hamidah, dilanjutkan dengan melafalkan bacaan berikut:

رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Robbana walakal hamdu hamdan kasiran thayyiban mubarokan fihi.

Artinya: “Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh dengan berkah” (HR Bukhari No. 799).

Poin Penting Gerakan I’tidal

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Fadkhera Official

Terdapat dua poin penting dalam gerakan I’tidal yang perlu diketahui, yaitu:

Poin Pertama (Hak atas Pujian kepada Allah Swt)

Poin pertama ini sangat penting sebagai bentuk dari pujian yang ditujukan kepada Allah Swt dari umatnya. Hanya Allah lah yang maha besar dan maha menguasai sesuatu di langit maupun di bumi, untuk itu tidak ada satupun yang pantas dipuji selain-Nya.

Kita sebagai manusia tidak sepantasnya mengharap kepada selain Allah, baik dalam bentuk pujian ataupun lainnya. Hal tersebut hanya milik Allah Swt, jika manusia melakukannya niscaya akan menjadi sombong dan lupa diri.

Poin Kedua ( Takdir Allah Swt)

Segala hal yang terjadi pada manusia, tidak terjadi secara kebetulan. Semua atas kehendak dan izin Allah Swt. Jika Allah tidak berkehendak maka tidak akan terjadi, jika Allah berkehendak maka tidak ada satu pun yang dapat menghentikannya.

Syarat Pelaksanaan I’tidal

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Jim Pave

Berikut adalah beberapa syarat pelaksanaan I’tidal dikutip dari islam.nu.or.id:

  • Pertama yaitu, bangun dari rukuk tidak dimaksudkan untuk tujuan lain selain i’tidal itu sendiri. Penjelasan tentang hal ini dalam contoh kasus sebagaimana dalam hal rukuk.

  • Kedua, tuma’ninah. Pada saat melakukan i’tidal harus dibarengi dengan tuma’ninah, yaitu posisi tubuh tegak berdiri dalam keadaan diam dan tenang minimal selama bacaan kalimat tasbih subhânallâh.

  • Ketiga, i’tidal tidak dilakukan dengan berdiri dalam waktu yang lama melebihi lamanya berdiri pada saat membaca surat Al-Fatihah. Hal ini karena i’tidal merupakan rukun yang pendek sehingga tidak boleh memanjangkannya.

Keutamaan Membaca Doa I'tidal

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Masjid Pogung Dolanan

Terdapat beberapa keutamaan bacaan I’tidal yang perlu diketahui, yaitu:

Membaca bacaan i'tidal memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

  • Meningkatkan keikhlasan dalam beribadah: dengan membaca doa i'tidal, hati kita akan semakin fokus pada Allah SWT dan segala pujian hanya layak untuk-Nya.

  • Meningkatkan kekhusyukan dalam sholat: sengan melakukan i'tidal dengan benar, kita akan lebih fokus pada ibadah sholat.

  • Mendapatkan pahala: setiap amal kebaikan, termasuk membaca doa i'tidal, akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

  • Menjadi lebih dekat dengan Allah SWT: sengan senantiasa membaca doa i'tidal, hubungan kita dengan Allah SWT akan semakin erat.

  • Melatih rasa syukur: doa i'tidal mengajarkan seorang muslim untuk senantiasa bersyukur kepada Allah. Ucapan seperti “Segala puji hanya untuk-Mu” menggambarkan pengakuan atas nikmat yang telah Allah berikan.

  • Mengikuti sunah Rasulullah saw: Rasulullah saw mencontohkan bacaan doa i'tidal dalam salatnya. Mengamalkan doa ini berarti menjalankan sunah Nabi yang membawa keberkahan dan pahala.

  • Menambah kebaikan dalam salat: bacaan i'tidal mengisi momen peralihan dari rukuk ke sujud dengan bacaan yang bermakna. Hal ini menjadikan salat tidak hanya sekadar gerakan, tetapi juga penghayatan yang penuh spiritualitas.

  • Memperbaiki ubungan dengan Allah: membaca doa ini menunjukkan kecintaan dan ketergantungan seorang hamba kepada Allah. Dengan mengucapkannya, seorang muslim mempertegas pengakuan bahwa hanya Allah yang pantas dipuji.

Makna Bacaan I’tidal

Ilustrasi Doa I'tidal, Foto: Unsplash/Hasan Almasi

Makna dari bacaan I’tidal mencakup beberapa nilai spiritual yang mendalam. Berikut adalah penjelasan tentang makna di balik doa ini:

Pujian kepada Allah SWT

Bacaan i’tidal berisi pengakuan atas kebesaran Allah yang mencakup langit, bumi, dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Ucapan seperti "Rabbana wa lakal hamdu" berarti "Segala puji hanya untuk-Mu, ya Allah." Hal ini menunjukkan bahwa segala bentuk penghormatan dan rasa syukur ditujukan hanya kepada Allah SWT sebagai sumber segala nikmat.

Pengakuan atas Kekuasaan Allah

Melalui bacaan seperti mil’as-samawati wa mil’al-ardhi wa mil’a ma syi’ta min syai’in ba’du (sepenuh langit, bumi, dan segala yang Engkau kehendaki setelah itu), seorang muslim mengakui bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas. Bacaan ini mempertegas bahwa segala sesuatu ada dalam kendali-Nya.

Wujud Syukur dan Kerendahan Hati

Dengan membaca I’tidal, seorang hamba menunjukkan sikap syukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt. Selain itu, doa ini mencerminkan kerendahan hati seorang muslim yang mengakui bahwa dirinya hanyalah makhluk lemah yang bergantung pada kasih sayang dan kekuasaan Allah.

Menegaskan Keikhlasan Ibadah

Doa i’tidal mempertegas bahwa ibadah, termasuk salat, dilakukan semata-mata untuk Allah Swt. Dengan mengucapkan doa ini, seorang muslim mengingatkan dirinya sendiri bahwa setiap perbuatannya harus ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Mengingatkan Akan Keterbatasan Manusia

Doa ini juga mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan sangat membutuhkan Allah SWT. Dengan memuji kebesaran Allah, seorang hamba menyadari bahwa hidupnya tidak lepas dari pertolongan dan rahmat Allah.

Baca Juga: Doa Iftitah Pendek: Arab, Latin, dan Artinya

Doa i'tidal merupakan salah satu bacaan yang sangat penting dalam ibadah salat. Dengan memahami makna dan kandungan doa tersebut, kita akan semakin menghargai setiap gerakan dan bacaan dalam salat.

Selain itu, kita juga akan lebih khusyuk beribadah. Mari kita senantiasa melatih diri untuk membaca doa i'tidal dengan benar, sehingga ibadah salat kita menjadi lebih sempurna. (Mit)