Materi Nuzulul Quran untuk Anak SD yang Mudah Dipahami

Akun yang khusus membahas tentang doa-doa Islami
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Bacaan Doa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Materi Nuzulul Quran untuk anak SD yang mudah dipahami dapat berupa cerita sejarah tentang peristiwa ini. Karena dengan menceritakan sejarah Nuzulul Quran, anak SD diharapkan dapat lebih memahami peristiwa ini.
Nuzulul Quran adalah salah satu peristiwa yang terjadi di bulan Ramadan tepatnya tanggal 17 Ramadan. Pada hari itu, Al-Qur'an turun untuk pertama kalinya.
Materi Nuzulul Quran untuk Anak SD sebagai Referensi
Mengutip buku Mengabdi Dengan Kisah, Akhmad Romadhon dkk. (2023) Nuzulul Qur'an adalah peristiwa bersejarah karena pada waktu tersebut Al-Qur'an pertama kali diturunkan.
Peristiwa turunnya Al-Qur'an menyimpan banyak hikmah dan makna yang dapat dijadikan pelajaran untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan sehingga tepat apabila disampaikan sejak dini kepada anak SD.
Peristiwa Nuzulul Quran pertama kali turun pada tanggal 17 bulan Ramadan kepada Nabi Muhammad saw. Al-Quran diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril, dengan wahyu pertama surah Al-Alaq ayat 1-5.
Ketika wahyu surah Al-Alaq ayat 1-5 diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, beliau sedang berada di Gua Hira. Sejak peristiwa tersebut Nabi Muhammad saw pun mendapatkan gelar kerasulannya.
Materi Nuzulul Quran untuk anak SD yang mudah dipahami dapat berupa sejarah peristiwa ini. Sejarah ini dapat disampaikan saat mata pelajaran Pendidikan Agama Islam atau acara keagamaan di sekolah. Secara ringkas sejarah Nuzulul Quran adalah sebagai berikut:
Sejarah Nuzulul Quran
Pada suatu malam yang tenang, Nabi Muhammad saw masih berada di dalam gua Hira. Ia sudah beberapa hari berada disana untuk tahannuts, khalwah atau berkontemplasi.
Ketika kemudian akan keluar dari gua tersebut, tiba-tiba Malaikat Jibril menampakkan diri di hadapan Nabi Muhammad saw, dan mengatakan, "Selamat atas Anda, Muhammad".
"Aku Jibril pembawa "Suara Tuhan". Anda adalah Rasulullah, utusan Allah kepada umat ini".
Malaikat Jibril kemudian merengkuh tubuh Nabi sambil berkata, “Bacalah!”
Sementara Muhammad saw mulai ketakutan hingga gemetar kemudian menjawab, "Aku tidak bisa membaca".
"Bacalah!" ulang Jibril seraya tidak melepaskan Muhammad saw.
Nabi Muhammad saw masih mengulangi jawaban yang sama. Jibril kemudian menarik dan mendekapnya sampai menyulitkan Nabi Muhammad saw untuk bernapas.
Setelah dilepaskan, Malaikat Jibril mengulangi lagi perintahnya dan masih dijawab dengan jawaban yang sama. Pada yang keempat kalinya Muhammad saw kemudian mengucapkan kalimat suci ini:
إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantara) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al ‘Alaq, 1-5).
Begitu selesai Muhammad saw mengikuti Jibril membaca 5 ayat Iqra (Al-Qalam) tersebut, Malaikat Jibril kemudian menghilang entah ke mana. Muhammad saw masih bergeming dan merasa ketakutan.
Tubuhnya menggigil hebat. Keringat dingin mengalir deras dari pori-pori tubuhnya dan pacu jantungnya seakan berlarian. Kemudian Muhammad saw pun bergegas pulang menemui Khadijah, istrinya, dengan hati yang diliputi rasa galau, cemas dan ketakutan.
Begitu sampai di rumah, ia masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Katanya, "Selimuti aku, selimuti aku sekarang". Khadijah pun segera menyelimuti seluruh tubuh Muhammad rapat-rapat.
Setelah rasa takutnya mereda, beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya dan mengatakan, "Aku takut diriku. Aku khawatir sekali tadi".
Khadijah kemudian mengatakan dengan lembut untuk membesarkan hati suaminya:
كَلّا. أَبْشِرْ فَوَ اللهِ لَا يُخْزِيكَ اللهُ اَبَداً, وَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِى الضَّيْفَ, وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
"Tidak, sayangku. Demi Allah, Dia tidak akan pernah merendahkanmu. Engkaulah orang yang akan mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia, memikul beban penderitaan orang lain, bekerja untuk mereka yang papa, menjamu tamu dan menolong orang-orang yang menderita demi kebenaran."
Khadijah kemudian menghubungi putra pamannya, Waraqah bin Naufal. Ia adalah pengikut sekaligus seorang pendeta Nasrani dan penafsir Kitab Taurat dan Injil.
Ia juga memahami bahasa Ibrani dengan fasih. Kepada sepupunya ini, Khadijah mengatakan, "Tolong dengarkan apa yang disampaikan sepupumu". Lalu Nabi Muhammad saw mulai menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya bersama malaikat Jibril dalam gua Hira.
Waraqah sangat mengerti soal itu. Tanda-tanda kenabian yang ada pada Muhammad telah dipahami dengan baik dari sejarah para Nabi sebelum Muhammad.
Ia lalu mengatakan, "Muhammad, itulah Namus yang pernah turun kepada Nabi Musa as."
"Kau akan menjadi utusan Tuhan. Kau akan didustakan, disakiti, diusir dan dibunuh. Kalau saja aku masih muda dan kuat, aku pasti akan membelamu, manakala kaummu mengusirmu."
Rasulullah saw kemudian bertanya, "Apakah mereka akan mengusirku ?"
"Ya, dan tak ada seorang pun yang sanggup menanggung beban berat seperti yang akan kamu tanggung," jawab Waraqah.
Baca Juga: 4 Ayat Quran tentang Ikhtiar beserta Artinya
Materi Nuzulul Quran untuk anak SD yang berupa sejarah ini dapat disampaikan saat mata pelajaran Pendidikan Agama Islam atau acara keagamaan di sekolah. Semoga anak-anak SD dapat memahami peristiwa Nuzulul Quran dengan baik. (ARD)
