Konten dari Pengguna

Insiden M113AI TNI AD: Faktor Kondisi Alam?

Bagas Putra R

Bagas Putra R

Kata, makna, sabda Military Enthusiast

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bagas Putra R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Insiden M113AI TNI AD: Faktor Kondisi Alam?
zoom-in-whitePerbesar

Foto: M113A1 TNI AD menjajal medan sungai (Google)

Beberapa hari yang lalu salah satu unsur Alutsista TNI AD mengalami musibah kecelakaan. Kejadian itu menimpa satu unit kendaraan Armoured Personel Carrier (APC) M113A1 dari Yonmek 412/ Bharata Eka Sakti Purworejo, Jawa Tengah. Dilansir dari informasi yang dihimpun dari Kumparan, 1 unit APC M113A1 yang sedang membawa rombongan sebanyak 16 orang siswa PAUD, seorang guru dan beberapa prajurit TNI terperosok di Sungai Bogowonto, Sabtu (10/3) pukul 10.00 WIB.

Kecelakaan yang terjadi belakang markas Yonmek 412 / Bharata Eka Sakti itu terjadi di sela-sela kegiatan study tour Siswa PAUD. Kepala Penerangan Kostrad, Letkol Inf. Putra Widyawinaya kepada Kumparan memberikan keterangan penyebab tenggelamnya APC tersebut, diduga kondisi permukaan sungai yang berpasir tidak kuat menahan berat ranpur, kemudian menyebabkan permukaan amblas dan ranpur terperosok.

Seorang prajurit TNI AD dan seorang warga sipil menjadi korban meninggal dunia. Korban Prajurit TNI AD bernama Pratu Randi Suryadi, sementara korban warga sipil bernama Iswandari dan merupakan Kepala Yayasan PAUD Ananda.

Pihak Kostrad telah mengkonfirmasi untuk mengambil langkah tanggungjawab atas kejadian tersebut dan secepatnya melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab kecelakaan.

Lalu kejadian yang memilukan ini menimbulkan pertanyaan, apakah kecelakaan APC M113A1 ini memang terjadi karena faktor alam? Pastinya terdapat beragam pernyataan dan spekulasi di benak publik.

Dalam hal ini biarkan tim investigasi di jajaran Kostrad menyelidiki penyebab kecelakaan terlebih dahulu. Namun bagaimanakah sejatinya kehadiran APC M113A1 di TNI AD, seperti apakah perannya di medan perang dan apakah memiliki kemampuan sebagai kendaraan tempur ampibi.

Insiden M113AI TNI AD: Faktor Kondisi Alam? (1)
zoom-in-whitePerbesar

Foto: M113A1 TNI AD sesaat tiba dari Belgia dengan cat polos (google)

Berdasarkan Data mengenai Arms Transfers Database dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Indonesia membeli APC M113 dari Belgia tahun 2014. Kontrak yang tercantum dari paket pembelian sebanyak 150 unit M113 jenis APC dan ARV (Armoured Recovery Vehicle) dikirimkan mulai tahun 2014 sampai dengan tahun 2017.

Dilansir dari indomiliter.com, Ranpur M113 yang didatangkan merupakan hasil produksi lisensi Belgia pada tahun 1980. Oleh karena itu memiliki kode M113A1 BE (BE = Belgium). M113A1 ini masih memiliki jam operasional yang panjang, walaupun barang bekas angkatan bersenjata Belgia. Sebelum dikirim sudah mengalami retrofit, sehingga dalam kondisi layak operasional. Kemudian ranpur ini diperuntukan untuk kesatuan-kesatuan Batalion Mekanis Infantri TNI AD.

Sejarah lahirnya M113 dimulai sejak 1956 oleh perusahaan pengembangan teknologi militer Amerika Serikat, FMC Corporation. Produksi pertama dimulai pada tahun 1957. Di lingkungan Angkatan Darat AS, M113 memiliki rekam jejak yang bisa dibilang gemilang. Dirancang untuk kebutuhan mobilitas tinggi, berbobot ringan dan mudah untuk di-upgrade. Beberapa negara sekutu akhirnya memproduksi secara lisensi, seperti Belgia dengan M113A1 dan Italia dengan M113 A3 Arisgator.

Insiden M113AI TNI AD: Faktor Kondisi Alam? (2)
zoom-in-whitePerbesar

Foto: M113 dalam Vietnam War (Google)

Mengenai debutnya dalam medang perang, M113 menjadi salah satu kendaraan tempur yang battle proven. Kontribusi M113 sebagai kendaraan pengangkut prajurit infantry AD AS dalam Perang Vietnam menjadikannya memiliki posisi yang sejajar dengan helicopter UH-1 Huey yang ikonik.

Insiden M113AI TNI AD: Faktor Kondisi Alam? (3)
zoom-in-whitePerbesar

foto: M113 tahun 1961 (tanks-encyclopedia.com)

Berdasarkan sejarah pengembangannya, M113A1 TNI AD pertama kali meluncur pada 1964. Menggunakan mesin General Motors V65T Diesel dengan tenaga 275 HP. Dibekali dengan senjata SMB M2HB Browning Cal. 50 ( kaliber 12, 7 mm). Senjata ini memiliki peran sebagai bantuan serangan darat dan anti serangan udara. Dari segi proteksi, M113A1 hanya mampu menahan tembakan peluru 7, 62 mm, namun tidak dapat menahan tembakan peluru anti tank seperti RPG.

Insiden M113AI TNI AD: Faktor Kondisi Alam? (4)
zoom-in-whitePerbesar

Foto: M113A1 tahun 1964 (tanks-encyclopedia.com)

Secara normal kapasitas M113A1 diperuntukan untuk 13 personil yang terdiri dari 11 personel infantry dan dua personil awak, yaitu supir dan penembak. Untuk keluar masuk personil, terdapat pintu di bagian belakang yang digerakan secara hidrolis dan manual. Pada bagian atas juga terdapat hatch yang dapat digunakan untuk memberikan bantuan tembakan.

Sejatinya sebagai APC yang mengangkut personil infantri ke wilayah operasi, M113A1 juga memiliki kapabilitas sebagai kendaraan tempur ampibi. Namun kemampuan itu hanya sebatas mampu menyebrangi daerah sungai dan danau yang dangkal. Pada bagian depan memang terdapat pemecah ombak untuk bergerak di air. Namun untuk kondisi sungai yang berarus deras, M113A1 masih membutuhkan bantuan propeller.

Insiden M113AI TNI AD: Faktor Kondisi Alam? (5)
zoom-in-whitePerbesar

foto: M113 Arisgator, varian ampibi dari M113 (Wikimedia)

Terperosoknya ranpur M113A1 Yonmek 412 / Bharata Eka Sakti Purworejo dapat menjadi catatan bahwa tidak hanya faktor alam yang menyebabkan kecelakaan tersebut terjadi. Secara teknis, kemampuan ampibi varian M113A1 terbatas dan tidak dilengkapi perangkat tambahan yang dapat meningkatkan daya apungnya. Untuk pergerakan di air M113A1 hanya mengandalkan propulsi dari gerakan roda rantai, sehingga tidak dapat bertahan dengan kondisi permukaan sungai yang berpasir dan berarus deras.