Konten dari Pengguna

Bermain Drum Tanpa Alat Drum: Mengenal dan Mendalami Seni Beatbox

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bachtiar Abdullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah kah kalian, mendengar lagu yang asyik, lengkap dengan dentuman bass, snare yang yang bersih di dengar, sampai simbal yang berdesau, tapi sadar kalau musisinya tampil tanpa pakai alat musik sama sekali? Ketika di lihat lebih dekat, orangnya cuma berdiri di depan mic, memejamkan mata, tapi bisa ngeluarin aransemen perkusi yang utuh pakai mulut, hidung, dan tenggorokannya doang.

Keren, bukan? Itulah dunia beatbox, seni memproduksi ketukan ritmis, suara instrumen, dan melodi menggunakan organ vokal manusia atau juga bisa disebut alat musik organik (Devi, 2022).

(sumber foto: dokumentasi pribadi penulis)
zoom-in-whitePerbesar
(sumber foto: dokumentasi pribadi penulis)

Dari Mana Sih Asalnya?

Banyak orang mengira beatbox adalah tren modern yang lahir berkat internet. Padahal, akarnya sudah tertanam kuat dalam sejarah kebudayaan hip-hop era 1980-an di New York, Amerika Serikat. Pada masa ketika alat musik mahal atau drum machine sulit diakses oleh anak-anak muda di perkotaan, mereka menggunakan tubuh mereka sendiri sebagai instrumen.

Istilah aslinya disebut human beatbox. Para pelopor awal seperti Doug E. Fresh (yang dijuluki The Human Beat Box) mempopulerkan teknik meniru suara mesin drum Roland TR-808 hanya dengan napas dan rongga mulut. Seiring berjalannya waktu, seni ini tidak lagi sekadar menjadi pelengkap musik rap, melainkan bertransformasi menjadi genre dan seni pertunjukan mandiri yang digemari lintas generasi.

Tiga Fondasi Utama: Kick, Snare, dan Hi-Hat

Bagi pemula, mendengarkan beatboxer profesional mungkin terdengar mustahil ditirukan. Padahal, seluruh kerumitan itu bermula dari tiga bunyi dasar yang sangat sederhana, yaitu Kick (B), Snare (K), dan Hi-Hat (T):

1. Kick Drum (B-Bass): Suara dentuman rendah yang berfungsi sebagai penanda ketukan dasar (biasanya dilambangkan huruf 'B' atau 'P' yang diucapkan dengan dorongan udara dari dalam dada/diafragma).

2. Snare (K): Suara tajam dan renyah yang memberi aksen ketukan (bisa menggunakan Inward Snare dengan cara menghirup udara, atau Pf Snare dengan meniupkan udara keluar melewati bibir).

3. Hi-Hat (T): Suara ketukan cepat dan desisan tipis yang menjaga tempo (biasanya menggunakan bunyi huruf 'T' atau 'Ts' secara berulang dan rapat).

Ketiga elemen inilah yang menjadi "kit drum" manual seseorang. Ketika digabungkan dengan tempo yang stabil, kombinasi sederhana ini langsung menjelma menjadi irama yang bisa mengiringi lagu apa saja.

Lebih dari Sekadar Meniru Bunyi

Seiring berkembangnya zaman, batasan dalam beatbox seolah runtuh. Para praktisi modern, yang sering disebut beatboxer, kini tidak hanya meniru bunyi drum konvensional. Mereka mulai memasukkan unsur musicality, menciptakan melodi elektronik (sering disebut singing beatbox), meniru suara goresan piringan hitam (scratching), hingga memadukan efek bass yang dalam dan menggelegar dari tenggorokan (throat bass atau chest bass).

Bahkan, komunitasnya pun kini sudah sangat luas dan terorganisir. Di Indonesia sendiri, skena beatbox tumbuh dengan subur, melahirkan banyak talenta hebat yang mampu bersuara layaknya satu band utuh seorang diri, biasa disebut akapela. Belakangan ini sudah banyak juga beatboxer yang tidak hanya terlibat di dalam skena saja untuk berkompetisi, tetapi mulai berkecimpung di industri entertainment agar beatbox bisa lebih diterima oleh publik.

Seni Tanpa Batas Ruang dan Waktu

Keindahan utama dari beatbox terletak pada fleksibilitasnya. Anda tidak perlu membawa perangkat seberat puluhan kilogram, tidak perlu repot menyetem senar, dan tidak butuh colokan listrik. Instrumen ini melekat pada diri Anda sendiri 24 jam sehari. Cukup dengan modal kreativitas, kontrol napas, dan ketekunan melatih otot-otot di sekitar mulut, siapa saja bisa mulai memainkannya di mana pun dan kapan pun.

Jadi, tertarik untuk mencoba membuat ketukan pertama Anda hari ini? Cukup rapatkan bibir, tarik napas, dan mulailah mengeksplorasi ritme dari dalam diri Anda sendiri!