Percakapan dengan Orang Asing: Mengapa Kadang Terasa Lebih Berkesan?

Mahasiswa Universitas Pamulang, Teknik Informatika
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Bagas Dwi Prasojo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Percakapan dengan orang asing yang berlangsung hanya sepuluh menit di peron stasiun sore itu tiba-tiba mengubah mood saya yang sedang berantakan. Saat itu, hujan deras mengguyur Jakarta, kereta tertahan, dan pikiran saya dipenuhi kecemasan soal pekerjaan serta ekspektasi masa depan. Seorang bapak paruh baya di sebelah saya mendadak membuka obrolan sederhana soal aroma kopi dan nostalgia masa mudanya. Momen singkat tanpa nama itu uniknya terasa jauh lebih melegakan daripada sesi curhat panjang bersama lingkaran terdekat, melibatkan dinamika psikologi yang sangat menarik.
Alasan Percakapan dengan Orang Asing Terasa Menenangkan
Pengalaman ini ternyata bukan sekadar kebetulan. Sosiolog dari Harvard University, Mario Luis Small, dalam risetnya yang dibukukan lewat Someone to Talk To, menemukan bahwa ketika seseorang berada dalam tekanan emosional, mereka justru lebih sering mencurahkan isi hati kepada weak ties atau orang tak dikenal daripada pasangan atau sahabat dekat.
Fenomena yang sering disebut strangers on a train effect ini terjadi karena interaksi tersebut berlangsung tanpa beban ekspektasi. Kita tidak perlu menjaga citra diri, tidak takut dihakimi, dan tidak khawatir rahasia kita akan memengaruhi hubungan jangka panjang. Di hadapan orang asing, kita menjadi manusia yang sepenuhnya netral.
Riset Psikologi di Balik Kehangatan Interaksi Singkat
Selain itu, studi psikologi dari University of Chicago yang dilakukan oleh Juliana Schroeder dan Nicholas Epley mengungkapkan bahwa manusia kerap keliru menilai interaksi sosial. Kita sering mengira menegur orang asing di ruang publik akan terasa canggung. Padahal, eksperimen membuktikan bahwa melakukan obrolan singkat di tempat umum justru secara signifikan meningkatkan suasana hati (well-being) dan memberikan rasa keterikatan sosial.
Di tengah gaya hidup perkotaan yang serba cepat dan individualis, ruang-ruang transit seperti busway, kedai kopi, atau ruang tunggu menjadi panggung interaksi yang organik. Kita bertemu dengan jiwa-jiwa lain yang sama-sama sedang berjuang menjalani hidup.
Pelajaran Sederhana di Tengah Riuknya Hari
Bapak di peron stasiun itu mungkin tidak akan pernah saya temui lagi. Kami tidak bertukar nomor telepon atau akun media sosial. Namun, pesan sederhananya sebelum melangkah naik ke kereta—"Pelan-pelan saja, Mas, jalan masih panjang"—tetap tersimpan rapi di ingatan saya.
Percakapan dengan orang asing membuktikan bahwa koneksi antarmanusia tidak selalu butuh durasi bertahun-tahun untuk terasa bermakna. Kadang, kita hanya butuh didengar oleh seseorang yang sama sekali tidak mengenal masa lalu kita, agar kita bisa melangkah lagi dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
